Prinsip-prinsip Dasar Umat Baptis

Aside

3. Prinsip Keberagaman

Umat Baptis, sebagaimana kita ketahui, tidak muncul dari satu sumber atau satu orang, karena itu tidak ada gereja Baptis yang sama.  Kesamaan gereja-gereja Baptis terletak pada prinsip-prinsip yang mendasar, seperti pertobatan harus mendahului baptisan, imamat orang percaya (semua orang percaya adalah imam di hadapan Allah),  setiap orang harus mengambil keputusan pribadi mengenai imannya (prinsip kemerdekaan), dan lain-lain.  Tetapi ada perbedaan di antara gereja-gereja Baptis, bahkan dalam satu denominasi Baptis pun tidak setiap gereja Baptis persis sama, walaupun terdapat kesepakatan bersama, dalam pengakuan iman misalnya.  Karena prinsip kemerdekaan, maka Umat Baptis menghargai perbedaan pendapat.  Dengan demikian ada sebuah prinsip lagi di antara Umat Baptis yaitu Prinsip Keberagaman. Continue reading

Prinsip-prinsip Dasar Umat Baptis

2. Prinsip Kesamaan

Sebelum Umat Baptis hadir di dunia, gereja-gereja di Inggris, pada masa itu dipimpin oleh seorang imam yang dipilih oleh Raja (semacam gubernur negara bagian) atau oleh Uskup, sehingga para rohaniawan kaya, yang hidup kerohaniannya tidak baik, dapat membeli jabatan imam dengan membayar kepada Raja atau Uskup.  Semakin besar gereja, yang tentu saja semakin besar persembahan yang akan diperoleh oleh seorang imam, semakin besar “harga jual” gereja itu. Continue reading

Prinsip-prinsip Dasar Umat Baptis

Dari sekian banyak denominasi gereja, umat Baptis memiliki keunikan tersendiri dan berbeda dengan denominasi- denominasi lain.  Ada banyak  persamaan dengan gereja-gereja lain dalam kepercayaannya, seperti Allah adalah Tritunggal; Yesus Kristus adalah Allah yang menjadi manusia, menderita, disalibkan, mati dan dikuburkan, bangkit pada hari ketiga, naik ke surga dan akan datang kembali; Alkitab adalah Firman Allah; dan lain-lain   tetapi ada juga perbedaan-perbedaan dengan gereja-gereja lain.  Bahkan perbedaan-perbedaan juga terdapat di antara kelompok-kelompok Baptis.  Tetapi ada hal-hal yang dipegang sebagai Prinsip Umat Baptis.

Umat Baptis memiliki tiga prinsip dasar yang diterapkan dalam kehidupan mereka.  Prinsip-prinsip itu adalah, Kemerdekaan, Kesamaan dan Keberagaman.  Ketiga prinsip ini, diakui atau tidak, diterapkan oleh setiap denominasi Baptis Continue reading

Empat Teori Mulainya Gereja Baptis

Umat Baptis adalah umat yang unik. Kelompok ini muncul, dapat dikatakan hampir bersamaan dengan Reformasi Martin Luther bahkan sebelum Reformasi Martin Luther, cikal bakal kelompok Baptis sudah muncul di Inggris.  Berikut ini ada beberapa pendapat tentang munculnya Umat Baptis.

Teori Yerusalem-Yordan-Yohanes Pembaptis

Pada awal abad 19, sekelompok Umat Baptis membuat pernyataan bahwa Umat Baptis bermula pada pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis di Sungai Yordan.  Teori ini muncul untuk menghadapi pandangan bahwa gereja sejati memiliki kelanjutan rasuli, terutama Rasul Petrus yang dianggap sebagai Rasul yang utama.  Yang lain berpendapat bahwa Kaum Baptis adalah kelanjutan dari murid-murid Yohanes Pembaptis yang kemudian percaya kepada Yesus (Matius 11:2-10; Kisah Para Rasul 18:24-19:5).  Kesan ini timbul karena kesamaan prinsip yaitu “pertobatan harus mendahului baptisan”.  Karena Teori Yerusalem-Yordan-Yohanes Pembaptis ini terlalu dibuat-buat, walaupun ada kesamaan dalam prinsip (pertobatan harus mendahului baptisan) tidak dapat dianggap sebagai permulaan umat Baptis.

Dari Teori Yerusalem-Yordan-Yohanes Pembaptis dapat dikenali tekanan umat Baptis. Umat Baptis sangat menekankan pertobatan bukan baptisan.  Nama kelompok “Baptis” justru diberikan oleh orang-orang yang sebenarnya menentang kelompok ini. Umat Baptis mula-mula lebih senang disebut “Orang-orang yang dibaptiskan atas keputusan pribadi”

Pertanyaan-pertanyaan

  1. Apakah dasar bagi anggapan bahwa Umat Baptis bermula dari pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis?
  2. Apakah kesamaan ajaran kelompok Baptis dengan murid-murid Yohanes Pembaptis?
  3. Pelajaran penting apakah yang dapat disimpulkan dari teori Yerusalem-Yordan-Yohanes Pembaptis?

Teori Kelanjutan Kelompok Anabaptis

Pada akhir abad 19, di kalangan Umat Baptis muncul kritik terhadap Teori Yerusalem-Yordan-Yohanes Pembaptis, dan mengemukakan bahwa Gereja Baptis bermula dari kelompok Anabaptis.  Karena pandangan pembaptisan orang percaya (pembaptisan setelah pertobatan) berasal dari kelompok Anabaptis.

Pada akhir abad 15 muncul dua kelompok di Inggris yang bertujuan mengembalikan gereja kepada model gereja Perjanjian Baru.  Kelompok Separatis yang memisahkan diri dari Gereja Inggris, dan kelompok Puritan yang berusaha memurnikan gereja dari dalam.

John Smyth adalah seorang dari kelompok separatis di Inggris.  Ia berpendapat bahwa gereja haruslah terdiri dari orang-orang yang telah bertobat dan mengaku percaya dan gereja setempat dapat memilih pemimpin gereja itu sendiri, bukan pemerintah atau negara atau Uskup Agung yang memilih pemimpin gereja setempat.  Hal ini didasari oleh kepercayaan bahwa setiap orang percaya adalah imam (Imamat yang rajani). Jadi setiap orang percaya memiliki hak yang sama untuk melayani dan untuk mengambil bagian dalam memilih para pemimpin mereka.

Tekanan dari gereja resmi menyebabkan mereka melarikan diri ke Amsterdam.   Di Amsterdam mereka bertemu dangan Kaum Mennonite, kelompok Anabaptis yang didirikan oleh Menno Simons,  yang berpendapat bahwa baptisan haruslah diberlakukan bagi orang yang telah percaya (bertobat). John Smyth kemudian membaptis ulang anggota-anggotanya.  Prinsip kaum Mennonite tentang ”pertobatan harus mendahului baptisan” akhirnya menjadi prinsip Umat Baptis.

John Smyth melangkah lebih jauh, menyatakan diri bergabung dengan kelompok Mennonite, dan menganut baptisan selam tetapi Thomas Helwys dan pengikut-pengikut John Smyth lainnya menolak bergabung dengan Mennonite.  Kelompok Baptis tetap mempertahankan pembaptisan dengan cara menuangkan air di atas kepala.  Mereka akhirnya kembali ke Inggris dan berjuang untuk cita-cita mereka dan menghadapi tekanan dari gereja resmi.  Thomas Helwys sendiri dipenjara karena prinsip-prinsip yang dianutnya.  Akhrnya ia wafat dalam penjara.

Prinsip ‘pertobatan harus mendahului baptisan’ akhirnya berakar kuat dalam kehidupan Umat Baptis.  Kelompok Anabaptis sebenarnya tidak dapat dianggap sebagai cikal-bakal Umat Baptis, karena walaupun ada kesamaan dalam ajaran-ajarannya, terdapat juga perbedaan-perbedaan seperti, Anabaptis melarang anggota-anggotanya bersumpah, memasuki dinas militer dan melibatkan diri dalam politik atau pemerintahan negara, sementara Umat Baptis tidak melarang anggota-anggotanya bersumpah dan banyak anggota-anggotanya adalah tentara,  aktif dalam politik dan duduk di pemerintahan.  Mungkin lebih tepat jika dikatakan bahwa Umat Baptis adalah Saudara Kembar Kelompok Anabaptis.

