Prinsip-prinsip Dasar Umat Baptis

Aside

3. Prinsip Keberagaman

Umat Baptis, sebagaimana kita ketahui, tidak muncul dari satu sumber atau satu orang, karena itu tidak ada gereja Baptis yang sama.  Kesamaan gereja-gereja Baptis terletak pada prinsip-prinsip yang mendasar, seperti pertobatan harus mendahului baptisan, imamat orang percaya (semua orang percaya adalah imam di hadapan Allah),  setiap orang harus mengambil keputusan pribadi mengenai imannya (prinsip kemerdekaan), dan lain-lain.  Tetapi ada perbedaan di antara gereja-gereja Baptis, bahkan dalam satu denominasi Baptis pun tidak setiap gereja Baptis persis sama, walaupun terdapat kesepakatan bersama, dalam pengakuan iman misalnya.  Karena prinsip kemerdekaan, maka Umat Baptis menghargai perbedaan pendapat.  Dengan demikian ada sebuah prinsip lagi di antara Umat Baptis yaitu Prinsip Keberagaman. Continue reading

Prinsip-prinsip Dasar Umat Baptis

2. Prinsip Kesamaan

Sebelum Umat Baptis hadir di dunia, gereja-gereja di Inggris, pada masa itu dipimpin oleh seorang imam yang dipilih oleh Raja (semacam gubernur negara bagian) atau oleh Uskup, sehingga para rohaniawan kaya, yang hidup kerohaniannya tidak baik, dapat membeli jabatan imam dengan membayar kepada Raja atau Uskup.  Semakin besar gereja, yang tentu saja semakin besar persembahan yang akan diperoleh oleh seorang imam, semakin besar “harga jual” gereja itu. Continue reading

Prinsip-prinsip Dasar Umat Baptis

Dari sekian banyak denominasi gereja, umat Baptis memiliki keunikan tersendiri dan berbeda dengan denominasi- denominasi lain.  Ada banyak  persamaan dengan gereja-gereja lain dalam kepercayaannya, seperti Allah adalah Tritunggal; Yesus Kristus adalah Allah yang menjadi manusia, menderita, disalibkan, mati dan dikuburkan, bangkit pada hari ketiga, naik ke surga dan akan datang kembali; Alkitab adalah Firman Allah; dan lain-lain   tetapi ada juga perbedaan-perbedaan dengan gereja-gereja lain.  Bahkan perbedaan-perbedaan juga terdapat di antara kelompok-kelompok Baptis.  Tetapi ada hal-hal yang dipegang sebagai Prinsip Umat Baptis.

Umat Baptis memiliki tiga prinsip dasar yang diterapkan dalam kehidupan mereka.  Prinsip-prinsip itu adalah, Kemerdekaan, Kesamaan dan Keberagaman.  Ketiga prinsip ini, diakui atau tidak, diterapkan oleh setiap denominasi Baptis Continue reading

Empat Teori Mulainya Gereja Baptis

Umat Baptis adalah umat yang unik. Kelompok ini muncul, dapat dikatakan hampir bersamaan dengan Reformasi Martin Luther bahkan sebelum Reformasi Martin Luther, cikal bakal kelompok Baptis sudah muncul di Inggris.  Berikut ini ada beberapa pendapat tentang munculnya Umat Baptis.

Teori Yerusalem-Yordan-Yohanes Pembaptis

Pada awal abad 19, sekelompok Umat Baptis membuat pernyataan bahwa Umat Baptis bermula pada pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis di Sungai Yordan.  Teori ini muncul untuk menghadapi pandangan bahwa gereja sejati memiliki kelanjutan rasuli, terutama Rasul Petrus yang dianggap sebagai Rasul yang utama.  Yang lain berpendapat bahwa Kaum Baptis adalah kelanjutan dari murid-murid Yohanes Pembaptis yang kemudian percaya kepada Yesus (Matius 11:2-10; Kisah Para Rasul 18:24-19:5).  Kesan ini timbul karena kesamaan prinsip yaitu “pertobatan harus mendahului baptisan”.  Karena Teori Yerusalem-Yordan-Yohanes Pembaptis ini terlalu dibuat-buat, walaupun ada kesamaan dalam prinsip (pertobatan harus mendahului baptisan) tidak dapat dianggap sebagai permulaan umat Baptis.