Kebenaran penting dalam pelajaran ini adalah, Umat Baptis sangat menekankan pertobatan, bukan baptisan.  Umat Baptis juga berprinsip bahwa gereja haruslah terdiri dari orang-orang yang telah mengaku percaya secara pribadi (bertobat).  Orang-orang yang belum dapat percaya secara pribadi atau belum bertobat masuk dalam pelayanan gereja tetapi bukan sebagai anggota gereja.

Pertanyaan-pertanyaan

  1. Apakah penyebab Umat Baptis melarikan diri dari Inggris ke Amsterdam?
  2. Dalam perjumpaan dengan kelompok Mennonite, ajaran apakah yang diterima dan yang tidak diterima mengenai baptisan?
  3. Apakah persamaan dan perbedaan Umat Baptis dengan kelompok Anabaptis?
  4. Apakah pelajaran penting yang dapat disimpulkan dari anggapan Teori Kelanjutan Kelompok Anabaptis ini?

Teori Keturunan Kaum Puritan Inggris.

Sementara Kaum Puritan Inggris berjuang ‘memurnikan’ Gereja dari dalam,  ada kelompok puritan yang berusaha dengan menggunakan kekuatan tentara.  Kelompok-kelompok yang tidak setuju dengan cara-cara kekerasan akhirnya memisahkan diri, terutama kelompok yang menentang baptisan bayi. Dan dari kelompok inilah muncul Umat Baptis yang lain.  Kelompok Baptis yang muncul dari kelompok Separatis Inggris disebut sebagai General Baptist (Baptis Umum) sedangkan Kelompok Baptis yang keluar dari Kaum Puritan Inggris disebut Particular Baptist (Baptis Khusus).  Karena hubungan dengan kaum Mennonite, kelompok Baptis Khusus menerima baptisan selam dan hal ini kemudian diikuti juga oleh Kelompok Baptis Umum.

Umat Baptis tidak dapat dikatakan sebagai keturunan kelompok Puritan Inggris tetapi lebih tepat jika dikatakan bahwa di antara kelompok-kelompok puritan Inggris terdapat kelompok yang memiliki prinsip-prinsip Baptis yang akhirnya semakin menjadi jelas bahwa mereka berbeda dengan Kelompok Puritan yang lain.

Kebenaran penting dalam pelajaran ini adalah, Umat Baptis suka bekerja sama dengan kelompok-kelompok Kristen lain, tetapi tetap pada prinsip, bahwa pemaksaan kehendak dan kekerasan bukan cara untuk mencapai tujuan.  Juga Umat Baptis adalah ‘umat yang belajar.’  Umat Baptis siap mengubah pandangan yang salah.  Kelompok-kelompok Baptis kemudian mengakui bahwa baptisan selam adalah baptisan yang dipakai oleh Jemaat Perjanjian Baru.  Tetapi tekanan tidak terletak pada baptisan melainkan pada pertobatan.

Pertanyaan-pertanyaan

  1. Apakah Umat Baptis muncul dari satu orang atau satu sumber?
  2. Apakah penyebab Umat Baptis memisahkan diri dari kelompok puritan lain?
  3. Kebenaran penting apakah yang diterima Umat Baptis tentang baptisan?
  4. Dua pelajaran penting apakah yang dapat ditarik dari anggapan Teori Keturunan Kaum Puritan Inggris?

Teori Pengaruh Penerjemahan Alkitab

John Wyclif, seorang filsuf dan teolog, pada tahun 1378 menulis buku Kebenaran Kitab Suci.  Dengan buku ini ia menyerang gereja resmi di Inggris dan mengatakan bahwa Alkitab harus menjadi norma yang paling akhir dan tidak ada yang lain.  Alkitab harus dipakai untuk menguji gereja, tradisi, konsili dan bahkan Paus.  Pada waktu itu, Alkitab hanya dibaca oleh para “rohaniawan” sedangkan anggota-anggota gereja dilarang membaca Alkitab.  Karena penghambatan, pada tahun 1414, murid-murid John Wyclif yang disebut kaum Lollard bergerak di bawah tanah, ’mempersiapkan Inggris untuk reformasi’ dan menyebarkan Alkitab ke seluruh Inggris.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa Umat Baptis bermula dari kaum Lollard  tahun 1414, jadi lebih dahulu dari Reformasi Martin Luther, tetapi sangat lebih tepat jika dikatakan bahwa Umat Baptis muncul karena pengaruh terjemahan Alkitab yang disebarkan kaum Lollard.  Umat Baptis tidak muncul sejak tahun 1414 dan tidak juga sebagai kelanjutan kaum Lollard, tetapi pengaruh ajaran Wyclif dan kaum Lollard bahwa Alkitab adalah tolok ukur gereja menjadi dasar munculnya kelompok-kelompok Separatis dan Puritan di Inggris. Sementara Alkitab yang disebarkan secara rahasia oleh Kaum Lollard, membantu pembentukan pemahaman kelompok Baptis baik tentang Alkitab itu sendiri maupun seluruh doktrin-doktrinnya.

Kebenaran penting dalam pelajaran ini adalah, Umat Baptis sangat menekankan Alkitab sebagai tolok ukur kehidupan gereja.  Gereja Baptis tidak berpedoman pada pengalaman rohani tertentu.  Segala sesuatu harus diuji oleh Alkitab.  Bagi Umat Baptis, Alkitablah tolok ukur terakhir bukan pengakuan iman, daftar doktrin atau pengalaman rohani tertentu.  Gereja Baptis memandang pengakuan iman dan daftar doktrin hanya sebagai tafsiran dan pedoman ringkas ajaran iman, tidak lebih tinggi dari Alkitab, tidak sejajar dengan Alkitab dan tidak dapat menggantikan Alkitab.

Pertanyaan-pertanyaan

  1. Apakah pengaruh kaum Lollard terhadap Kaum Baptis?
  2. Apakah pelajaran penting yang dapat disimpulkan dari Teori Pengaruh Penerjemahan Alkitab terhadap pandangan Umat Baptis tentang Alkitab?
  3. Apakah pemahaman Umat Baptis tentang pengakuan iman dan daftar doktrin dalam hubungan dengan Alkitab?

Sejarah KGBI

(Disadur dan dilengkapi oleh Daniel H. Herman dari 7 Karakteristik Gereja Misioner oleh Ronny Welong dan dari berbagai sumber.)

logo KGBIPada tahun 1940-an, beberapa pemuda KGPM (Kerapatan Gereja Protestant Minahasa) berangkat ke Makasar untuk mengikuti Sekolah Alkitab.  Tahun 1951 KGPM melaksanakan Kongres di Sonder, Minahasa. Hari pertama kongres tersebut (16 Oktober 1951) menjadi hari terakhir dan terjadilah perpisahan karena lima alasan usulan peserta kongres (1) Pengajaran kelahiran baru (Pertobatan dan iman), (2) Pembaptisan selam bagi orang yang telah percaya, (3) Kehidupan Rohani, Bukti hidup sebagai orang percaya, (4) Ketaatan sepenuhnya pada Alkitab dan (5) Pemberitaan Injil dan penanaman gereja di suku-suku lain. Kelompok pemuda, lulusan Sekolah Alkitab Makasar, yang memang banyak berbeda dalam ajaran (terutama karena bersifat evangelical/Injili) dan cita-cita menjangkau suku-suku lain di Indonesia ini, menghendaki KGPM meninggalkan ciri kesukuan ‘Minahasa’.  Kelompok ini (14 Gereja Setempat dan 35 pendeta) memisahkan diri dan mengganti kata ‘Minahasa’ pada nama gereja KGPM dengan kata ‘Indonesia’, (KGPM menjadi KGPI).  Hari itu, 16 Oktober 1951 menjadi hari jadi KGPI/KGBI.

Tahun 1954, melalui kerja sama dengan Go Yee Fellowship (Pdt. Robert Williams) dimulailah pelayanan di Kalimantan Barat bersama dua keluarga utusan Injil yaitu keluarga Pdt. Jantje Terok dan keluarga Ibu Julien Tangkau-Umbas.  Tahun berikutnya, tepatnya Agustus 1955, KGPI memulai juga pelayanan baru di Halmahera, Maluku.  Pelayanan ini dirintis oleh Guru Injil H.A. Kasenda dan Guru Injil Daniel Lahu.  KGPI terus menambah Utusan Injil  pada tahun 1957.  Pdt. E. E. Korengkeng, Ketua Pucuk Pimpinan pada waktu itu berangkat dari Minahasa, Sulawesi Utara menjadi Utusan Injil di Kalimantan Barat.  Dan kedatangan Nona Mien Wales di Halmahera turut menambah jumlah Utusan Injil KGPI di Maluku.

Tahun 1957, Ketua Umum KGPI pada waktu itu, Pdt. E. E. Korengkeng bersama keluarga pergi sebagai misi yang diutus untuk memulai pelayanan baru di daerah Meliau, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat.  Bekerja sama dengan Missionaris Go Ye Fellowship, Pdt. Robert Williams.  Pada periode ini dimulailah Sekolah Alkitab di Kabupaten Minahasa dan Sekolah Alkitab di Halmahera (1957).

Tahun-tahun 1957 – 1961 Situasi Pelayanan mengalami kelambatan dan keterbatasan untuk berkembang karena perang saudara di Sulawesi Utara (Permesta). karena perang saudara itu juga, pelayanan Pdt. E. E. Korengkeng di Kalimantan Barat tidak dapat diteruskan.  Pdt. E. E. Korengkeng kemudian bergabung dengan GPKB (Gereja Protestan Kalimantan Barat).

Tahun-tahun 1962 – 1970 KGPI lebih fokus kepada penataan organisasi (denominasi). Sekolah Alkitab dilembagakan dan ditingkatkan menjadi Sekolah Theologia Menengah.  Para pemimpin KGPI mengutus pemuda-pemudi untuk belajar di Seminari Theologia Baptis Indonesia (STBI) di Semarang.  Di akhir era ini Pimpinan KGPI memulai Seminari Theologia KGPI di Tondano.

Tahun-tahun 1971-1990. Seminari KGPI Tondano dipindahkan ke Manado dan menjadi Sekolah Tinggi Theologia Indonesia.  Beberapa pekerja gereja melaksanakan studi lanjut di dalam dan di luar negeri  Pada periode ini, tepatnya 20 Januari 1982, dimulailah Seminari Theologia Kalimantan (sekarang Sekolah Tinggi Theologia Kalimantan) di Pontianak, Kalimantan Barat.  Kerja sama dengan Badan Misi di luar negeri, seperti CBM (CBOM, CBIM) dan IMB of SBC dalam bidang Tenaga Kerja juga dimulai dalam periode ini,

Tahun 1974 adalah awal pengiriman kembali Utusan Injil KGPI, setelah selama 18 tahun tidak melaksanakan pengutusan Injil.  Langkah ini telah menghasilkan sejumlah Utusan Injil KGPI sampai pada waktu itu, pada periode 1974 – 1988 KGPI telah memulai pelayanan baru di Gorontalo, Kalimantan Barat, Sumatera Utara dan Sulawesi Tengah.

Pada pertengahan periode ini, Kongres IX KGPI, pada tanggal 28 November sampai – 2 Desember 1979 di Manado terjadi perubahan nama KGPI menjadi KGBI (Kerapatan Gereja Baptis Indonesia).  Sebelum mengubah nama menjadi KGBI, ada situasi seperti ‘Tanda tanya besar mengenai Identitas’.  Denominasi ini menggunakan nama ‘Protestan’ tetapi melaksanakan baptisan secara selam.  Kongres Khusus KGPI 1979 memutuskan untuk menggabungkan KGPI ke dalam rumpun Gereja Baptis dan mengganti nama ‘Protestan’ menjadi ‘Baptis’ (KGPI menjadi KGBI).  Tentu saja setelah beberapa pelayan lulusan STBI Semarang telah menjadi anggota Pucuk Pimpinan KGPI.

Saat ini KGBI telah ada di 23 Provinsi di Indonesia yaitu (Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Maluku Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sumatera Utara, Riau, dan Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur).

Baca Selanjutnya…

“Berbuah” vs “Tidak Berbuah” (2)

“Berbuah” versus “Tidak Berbuah”(2)
(Revisi pertama 12 Februari 2014)
 Baca artikel sebelumnya “Berbuah” vs “Tidak Berbuah” (1)

Setelah kita membahas tentang makna “tidak berbuah” dalam bagian pertama pembahasan ini, kita akan mencari makna kata “berbuah” melalui hubungan-hubungan kata tersebut dengan kata-kata di sekitarnya kemudian mencari makna dalam konteks, juga dalam situasi Yesus dan dalam situasi penerima pertama Injil ini.  Kemudian kita akan memikirkan penerapannya pada situasi kita saat ini.

Continue reading

“Berbuah” vs “Tidak Berbuah” (1)

“Berbuah” versus “Tidak Berbuah”(Bagian I)
Lihat bagian sebelumnya “Tinggal” vs “Tidak Tinggal” atau berikutnya “Berbuah” vs “Tidak Berbuah” (2)
2 Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah….4 Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.  5 Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.
Bagian ini sangat menarik untuk dibahas karena banyaknya penafsiran yang berbeda.  Sebuah penafsiran menjelaskan bahwa buah yang dimaksud dalam ajaran ini adalah buah Roh sesuai dengan Galatia 5:22-23, yang lain menjelaskan bahwa buah yang dimaksud adalah jiwa-jiwa baru, sangat misioner.  Kedua penafsiran ini sangat jauh dari situasi Yesus ketika Ia berbicara tentang Pokok Anggur.  Kita tahu bahwa situasi Yesus adalah penolakan pemimpin-pemimpin Yahudi. Yesus juga tahu salib sedang menunggunya.  Jika kita hubungkan kata “buah” dengan situasi Yesus apakah artinya?  Apakah kepentingan “berbuah” dalam situasi Yesus saat itu?

Sebagai awal dari penelitian ini, mari kita melihat hubungan “buah” dengan kata-kata di sekitarnya.  Pertama-tama kita akan melihat hubungan-hubungan terhadap kata “tidak berbuah”.  Kita mulai dari ayat 2 yang menjelaskan bahwa ranting yang “tidak berbuah” akan dipotong (baca juga penjelasan pada bagian kedua).  Jadi dalam ayat ini “tidak berbuah” berhubungan langsung dengan “akibat” dari tidak berbuah yaitu “dipotong keluar” dari Pokok Anggur.  Ayat ini khusus berbicara tentang Yudas Iskariot, tetapi kita dapat memahami makna “tidak berbuah” sebagai “tidak percaya” kepada Yesus yang mengakibatkan Yudas Iskariot “dipotong keluar”.  Kata lain yang dapat dipakai untuk menjelaskan hal ini adalah, Yudas tidak mengalami pertobatan yang sesungguhnya.  Inilah kesimpulan awal makna “tidak berbuah” yaitu “tidak mengalami pertobatan yang sesungguhnya”.  Kesimpulan sementara ini akan lebih berkembang lagi setelah kita meneliti ayat-ayat lain. 

Ayat berikut yang menjelaskan “tidak berbuah” adalah ayat 4
“,…. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku,…”   
Ayat ini menjelaskan tentang keadaan “tidak berbuah”.  Yesus menghubungkan kata “tidak berbuah” dengan  “tidak tinggal” di dalam Yesus.
Ayat
Sebab
Akibat
2
Tidak berbuah
Dipotong keluar
4
Tidak tinggal
Tidak berbuah

Dari pembahasan singkat yang telah kita lakukan, kita melihat dua hal yang berbeda.  Pertama, dalam ayat 2, “tidak berbuah” menjadi sebab “dipotong” dari Pokok Anggur.  Sementara kondisi kedua, “tidak berbuah” adalah akibat “tidak tinggal” dalam Yesus.  Telah kita bahas bahwa ayat 2 berbicara tentang Yudas Iskariot, tetapi kita dapat memahami makna “tidak berbuah” sebagai “tidak percaya” kepada Yesus yang mengakibatkan Yudas Iskariot “dipotong keluar”  Kata lain yang dapat dipakai untuk menjelaskan hal ini adalah, Yudas tidak mengalami pertobatan yang sesungguhnya.  Inilah kesimpulan awal makna “tidak berbuah” yaitu “tidak mengalami pertobatan yang sesungguhnya”.  Kesimpulan sementara ini akan lebih berkembang lagi setelah kita meneliti ayat-ayat lain.