Dari Teori Yerusalem-Yordan-Yohanes Pembaptis dapat dikenali tekanan umat Baptis. Umat Baptis sangat menekankan pertobatan bukan baptisan.  Nama kelompok “Baptis” justru diberikan oleh orang-orang yang sebenarnya menentang kelompok ini. Umat Baptis mula-mula lebih senang disebut “Orang-orang yang dibaptiskan atas keputusan pribadi”

Pertanyaan-pertanyaan

  1. Apakah dasar bagi anggapan bahwa Umat Baptis bermula dari pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis?
  2. Apakah kesamaan ajaran kelompok Baptis dengan murid-murid Yohanes Pembaptis?
  3. Pelajaran penting apakah yang dapat disimpulkan dari teori Yerusalem-Yordan-Yohanes Pembaptis?

Teori Kelanjutan Kelompok Anabaptis

Pada akhir abad 19, di kalangan Umat Baptis muncul kritik terhadap Teori Yerusalem-Yordan-Yohanes Pembaptis, dan mengemukakan bahwa Gereja Baptis bermula dari kelompok Anabaptis.  Karena pandangan pembaptisan orang percaya (pembaptisan setelah pertobatan) berasal dari kelompok Anabaptis.

Pada akhir abad 15 muncul dua kelompok di Inggris yang bertujuan mengembalikan gereja kepada model gereja Perjanjian Baru.  Kelompok Separatis yang memisahkan diri dari Gereja Inggris, dan kelompok Puritan yang berusaha memurnikan gereja dari dalam.

John Smyth adalah seorang dari kelompok separatis di Inggris.  Ia berpendapat bahwa gereja haruslah terdiri dari orang-orang yang telah bertobat dan mengaku percaya dan gereja setempat dapat memilih pemimpin gereja itu sendiri, bukan pemerintah atau negara atau Uskup Agung yang memilih pemimpin gereja setempat.  Hal ini didasari oleh kepercayaan bahwa setiap orang percaya adalah imam (Imamat yang rajani). Jadi setiap orang percaya memiliki hak yang sama untuk melayani dan untuk mengambil bagian dalam memilih para pemimpin mereka.

Tekanan dari gereja resmi menyebabkan mereka melarikan diri ke Amsterdam.   Di Amsterdam mereka bertemu dangan Kaum Mennonite, kelompok Anabaptis yang didirikan oleh Menno Simons,  yang berpendapat bahwa baptisan haruslah diberlakukan bagi orang yang telah percaya (bertobat). John Smyth kemudian membaptis ulang anggota-anggotanya.  Prinsip kaum Mennonite tentang ”pertobatan harus mendahului baptisan” akhirnya menjadi prinsip Umat Baptis.

John Smyth melangkah lebih jauh, menyatakan diri bergabung dengan kelompok Mennonite, dan menganut baptisan selam tetapi Thomas Helwys dan pengikut-pengikut John Smyth lainnya menolak bergabung dengan Mennonite.  Kelompok Baptis tetap mempertahankan pembaptisan dengan cara menuangkan air di atas kepala.  Mereka akhirnya kembali ke Inggris dan berjuang untuk cita-cita mereka dan menghadapi tekanan dari gereja resmi.  Thomas Helwys sendiri dipenjara karena prinsip-prinsip yang dianutnya.  Akhrnya ia wafat dalam penjara.

Prinsip ‘pertobatan harus mendahului baptisan’ akhirnya berakar kuat dalam kehidupan Umat Baptis.  Kelompok Anabaptis sebenarnya tidak dapat dianggap sebagai cikal-bakal Umat Baptis, karena walaupun ada kesamaan dalam ajaran-ajarannya, terdapat juga perbedaan-perbedaan seperti, Anabaptis melarang anggota-anggotanya bersumpah, memasuki dinas militer dan melibatkan diri dalam politik atau pemerintahan negara, sementara Umat Baptis tidak melarang anggota-anggotanya bersumpah dan banyak anggota-anggotanya adalah tentara,  aktif dalam politik dan duduk di pemerintahan.  Mungkin lebih tepat jika dikatakan bahwa Umat Baptis adalah Saudara Kembar Kelompok Anabaptis.