Kita melihat hal lain yang melengkapi penjelasan tentang “tidak tinggal” dalam ayat 5 “sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Penjelasan  ini memberi kita sebuah tambahan informasi yang melengkapi pemahaman kita tentang ungkapan “tidak berbuah”.  Ungkapan dalam ayat 5 “sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa,…” memberi penjelasan bahwa “tidak berbuah” (karena keadaan “tidak tinggal” atau “di luar” Pokok Anggur) sejajar dengan “tidak dapat berbuat apa-apa.”
Pada ayat 5 ada tambahan “akibat” dari kondisi “tidak tinggal” yaitu “tidak dapat berbuat apa-apa”.  Jika “apa-apa” memiliki arti yang tertentu dan pasti maka pernyataan tersebut berarti “tidak dapat melakukan sesuatu yang tertentu”.  Kecuali jika “apa-apa” berarti “segala sesuatu” maka “tidak tinggal” mengakibatkan “tidak dapat melakukan segala sesuatu” yang berhubungan dengan penolakan terhadap Yesus.  Tetapi jika penolakan terhadap Yesus mengakibatkan “tidak dapat berbuat apa-apa” maka kebalikannya menerima Yesus berakibat “dapat melakukan sesuatu atau segala sesuatu”.
Sebuah ayat lagi yang berhubungan dengan penjelasan ini, ayat 6.  “Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.”  Ayat ini tidak memuat kata “tidak berbuah”  tetapi pernyataan “tidak tinggal” berhubungan langsung dengan ayat 4 dan 5 dan melalui pernyataan ini kita dapat melihat kesejajaran makna “tidak berbuah”.
Melalui ayat-ayat ini kita melihat bahwa “tidak tinggal” akan mengakibatkan “tidak berbuah” dan “tidak dapat berbuat apa-apa” kemudian pernyataan tentang “akibat” bertambah “dibuang ke luar, menjadi kering, dicampakkan ke dalam api lalu dibakar” perhatikan bagan ini.
Ayat
Sebab
Akibat
4
Tidak tinggal
Tidak berbuah
5
Tidak dapat berbuat apa-apa
6
Dibuang keluar, menjadi kering, dicampakkan ke dalam api, dibakar

 

 Kita tahu bahwa sesuai dengan situasi Yesus, “tidak tinggal” dalam Yesus berarti tidak menerima, tidak percaya dan menolak Yesus (seperti dijelaskan dalam bagian kedua).  Penolakan ini sudah diungkapkan oleh Yohanes sejak awal dalam pendahuluan Injilnya.  Sangat jelas bahwa “tidak tinggal” dan “tinggal” dalam Yesus berarti dua kondisi yang saling bertolak belakang.   “Tidak tinggal” dalam Yesus berarti penolakan terhadap Yesus (lihat pembahasan bagian ketiga) dan “tidak berbuah” akan terjadi jika “tidak tinggal di dalam Yesus”.  Dengan kata lain, tidak akan ada buah jika menolak Yesus. Seolah menjelaskan bahwa “berbuah” hanya akan terjadi KARENA seseorang “tinggal” (percaya dan menerima) Yesus.
Akibat-akibat serupa yang juga berhubungan dengan “tidak berbuah” adalah, “tidak dapat berbuat apa-apa” dan “dibuang keluar, menjadi kering, dicampakkan ke dalam api dan dibakar”.  Semua itu merupakan akibat “tidak tinggal” di dalam Yesus.  Lantas apakah makna ungkapan “tidak berbuah”?  Mengingat “tidak berbuah” disejajarkan dengan “tidak dapat berbuat apa-apa” dan dengan penghukuman “dibuang keluar, menjadi kering, dicampakkan ke dalam api dan dibakar” sebagai akibat “tidak tinggal” dalam Yesus, maka “tidak berbuah” haruslah berarti akibat yang terjadi karena menolak Yesus.  Jika “tidak berbuah” dalam ayat 2 berarti “tidak mengalami pertobatan yang sesungguhnya” yang mengakibatkan “dipotong keluar” maka pernyataan “tidak berbuah” sebagai akibat “tidak tinggal” dalam Yesus (ayat 4, 5 dan 6) memiliki makna yang berbeda dan harus berarti “sesuatu yang tidak dihasilkan oleh orang yang tidak percaya Yesus”.  Tentu saja akan ada makna yang bermacam-macam jika kita tidak memerhatikan situasi Yesus. Oleh karena itu situasi Yesuslah yang menentukan makna “tidak berbuah” dalam pengajaran-Nya.
Seperti yang kita ketahui, murid-murid Yesus adalah orang-orang Yahudi, berpikir sebagai orang Yahudi dan dipengaruhi oleh Perjanjian Lama.  Dan karena pemahaman mereka tentang Pohon Anggur sebagai lambang bangsa Israel, berasal dari Perjanjian Lama, maka makna “berbuah” harus juga dipahami berdasarkan maknanya dalam Perjanjian Lama. Beberapa ayat dalam Perjanjian Lama menjelaskan tentang pohon anggur dan buah yang dicari Allah dari Pohon Anggur Israel.  Perhatikan ayat-ayat berikut,
4 Apatah lagi yang harus diperbuat untuk kebun anggur-Ku itu, yang belum Kuperbuat kepadanya? Aku menanti supaya dihasilkannya buah anggur yang baik, mengapa yang dihasilkannya hanya buah anggur yang asam……………………………………………………………………………………….
7 Sebab kebun anggur TUHAN semesta alam ialah kaum Israel, dan orang Yehuda ialah tanam-tanaman kegemaran-Nya; dinanti-Nya keadilan, tetapi hanya ada kelaliman, dinanti-Nya kebenaran tetapi hanya ada keonaran. (Yesaya 5: 4, 7)
Israel adalah pohon anggur yang riap tumbuhnya, yang menghasilkan buah. Makin banyak buahnya, makin banyak dibuatnya mezbah-mezbah. Makin baik tanahnya, makin baik dibuatnya tugu-tugu berhala. (Hosea 10:1)
Ayat-ayat Perjanjian Lama ini menjelaskan tentang buah yang dinantikan Allah dari Israel dan Yehuda.  Tetapi buah yang dinantikan tersebut tidak ada.  Yang ada justru hal-hal yang dibenci Allah, yaitu yang disebut “anggur yang asam” (Yesaya 5:2 dan 4), dalam Yesaya 5:7 disebutkan “,…dinanti-Nya keadilan, tetapi hanya ada kelaliman, dinanti-Nya kebenaran tetapi hanya ada keonaran.”  Sementara Hosea 10:1 menjelaskan “,…Makin banyak buahnya, makin banyak dibuatnya mezbah-mezbah. Makin baik tanahnya, makin baik dibuatnya tugu-tugu berhala.”  Terlihat dalam Yesaya 5:7 bahwa Allah mencari “keadilan” dan “kebenaran” tetapi yang ditemukan Allah adalah “kelaliman” dan “keonaran”. “Mezbah-mezbah” dan “tugu-tugu berhala”, menunjukkan hal-hal yang dibenci Allah.
Kesamaan dengan Yohanes 15:1-8 adalah Allah disebutkan sebagai Pengusaha kebun anggur yang mengharapkan buah anggur yang baik.  Tetapi buah anggur yang diharapkan tidak ditemukan-Nya.  Kesamaan lainnya adalah pohon anggur adalah seluruh kaum Israel.  Yohanes 15:1 menekankan bahwa Yesuslah Pokok dari pohon anggur Israel tersebut dan Bapa sebagai Pengusahanya.  “Buah” yang dinantikan sang Pengusaha adalah keadilan dan kebenaran, sedangkan “kelaliman” dan “keonaran”, “Mezbah-mezbah” dan “tugu-tugu berhala”  adalah hasil dari penolakan terhadap Allah.  Penolakan ini memiliki kesamaan dengan Yohanes 15, yaitu penolakan terhadap Pokok dari pohon anggur sejati yang diutus-Nya.
Sampai pada pemahaman ini, kita dapat menarik kesimpulan mengenai makna “tidak berbuah”.  Tidak berbuah terjadi sebagai akibat “tidak tinggal” pada Yesus, Pokok Anggur Israel.  “Tidak berbuah” juga disamakan dengan “tidak dapat berbuat apa-apa” dan tidak berbuah juga, sebagai akibat dari tidak tinggal, akan mengalami akibat lainnya yaitu “dibuang keluar, menjadi kering, dicampakkan ke dalam api dan dibakar”.
Kemudian dalam hubungan dengan Perjanjian Lama buah adalah hal yang dicari Allah.  Allah sang Pengusaha mencari “buah anggur yang baik” itulah yang ada dalam pemikiran kesebelas murid-Nya, tetapi yang ditemukan adalah “buah anggur asam” Allah mencari “keadilan dan kebenaran” tetapi yang didapati adalah “kelaliman dan keonaran” semua itu adalah hal-hal yang dibenci Allah.

Jadi apakah kesimpulan umum tentang “tidak berbuah”?  Sebagai kesimpulan awal dan sementara dapat kita rumuskan bahwa “tidak berbuah” berarti “tidak menghasilkan kehidupan yang sesuai dengan kehendak Allah” yang diakibatkan oleh “tidak tinggal” dalam Yesus, atau tidak percaya, tidak menerima dan menolak Yesus, Sang Pokok Anggur Israel.

Pdt. Daniel H. Herman, M.Th. Saat ini mengajar di STT Kalimantan pada mata kuliah-mata kuliah:
– Kehidupan Tuhan Yesus
– Bahasa Yunani Perjanjian Baru I dan II
– Eksposisi Perjanjian Baru I dan II
– Eksposisi Markus
– Perumpamaan-perumpamaan Yesus


Keyword:
Alkitab, Perjanjian Baru, Teologi, Theologia, Teologi Perjanjian Baru, Theologia Perjanjian Baru, Injil, Tafsiran Injil, Injil menurut Yohanes, Theologia Yohanes, Teologi Yohanes, Tafsiran Yohanes 15, Yohanes 15, Pokok Anggur yang Benar, Israel Sejati, Israel, Yesus, Ajaran Yesus, Pengajaran Yesus, Pemuridan, Murid Yesus, Murid Kristus, Gereja, Sejarah Gereja, Bapa-bapa Gereja, Gereja Purba, Gereja Mula-mula, Umat Allah, Ahli Kitab, Dogma Kristen, Gereja Kristen, Teologi Kristen, Theologia Kristen, Tafsiran Alkitab, Iman, Iman Kristen, Pengakuan Iman, Pengakuan Iman Kristen, Sejarah Theologia, Sejarah Teologi, Kristologi, Kristologi Yohanes, murtad, pemurtadan, Teologi Biblika, Theologia Biblika, Teologi Alkitabiah, Theologia Alkitabiah, Kristus, Mesias, Mesias Israel, Yehuwa, Yahweh, YHWH, Raja Israel, Kepala Gereja, Gereja Kristus, Yahudi, Yahudi Sejati, Yahudi Mesianis, Salib, Paskah, Getsemani, Anak Daud, Keturunan Daud, Putera Daud, Putra Daud, Anak Allah, Allah Anak, Keturunan Abraham, Berkat Abraham, Isa, Almasih, Bintang Daud, Yesus Kristus, Al Masih, Kristus Yesus, Tuhan Yesus, Trinitas, Trinitarian, Trinitariansm, Tritunggal, Unitarian, Unitarianisme, Bible, New Testament, Theology, New Testament Theology, Gospel, Gospel Commentary, Gospel According to John, Joannine Theology, John 15, John 15 Commentary, True Vine, True Israel, Jesus, Jesus Teaching, Discipleship, Disciple of Jesus, Disciple of Christ, Church, Church History, Church Fathers, Ancient Church, People of God, People of the Book, Christian Dogma, Christian Church, Christian Theology, Biblical Commentary, Faith, Christian Faith, Christian Confession, History of Theology, Christology, Joannine Christology, Apostasy, Biblical Theology, Christ, Messiah, Messiah of Israel, Jehovah, King of Israel, Head of the Church, Church of Christ, Jews, True Jews, Messianic Jews, Cross, Pass Over, Gethsemane, Son of David, Decendant of David, Son of God, God Son, Decendant of Abraham, Bless of Abraham, Star of David, Jesus Christ, Mashiach.  Christ Jesus, Lord Jesus, Trinity, Holy Trinity, Unitarian, Unitarianism, Trinitarian, Trinitarianism

“Tinggal” vs “Tidak Tinggal”

“Tinggal” versus “Tidak Tinggal”

(Yohanes 15:4-7)

4 Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.  5 Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. 6 Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. 7 Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.(Yoh 15:4-7)

Saya mencoba membaca beberapa buku dan posting tentang empat ayat ini, saya temukan ada beberapa tafsiran yang dibuat atas ayat-ayat tersebut.  Ada yang menjelaskan bahwa ayat-ayat ini berbicara mengenai dua macam gereja, gereja sejati dan gereja palsu.  Gereja sejati adalah gereja yang sukses membangun jemaat dan bertumbuh dalam Kristus. Gereja palsu ialah gereja yang memakai Tuhan sebagai manipulasi kondisi untuk sekadar memenuhi keinginan diri tapi kelihatan seperti orang Kristen.  Gereja ini mengalami banyak kegagalan.  Penganut Teologi sukses ini memvonis sebuah gereja sebagai gereja palsu hanya karena kegagalan.  Yang lain berkata, bahwa ayat-ayat ini sedang membicarakan persekutuan yang menghasilkan jawaban atas doa.  Ada kuasa doa dalam persekutuan dengan Yesus.  Terdengar begitu rohani dan diperlukan banyak orang!  Sementara yang lain menafsirkan sebagai usaha-usaha penginjilan yang berhasil bila ada hubungan dengan Yesus. Sangat misioner.  Tetapi apakah itu yang ada dalam pikiran Yesus dan murid –muridnya ketika ia mengatakan kiasan ini?

Yesus menyebut dirinya “Akulah pokok Anggur,..” dan dilanjutkan “,…kamulah ranting-rantingnya.”  Kembali kita melihat situasi Yesus, penolakan pemimpin-pemimpin Yahudi sudah mencapai puncaknya.  Murid-murid tahu bahwa Yesus menghadapi penolakan-penolakan. Para pemimpin Yahudi telah merencanakan untuk membunuh Yesus. Sementara para pembaca pertama sedang mengalami intimidasi dan penganiayaan dari pihak orang-orang Yahudi.  Situasi-situasi inilah yang akan menentukan makna ayat-ayat ini.  Ketika Yesus berkata “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya” (ayat 5) Yesus bermaksud mengatakan, “Akulah pokok Israel dan kamulah Israel.”  Hal ini sangat jelas bagi mereka.  Dalam pikiran Yesus dan murid-murid, mereka sedang membicarakan tentang Israel, Israel yang benar, Israel yang dipulihkan.

Jika kita meninjau seluruh Injil Yohanes, maka kita akan menemukan konflik-konflik dalam setiap bagian.  Dalam pasal 1, kata dapati ayat yang menyatakan

 Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya.  Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya.   Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; (Yoh 1:10-12)

Dalam pasal pertama kita Injil ini membaca ada dua konflik.  Pertama, dunia yang diciptakan tidak mengenal penciptanya.  Sebuah lingkup yang luas tetapi ayat berikutnya menjelaskan lingkup yang lebih kecil, Israel, yaitu orang-orang kepunyaan-Nya yang tidak menerima-Nya. Penolakan kedua ini menandakan konflik Yesus dengan orang Israel.

Perhatian ungkapan “,…tidak menerima-Nya” (ayat 11) dan “tetapi,… menerima-Nya” (ayat 12) adalah gambaran keseluruhan Injil Yohanes.  Kita tahu bahwa Yohanes pasal 1 adalah Pendahuluan bagi seluruh Injil Yohanes.  Pendahuluan ini menjelaskan bahwa ada orang Israel  yang menerima-Nya tetapi ada orang Israel yang tidak menerima-Nya.  Dan ungkapan ini juga menggema dalam Yohanes pasal 15

“,…kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.” (ayat 4)”… Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar,…” (ayat 6).

Ayat 4 menghubungkan kata “tidak tinggal” dengan “tidak berbuah” sedangkan ayat 6 menghubungkan kata “tidak tinggal” dengan dibuang keluar,… dicampakkan ke dalam api,… dibakar.  Hal ini jelas melambangkan penghukuman bagi setiap orang Israel yang menolak Yesus, Pokok dari Pohon Anggur Israel.

Sebaliknya, pernyataan Yesus, “tinggallah di dalam Aku dan aku di dalam kamu” menjelaskan sesuatu yang berbeda.  Dalam bahasa Yunani dikatakan “μείνατε ἐν ἐμοί, κἀγὼ ἐν ὑμῖν.” (meinate en emoi, kago en humin).  Kata “tinggallah” (meinate) adalah sebuah kata kerja perintah aoris (aorist imperative verb).  Dalam bahasa Yunani ada dua aspek imperative yaitucontinous imperative (menggunakan present imperative) dan undefined imperative (menggunakan aorist imperative).  Kata “tinggallah” dalam ayat 4 menggunakan bentuk aorist.  Dan ini berarti sebuah undefined action, bukancontinous actionUndefined imperative berarti sesuatu yang sedang dilakukan  dan diharapkan untuk terus dilakukan.  Jadi bukan sesuatu yang belum dilakukan dan diperintahkan untuk mulai dilakukan.