Kebenaran penting dalam pelajaran ini adalah, Umat Baptis sangat menekankan pertobatan, bukan baptisan.  Umat Baptis juga berprinsip bahwa gereja haruslah terdiri dari orang-orang yang telah mengaku percaya secara pribadi (bertobat).  Orang-orang yang belum dapat percaya secara pribadi atau belum bertobat masuk dalam pelayanan gereja tetapi bukan sebagai anggota gereja.

Pertanyaan-pertanyaan

  1. Apakah penyebab Umat Baptis melarikan diri dari Inggris ke Amsterdam?
  2. Dalam perjumpaan dengan kelompok Mennonite, ajaran apakah yang diterima dan yang tidak diterima mengenai baptisan?
  3. Apakah persamaan dan perbedaan Umat Baptis dengan kelompok Anabaptis?
  4. Apakah pelajaran penting yang dapat disimpulkan dari anggapan Teori Kelanjutan Kelompok Anabaptis ini?

Teori Keturunan Kaum Puritan Inggris.

Sementara Kaum Puritan Inggris berjuang ‘memurnikan’ Gereja dari dalam,  ada kelompok puritan yang berusaha dengan menggunakan kekuatan tentara.  Kelompok-kelompok yang tidak setuju dengan cara-cara kekerasan akhirnya memisahkan diri, terutama kelompok yang menentang baptisan bayi. Dan dari kelompok inilah muncul Umat Baptis yang lain.  Kelompok Baptis yang muncul dari kelompok Separatis Inggris disebut sebagai General Baptist (Baptis Umum) sedangkan Kelompok Baptis yang keluar dari Kaum Puritan Inggris disebut Particular Baptist (Baptis Khusus).  Karena hubungan dengan kaum Mennonite, kelompok Baptis Khusus menerima baptisan selam dan hal ini kemudian diikuti juga oleh Kelompok Baptis Umum.

Umat Baptis tidak dapat dikatakan sebagai keturunan kelompok Puritan Inggris tetapi lebih tepat jika dikatakan bahwa di antara kelompok-kelompok puritan Inggris terdapat kelompok yang memiliki prinsip-prinsip Baptis yang akhirnya semakin menjadi jelas bahwa mereka berbeda dengan Kelompok Puritan yang lain.

Kebenaran penting dalam pelajaran ini adalah, Umat Baptis suka bekerja sama dengan kelompok-kelompok Kristen lain, tetapi tetap pada prinsip, bahwa pemaksaan kehendak dan kekerasan bukan cara untuk mencapai tujuan.  Juga Umat Baptis adalah ‘umat yang belajar.’  Umat Baptis siap mengubah pandangan yang salah.  Kelompok-kelompok Baptis kemudian mengakui bahwa baptisan selam adalah baptisan yang dipakai oleh Jemaat Perjanjian Baru.  Tetapi tekanan tidak terletak pada baptisan melainkan pada pertobatan.

Pertanyaan-pertanyaan

  1. Apakah Umat Baptis muncul dari satu orang atau satu sumber?
  2. Apakah penyebab Umat Baptis memisahkan diri dari kelompok puritan lain?
  3. Kebenaran penting apakah yang diterima Umat Baptis tentang baptisan?
  4. Dua pelajaran penting apakah yang dapat ditarik dari anggapan Teori Keturunan Kaum Puritan Inggris?