Ayat-ayat ini tidak berbicara tentang gereja sejati dan gereja palsu, karena Yesus tidak sedang membicarakan gereja tetapi penolakan orang-orang Yahudi dan orang-orang yang tidak menolak Dia.  Yesus sedang menuju Getsemani.  Tempat dimana Dia berdoa, ““Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” (Mat 26:39)” jadi tidak mungkin Yesus sedang memikirkan hal lain selain penolakan-penolakan dan penerimaan orang-orang Yahudi terhadap-Nya. Yesus sedang menguatkan murid-murid-Nya bahwa Dialah Pokok Israel yang sedang mereka nanti-nantikan.

“Tinggallah di dalam Aku” berarti “tetaplah di dalam iman” kepada-Nya.  Satu hal yang perlu dipahami adalah Roh Kudus belum dicurahkan.  Dan murid-murid belum didiami Roh Kudus, karena itu, kesetiaan kepada Yesus menjadi hal yang penting.  Ajakan ini juga ditujukan kepada para penerima Injil ini, yaitu para pembaca pertama yang menjadi tujuan penulisan Injil ini.  Orang-orang Yahudi Kristen yang sedang mengalami intimidasi dan penganiayaan dari orang-orang Yahudi yang tidak percaya.  Orang Yahudi yang tidak percaya mungkin berkata, “jika kamu tidak kembali kepada agama Yahudi, kamu telah tersesat dan bukan lagi umat Allah, itu berarti kamu adalah musuh kami”
Tinggal di dalam Yesus berarti “menjadi Israel Sejati” karena Yesuslah Pokok dari Pohon Anggur Israel.  Di luar Yesus, orang-orang Yahudi yang tidak percaya tidak termasuk Israel S

Klik di sini untuk langsung ke bagian Sejati

Pdt. Daniel H. Herman, M.Th. Saat ini mengajar di STT Kalimantan pada mata kuliah-mata kuliah:
– Kehidupan Tuhan Yesus
– Bahasa Yunani Perjanjian Baru I dan II
– Eksposisi Perjanjian Baru I dan II
– Eksposisi Markus
– Perumpamaan-perumpamaan Yesus 

Keyword:

Alkitab, Perjanjian Baru, Teologi, Theologia, Teologi Perjanjian Baru, Theologia Perjanjian Baru, Injil, Tafsiran Injil, Injil menurut Yohanes, Theologia Yohanes, Teologi Yohanes, Tafsiran Yohanes 15, Yohanes 15, Pokok Anggur yang Benar, Israel Sejati, Israel, Yesus, Ajaran Yesus, Pengajaran Yesus, Pemuridan, Murid Yesus, Murid Kristus, Gereja, Sejarah Gereja, Bapa-bapa Gereja, Gereja Purba, Gereja Mula-mula, Umat Allah, Ahli Kitab, Dogma Kristen, Gereja Kristen, Teologi Kristen, Theologia Kristen, Tafsiran Alkitab, Iman, Iman Kristen, Pengakuan Iman, Pengakuan Iman Kristen, Sejarah Theologia, Sejarah Teologi, Kristologi, Kristologi Yohanes, murtad, pemurtadan, Teologi Biblika, Theologia Biblika, Teologi Alkitabiah, Theologia Alkitabiah, Kristus, Mesias, Mesias Israel, Yehuwa, Yahweh, YHWH, Raja Israel, Kepala Gereja, Gereja Kristus, Yahudi, Yahudi Sejati, Yahudi Mesianis, Salib, Paskah, Getsemani, Anak Daud, Keturunan Daud, Putera Daud, Putra Daud, Anak Allah, Allah Anak, Keturunan Abraham, Berkat Abraham, Isa, Almasih, Bintang Daud, Yesus Kristus, Al Masih, Kristus Yesus, Tuhan Yesus, Trinitas, Trinitarian, Trinitariansm, Tritunggal, Unitarian, Unitarianisme, Bible, New Testament, Theology, New Testament Theology, Gospel, Gospel Commentary, Gospel According to John, Joannine Theology, John 15, John 15 Commentary, True Vine, True Israel, Jesus, Jesus Teaching, Discipleship, Disciple of Jesus, Disciple of Christ, Church, Church History, Church Fathers, Ancient Church, People of God, People of the Book, Christian Dogma, Christian Church, Christian Theology, Biblical Commentary, Faith, Christian Faith, Christian Confession, History of Theology, Christology, Joannine Christology, Apostasy, Biblical Theology, Christ, Messiah, Messiah of Israel, Jehovah, King of Israel, Head of the Church, Church of Christ, Jews, True Jews, Messianic Jews, Cross, Pass Over, Gethsemane, Son of David, Decendant of David, Son of God, God Son, Decendant of Abraham, Bless of Abraham, Star of David, Jesus Christ, Mashiach.  Christ Jesus, Lord Jesus, Trinity, Holy Trinity, Unitarian, Unitarianism, Trinitarian, Trinitarianism

“Dipotong” dan “Dibuang Keluar”

 Dipotong, Dibuang Keluar (15:2, 6)
Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.  (15:2)
Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.  (15:6)

Kedua ayat ini telah menjadi kontroversi di banyak kalangan dalam gereja.  Banyak pengkhotbah mengulas ayat-ayat ini menurut versi mereka, tentu saja ada banyak penafsiran yang muncul tentang kedua ayat tersebut.  Beberapa penafsir menjelaskan bahwa ayat-ayat ini berbicara mengenai orang Kristen yang murtad.  Para penganut dogma “keselamatan yang tidak bisa hilang” menyatakan bahwa ayat-ayat ini tidak membicarakan tentang murtad, dan mencari tafsiran yang “sesuai” dengan dogma mereka.

Ada yang menafsirkan bahwa ayat 2 berbicara tentang orang Kristen yang tidak berbuah dan akan “dipotong” dari gereja.  Ini bisa berarti akan keluar dengan sendirinya ataupun akan dikeluarkan oleh gereja (disiplin/siasat gereja).  Ada juga yang menafsirkan “ranting yang dipotong” sebagai orang Kristen KTP.  Yang lain berkata ini adalah premature death kematian prematur, maksudnya orang Kristen yang tidak berbuah akan “dipanggil pulang ke Surga” karena sudah tidak berguna lagi bagi gereja. Penafsiran yang lebih humanis menyatakan bahwa setiap orang Kristen harus siap “dipotong” dan “dibersihkan”. Maksudnya orang Kristen harus siap untuk diproses oleh Allah dengan cara Allah yaitu membuang (“memotong”) dosa-dosa, kebiasaan-kebiasaan dan karakter yang tidak menyenangkan Allah serta siap untuk dibentuk (dibersihkan) oleh Allah menjadi pribadi yang menghasilkan buah bagi Allah.

The Greco-Roman World of the New Testament Era: Exploring the Background of Early Christianity

 

 Banyaknya penafsiran terhadap ayat-ayat ini menunjukkan penggunaan hermeneutik yang keliru atau penggunaan metode yang salah.  Kekeliruan mereka adalah memasukkan arti ke dalam teks (eisegesis) bukan mencari arti dari dalam teks (eksegesis).  Kembali ke situasi Yesus adalah cara yang paling tepat untuk menafsirkan ayat-ayat ini.  Tidak mungkin ada banyak penafsiran yang benar atau dapat dibenarkan.  Ketika Yesus memberikan ajaran ini, Ia hanya memiliki satu maksud saja, tidak ada multi-purpose (tujuan yang serbaguna) yang dapat digunakan untuk banyak maksud dalam satu ayat saja.