Teori Pengaruh Penerjemahan Alkitab

John Wyclif, seorang filsuf dan teolog, pada tahun 1378 menulis buku Kebenaran Kitab Suci.  Dengan buku ini ia menyerang gereja resmi di Inggris dan mengatakan bahwa Alkitab harus menjadi norma yang paling akhir dan tidak ada yang lain.  Alkitab harus dipakai untuk menguji gereja, tradisi, konsili dan bahkan Paus.  Pada waktu itu, Alkitab hanya dibaca oleh para “rohaniawan” sedangkan anggota-anggota gereja dilarang membaca Alkitab.  Karena penghambatan, pada tahun 1414, murid-murid John Wyclif yang disebut kaum Lollard bergerak di bawah tanah, ’mempersiapkan Inggris untuk reformasi’ dan menyebarkan Alkitab ke seluruh Inggris.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa Umat Baptis bermula dari kaum Lollard  tahun 1414, jadi lebih dahulu dari Reformasi Martin Luther, tetapi sangat lebih tepat jika dikatakan bahwa Umat Baptis muncul karena pengaruh terjemahan Alkitab yang disebarkan kaum Lollard.  Umat Baptis tidak muncul sejak tahun 1414 dan tidak juga sebagai kelanjutan kaum Lollard, tetapi pengaruh ajaran Wyclif dan kaum Lollard bahwa Alkitab adalah tolok ukur gereja menjadi dasar munculnya kelompok-kelompok Separatis dan Puritan di Inggris. Sementara Alkitab yang disebarkan secara rahasia oleh Kaum Lollard, membantu pembentukan pemahaman kelompok Baptis baik tentang Alkitab itu sendiri maupun seluruh doktrin-doktrinnya.

Kebenaran penting dalam pelajaran ini adalah, Umat Baptis sangat menekankan Alkitab sebagai tolok ukur kehidupan gereja.  Gereja Baptis tidak berpedoman pada pengalaman rohani tertentu.  Segala sesuatu harus diuji oleh Alkitab.  Bagi Umat Baptis, Alkitablah tolok ukur terakhir bukan pengakuan iman, daftar doktrin atau pengalaman rohani tertentu.  Gereja Baptis memandang pengakuan iman dan daftar doktrin hanya sebagai tafsiran dan pedoman ringkas ajaran iman, tidak lebih tinggi dari Alkitab, tidak sejajar dengan Alkitab dan tidak dapat menggantikan Alkitab.

Pertanyaan-pertanyaan

  1. Apakah pengaruh kaum Lollard terhadap Kaum Baptis?
  2. Apakah pelajaran penting yang dapat disimpulkan dari Teori Pengaruh Penerjemahan Alkitab terhadap pandangan Umat Baptis tentang Alkitab?
  3. Apakah pemahaman Umat Baptis tentang pengakuan iman dan daftar doktrin dalam hubungan dengan Alkitab?

Sejarah KGBI

(Disadur dan dilengkapi oleh Daniel H. Herman dari 7 Karakteristik Gereja Misioner oleh Ronny Welong dan dari berbagai sumber.)

logo KGBIPada tahun 1940-an, beberapa pemuda KGPM (Kerapatan Gereja Protestant Minahasa) berangkat ke Makasar untuk mengikuti Sekolah Alkitab.  Tahun 1951 KGPM melaksanakan Kongres di Sonder, Minahasa. Hari pertama kongres tersebut (16 Oktober 1951) menjadi hari terakhir dan terjadilah perpisahan karena lima alasan usulan peserta kongres (1) Pengajaran kelahiran baru (Pertobatan dan iman), (2) Pembaptisan selam bagi orang yang telah percaya, (3) Kehidupan Rohani, Bukti hidup sebagai orang percaya, (4) Ketaatan sepenuhnya pada Alkitab dan (5) Pemberitaan Injil dan penanaman gereja di suku-suku lain. Kelompok pemuda, lulusan Sekolah Alkitab Makasar, yang memang banyak berbeda dalam ajaran (terutama karena bersifat evangelical/Injili) dan cita-cita menjangkau suku-suku lain di Indonesia ini, menghendaki KGPM meninggalkan ciri kesukuan ‘Minahasa’.  Kelompok ini (14 Gereja Setempat dan 35 pendeta) memisahkan diri dan mengganti kata ‘Minahasa’ pada nama gereja KGPM dengan kata ‘Indonesia’, (KGPM menjadi KGPI).  Hari itu, 16 Oktober 1951 menjadi hari jadi KGPI/KGBI.