Kita akan membahas satu per satu kedua ayat tersebut sesuai dengan Situasi Yesus dan Situasi Penulisan.  Sebenarnya ayat 2 dalam pasal ini tidak dapat dipisahkan dari ayat 3,
Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.  Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu (15:2-3)
Kira-kira dua sampai tiga jam sebelum Yesus mengajak mereka keluar menuju Getsemani, sebelum perjamuan dilaksanakan (walaupun Injil Yohanes tidak menyatakannya), Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya (Yoh 13:1-20).  Dalam pembasuhan kaki tersebut terjadi percakapan guru-murid.  Itulah gaya Yesus mengajar, informal, kreatif, inovatif, mengajar dengan contoh
Ketika Yesus akan membasuh Petrus, Petrus menolak dan mengatakan, “Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya.” Yesus pun menjawab, “Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku.” (13:8).  Kemudian Yesus mulai mengajar mereka tentang “pembersihan”.  Yesus berkata:
“Barangsiapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya.  Juga kamu sudah bersih, hanya tidak semua.”(13:10)
Setelah pengajaran tentang “pembersihan” selesai, Yesus berkata, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku (13:21).  Pernyataan Yesus ini merisaukan murid-murid dan mereka menanyakan-Nya.  Yesus pun menjawab dengan sebuah “sandi” setelah Yesus menjelaskannya kepada “orang-orang dekat” yaitu memberikan roti, yang telah dicelupkan ke dalam anggur, kepada Yudas.  Singkat cerita, Yudaspun pergilah meninggalkan ruangan tersebut.  Setelah perjamuan dan pengajaran tentang Roh Kudus, mereka berjalan menuju Getsemani.  Dapat dipastikan bahwa selama perjalanan para murid mempercakapkan segala sesuatu yang terjadi di ruang atas, mulai dari pembasuhan kaki, pernyataan Yesus “kamu sudah bersih, hanya tidak semua”, tentang murid yang akan menyerahkan-Nya dan Yudas yang keluar meninggalkan ruangan.
Kembali ke ayat 2 dan 3, ketika Yesus berkata “Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.  Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu” (15:2-3).  Pernyataan tentang ranting-ranting dalam ayat ini adalah pernyataan Yesus tentang murid-murid-Nya.  Pengajaran tentang “pembersihan” (pasal 13) masih mengganjal di otak murid-murid Yesus.  Secara khusus pernyataan Yesus “kamu sudah bersih, hanya tidak semua.” (13:10).  Kemudian pernyataan-Nya, setelah pembasuhan kaki selesai, “seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku (13:21).
Perhatikan empat ucapan penting yang berhubungan sangat erat, “setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya,…” (15:2), “,…kamu memang sudah bersih,…”, (15:3) “,…kamu sudah bersih, hanya tidak semua.” (13:10) dan “seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku (13:21).  Ayat 2 sangat jelas sedang berbicara tentang Yudas Iskariot, ranting yang tidak “berbuah”.  Jadi ayat ini tidak berbicara tentang orang Kristen yang murtad, disiplin/siasat gereja atau tentang orang-orang Kristen KTP, apalagi tentang premature death.  Ayat ini menjelaskan tentang peristiwa yang baru saja terjadi.  Yudas Iskariot adalah “ranting yang tidak berbuah” tersebut.  Sementara yang dimaksudkan Yesus tentang ranting yang berbuah yang dibersihkan adalah murid-murid yang lain.  Sangat disayangkan, banyak orang berusaha menemukan penerapan dari setiap ayat dalam Alkitab.  Padahal TIDAK SEMUA AYAT dalam Alkitab HARUS DAPAT DITERAPKAN pada situasi kita.  Ayat ini sedang berbicara tentang Yudas Iskariot.  Yesus hanya menjelaskan tentang peristiwa yang baru saja terjadi, tidak perlu memaksakan diri untuk mencari-cari penerapan atau arti rohani dari Yohanes 15:2 bagi kita.
Selanjutnya ayat 6 membicarakan topik yang hampir sama, “Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar”.  Bedanya, ayat 2 berbicara tentang ranting yang dipotong keluar, sedangkan ayat 6 berbicara tentang “ranting” atau apapun yang “tidak tinggal di dalam” Yesus.  Karena ayat ini berbicara tentang orang-orang yang tidak tinggal di dalam Yesus, maka ayat ini tidak berbicara tentang orang Kristen yang murtad, orang Kristen KTP, disiplin/siasat gereja, ataupun prematur death.  Orang-orang di luar Yesus tidak perlu murtad, karena mereka memang “tidak tinggal di dalam” Yesus.

Sekali lagi situasi Yesuslah yang akan menjelaskan makna kiasan ini.  Struktur Injil Yohanes dapat dibagi atas 2 bagian, yaitu Masa Kesaksian (Yohanes 2-11), dan Masa Konflik (Yohanes 12-20).  Pasal 1 adalah pendahuluan Injil dan pasal 21 adalah penutup Injil.[1]  Pengajaran Yesus dalam Yohanes 15 berada dalam Masa Konflik.  Dalam Injil Yohanes, konflik ini disebutkan sebagai konflik dengan orang-orang Yahudi.  Dan puncak konflik dengan orang-orang Yahudi adalah Salib.  Konflik ini bahkan sudah dijelaskan juga sejak awal Injil ini, pada bagian pendahuluan. 

Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya.  (Yoh 1:11).

Sekali lagi, perikop pembahasan kita adalah mengenai Pokok Anggur yang Benar, tentang Yesus, Pokok dari “Pohon Anggur” Israel, Yesus sebagai Mesias yang dinanti-nantikan bangsa Yahudi.  Yesus memberi penjelasan tentang konflik tersebut, tentang penolakan orang-orang Yahudi.  Yesus menjelaskan semua ini untuk mempersiapkan murid-murid-Nya menghadapi kematian-Nya dan menghadapi penolakan-penolakan orang Yahudi.  Jadi penjelasan Yesus tentang orang-orang “yang tidak tinggal pada Pokok Anggur” adalah penjelasan tentang “orang-orang kepunyaan-Nya” yang tidak menerima-Nya (Yoh 1:11).
Selanjutnya dikatakan bahwa orang-orang yang tidak tinggal pada Pokok Anggur “,…dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar”.  Inilah dampak bagi orang-orang Yahudi yang menolak Yesus.  Istilah “dicampakkan” dalam bahasa Yunani “βάλλω, ballō” yang sejajar dengan tema ini hanya disebutkan tiga kali dalam Perjanjian Baru, yaitu Yohanes 15:6, Matius 3:10 dan Matius 7:19 yang sejajar dengan Luk 3:9 (juga diterjemahkan “dibuang”)  dan ketiganya berbicara tentang penghukuman terhadap orang-orang Israel yang tidak percaya kepada Yesus. Bandingkan ketiga ayat itu (Matius 3 kita mulai dari ayat 8),

Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan. Dan janganlah mengira, bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini!  Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. (Matius 3:8-10)

Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik.  Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik.  Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.  (Mat 7:17-19)

Bersama-sama dengan Yohanes 15:6, ketiga ayat ini membentuk pemahaman kita yang lengkap tentang pengajaran Yesus mengenai penghukuman bagi orang-orang Yahudi yang tidak percaya.  Dalam Mat 3:9 dikatakan “janganlah mengira, bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami!”  ini adalah serangan Injil Matius kepada orang-orang Yahudi.  Baik pada situasi Yesus maupun pada situasi penulisan Injil ini.
Pada Situasi Penulisan Injil ini, orang-orang Yahudi yang “tidak tinggal” pada Pokok Anggur adalah orang-orang Yahudi yang menolak Yesus.  Dan jemaat Yahudi Kristen dikuatkan dengan hal ini.  Mereka tidak perlu kembali kepada Israel lama karena mereka telah “tinggal” dalam Yesus Kristus, Pokok dari Israel yang benar.  Melalui kisah ini Yohanes mengungkapkan bahwa konflik Yesus dengan orang-orang Yahudi tidak hanya berakhir di Salib Golgota, tetapi berlanjut terus sampai masa penulisan Injil ini.  Bukan hanya Yesus yang mengalami konflik dengan orang-orang Yahudi, tetapi juga gereja sedang konfllik dengan orang
-orang Yahudi.
Karena ayat ini adalah ayat yang umum, artinya tidak menunjuk pada orang tertentu seperti Yudas Iskariot dalam ayat 2-3, maka ayat ini dapat diterapkan pada situasi kita.  Tetapi pertama-tama ayat  ini harus diterapkan pada Israel pada masa Yesus, kemudian pada masa penulisan Injil ini, ketika gereja sedang konflik dengan orang-orang Yahudi, juga pada masa kita, orang-orang Yahudi, Israel yang diproklamasikan tahun 1948, jika tetap menolak Yesus, mereka akan menerima hukuman yang kekal.
Bagaimana dengan kita, kita wajib berdoa untuk orang-orang Yahudi, agar mereka percaya kepada Yesus dan menjadi bagian dari Israel yang benar.  Kedua, karena kita tahu bahwa Allah mengasihi semua orang, dan keselamatan juga disediakan bagi semua bangsa, kita wajib memberitakan Yesus, yang menjadi Pokok dari Pohon Anggur Israel Baru,  dan setiap orang yang percaya adalah anggota kerajaan-Nya, Israel Baru.
(Revisi 10 September 2016)

klik di sini untuk langsung ke bagian berikutnya.