Tahun 1954, melalui kerja sama dengan Go Yee Fellowship (Pdt. Robert Williams) dimulailah pelayanan di Kalimantan Barat bersama dua keluarga utusan Injil yaitu keluarga Pdt. Jantje Terok dan keluarga Ibu Julien Tangkau-Umbas.  Tahun berikutnya, tepatnya Agustus 1955, KGPI memulai juga pelayanan baru di Halmahera, Maluku.  Pelayanan ini dirintis oleh Guru Injil H.A. Kasenda dan Guru Injil Daniel Lahu.  KGPI terus menambah Utusan Injil  pada tahun 1957.  Pdt. E. E. Korengkeng, Ketua Pucuk Pimpinan pada waktu itu berangkat dari Minahasa, Sulawesi Utara menjadi Utusan Injil di Kalimantan Barat.  Dan kedatangan Nona Mien Wales di Halmahera turut menambah jumlah Utusan Injil KGPI di Maluku.

Tahun 1957, Ketua Umum KGPI pada waktu itu, Pdt. E. E. Korengkeng bersama keluarga pergi sebagai misi yang diutus untuk memulai pelayanan baru di daerah Meliau, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat.  Bekerja sama dengan Missionaris Go Ye Fellowship, Pdt. Robert Williams.  Pada periode ini dimulailah Sekolah Alkitab di Kabupaten Minahasa dan Sekolah Alkitab di Halmahera (1957).

Tahun-tahun 1957 – 1961 Situasi Pelayanan mengalami kelambatan dan keterbatasan untuk berkembang karena perang saudara di Sulawesi Utara (Permesta). karena perang saudara itu juga, pelayanan Pdt. E. E. Korengkeng di Kalimantan Barat tidak dapat diteruskan.  Pdt. E. E. Korengkeng kemudian bergabung dengan GPKB (Gereja Protestan Kalimantan Barat).

Tahun-tahun 1962 – 1970 KGPI lebih fokus kepada penataan organisasi (denominasi). Sekolah Alkitab dilembagakan dan ditingkatkan menjadi Sekolah Theologia Menengah.  Para pemimpin KGPI mengutus pemuda-pemudi untuk belajar di Seminari Theologia Baptis Indonesia (STBI) di Semarang.  Di akhir era ini Pimpinan KGPI memulai Seminari Theologia KGPI di Tondano.

Tahun-tahun 1971-1990. Seminari KGPI Tondano dipindahkan ke Manado dan menjadi Sekolah Tinggi Theologia Indonesia.  Beberapa pekerja gereja melaksanakan studi lanjut di dalam dan di luar negeri  Pada periode ini, tepatnya 20 Januari 1982, dimulailah Seminari Theologia Kalimantan (sekarang Sekolah Tinggi Theologia Kalimantan) di Pontianak, Kalimantan Barat.  Kerja sama dengan Badan Misi di luar negeri, seperti CBM (CBOM, CBIM) dan IMB of SBC dalam bidang Tenaga Kerja juga dimulai dalam periode ini,

Tahun 1974 adalah awal pengiriman kembali Utusan Injil KGPI, setelah selama 18 tahun tidak melaksanakan pengutusan Injil.  Langkah ini telah menghasilkan sejumlah Utusan Injil KGPI sampai pada waktu itu, pada periode 1974 – 1988 KGPI telah memulai pelayanan baru di Gorontalo, Kalimantan Barat, Sumatera Utara dan Sulawesi Tengah.

Pada pertengahan periode ini, Kongres IX KGPI, pada tanggal 28 November sampai – 2 Desember 1979 di Manado terjadi perubahan nama KGPI menjadi KGBI (Kerapatan Gereja Baptis Indonesia).  Sebelum mengubah nama menjadi KGBI, ada situasi seperti ‘Tanda tanya besar mengenai Identitas’.  Denominasi ini menggunakan nama ‘Protestan’ tetapi melaksanakan baptisan secara selam.  Kongres Khusus KGPI 1979 memutuskan untuk menggabungkan KGPI ke dalam rumpun Gereja Baptis dan mengganti nama ‘Protestan’ menjadi ‘Baptis’ (KGPI menjadi KGBI).  Tentu saja setelah beberapa pelayan lulusan STBI Semarang telah menjadi anggota Pucuk Pimpinan KGPI.

Saat ini KGBI telah ada di 23 Provinsi di Indonesia yaitu (Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Maluku Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sumatera Utara, Riau, dan Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur).

Baca Selanjutnya…