Pdt. Daniel H. Herman, M.Th. Saat ini mengajar di STT Kalimantan pada mata kuliah-mata kuliah:
– Kehidupan Tuhan Yesus
– Bahasa Yunani Perjanjian Baru I dan II
– Eksposisi Perjanjian Baru I dan II
– Eksposisi Markus
– Perumpamaan-perumpamaan Yesus


Keyword:
Alkitab, Perjanjian Baru, Teologi, Theologia, Teologi Perjanjian Baru, Theologia Perjanjian Baru, Injil, Tafsiran Injil, Injil menurut Yohanes, Theologia Yohanes, Teologi Yohanes, Tafsiran Yohanes 15, Yohanes 15, Pokok Anggur yang Benar, Israel Sejati, Israel, Yesus, Ajaran Yesus, Pengajaran Yesus, Pemuridan, Murid Yesus, Murid Kristus, Gereja, Sejarah Gereja, Bapa-bapa Gereja, Gereja Purba, Gereja Mula-mula, Umat Allah, Ahli Kitab, Dogma Kristen, Gereja Kristen, Teologi Kristen, Theologia Kristen, Tafsiran Alkitab, Iman, Iman Kristen, Pengakuan Iman, Pengakuan Iman Kristen, Sejarah Theologia, Sejarah Teologi, Kristologi, Kristologi Yohanes, murtad, pemurtadan, Teologi Biblika, Theologia Biblika, Teologi Alkitabiah, Theologia Alkitabiah, Kristus, Mesias, Mesias Israel, Yehuwa, Yahweh, YHWH, Raja Israel, Kepala Gereja, Gereja Kristus, Yahudi, Yahudi Sejati, Yahudi Mesianis, Salib, Paskah, Getsemani, Anak Daud, Keturunan Daud, Putera Daud, Putra Daud, Anak Allah, Allah Anak, Keturunan Abraham, Berkat Abraham, Isa, Almasih, Bintang Daud, Yesus Kristus, Al Masih, Kristus Yesus, Tuhan Yesus, Trinitas, Trinitarian, Trinitariansm, Tritunggal, Unitarian, Unitarianisme, Bible, New Testament, Theology, New Testament Theology, Gospel, Gospel Commentary, Gospel According to John, Joannine Theology, John 15, John 15 Commentary, True Vine, True Israel, Jesus, Jesus Teaching, Discipleship, Disciple of Jesus, Disciple of Christ, Church, Church History, Church Fathers, Ancient Church, People of God, People of the Book, Christian Dogma, Christian Church, Christian Theology, Biblical Commentary, Faith, Christian Faith, Christian Confession, History of Theology, Christology, Joannine Christology, Apostasy, Biblical Theology, Christ, Messiah, Messiah of Israel, Jehovah, King of Israel, Head of the Church, Church of Christ, Jews, True Jews, Messianic Jews, Cross, Pass Over, Gethsemane, Son of David, Decendant of David, Son of God, God Son, Decendant of Abraham, Bless of Abraham, Star of David, Jesus Christ, Mashiach.  Christ Jesus, Lord Jesus, Trinity, Holy Trinity, Unitarian, Unitarianism, Trinitarian, Trinitarianism


[1] Merryl C. Tenney, Injil Iman. (Malang: Gandum Mas)

Pokok Anggur “yang Benar”

Pendahuluan
(revisi keenam 13 Januari 2015)

Saya membaca beberapa tafsiran tentang Yohanes 15:1-8, saya temukan ada beberapa tafsiran yang dibuat terhadap ayat-ayat tersebut.  Ada yang menafsirkan bahwa Yohanes 15:1-8 berbicara mengenai dua macam gereja, gereja sejati dan gereja palsu.  Gereja sejati selalu sukses dan Gereja palsu mengalami banyak kegagalan.  Yang lain berkata, bahwa ayat-ayat ini sedang membicarakan persekutuan yang menghasilkan jawaban atas doa.  Ada kuasa doa dalam persekutuan dengan Yesus.  Yang lain menafsirkannya sebagai usaha penginjilan yang berhasil. Murid Kristus sejati akan menghasilkan jiwa-jiwa baru dan satu lagi tafsiran,persekutuan dengan Yesus menghasilkan buah Roh. Begitu banyak tafsiran bukan? Apakah tafsiran-tafsiran itu atau satu di antaranya ada dalam pikiran Yesus dan murid–murid-Nya ketika ia mengajarkan kiasan ini?

Yesus baru saja menyelesaikan perjamuan dengan murid-muridnya, dalam perjalanan-Nya bersama murid-murid menuju sebuah taman di Bukit Zaitun, Getsemani.  Tiba-tiba dalam perjalanan itu Yesus berkata “Akulah Pokok Anggur yang Benar,…” Pokok Anggur yang Benar telah menjadi pengajaran Yesus yang terkenal.  Apakah ajaran ini dapat dipahami dengan benar oleh setiap orang yang membaca teks Yohanes 15:1-8.  Kita begitu sering membaca, mendengarkan khotbah dan bahkan mungkin kita sendiri mempersiapkan khotbah atau renungan dari bagian itu.  Tetapi apakah kita memahami arti Pokok Anggur yang Benar?

The Greco-Roman World of the New Testament Era: Exploring the Background of Early Christianity

Untuk memahami ajaran yang terkandung dalam kiasan Pokok Anggur yang Benar, kita perlu memahami dua situasi yang menjadi alasan penulisan kisah Yesus ini.  Pertama, situasi Yesus ketika Ia menyampaikan pengajaran ini.  Dengan memahami situasi Yesus ketika Ia menyampaikan ajaran-Nya ini, kita akan dapat mengerti inti ajaran Yesus. Dan kedua situasi jemaat mula-mula yang menjadi penerima pertama atau pembaca pertama Injil ini.  Situasi-situasi ini akan menentukan makna di balik setiap kiasan dalam teks tersebut.  Selanjutnya latar belakang Yahudi dari ajaran Yesus adalah hal terpenting untuk memahami keseluruhan ajaran Yesus tentang Pokok Anggur yang Benar.

 

Situasi Yesus

Ketika Yesus dalam perjalanan menuju Getsemani, penolakan pemimpin-pemimpin Yahudi telah mencapai puncaknya.  Penolakan ini adalah satu dari beberapa ciri khas Injil Yohanes dan dapat kita lihat tersebar di seluruh Injil Yohanes, mulai dari pasal pertama ayat 11, “tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya” penolakan tersebut terus meningkat seiring dengan peningkatan kesaksian “tanda-tanda” yang dibuat Yesus,

Aku datang dalam nama Bapa-Ku dan kamu tidak menerima Aku; jikalau orang lain datang atas namanya sendiri, kamu akan menerima dia. (Yoh 5:43)

Setelah pembangkitan Lazarus (Yoh 11) yang merupakan puncak kesaksian kemesiasan Yesus, orang-orang Yahudi telah sepakat untuk membunuh Yesus.

Tetapi seorang di antara mereka, yaitu Kayafas, Imam Besar pada tahun itu, berkata kepada mereka: “Kamu tidak tahu apa-apa,  dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa.”  Hal itu dikatakannya bukan dari dirinya sendiri, tetapi sebagai Imam Besar pada tahun itu ia bernubuat, bahwa Yesus akan mati untuk bangsa itu, dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai. Mulai dari hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia. (Yoh 11:49-53)

Perhatikan kesimpulan akhir dari Injil Yohanes mengenai sikap orang-orang Yahudi terhadap mujizat-mujizat Yesus.

Dan meskipun Yesus mengadakan begitu banyak mujizat di depan mata mereka, namun mereka tidak percaya kepada-Nya, (Yoh 12:37)

Murid-murid tahu bahwa ancaman kematian memang sedang menunggu Yesus.

 6 Namun setelah didengar-Nya, bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, di mana Ia berada;  7 tetapi sesudah itu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: “Mari kita kembali lagi ke Yudea.”  8 Murid-murid itu berkata kepada-Nya: “Rabi, baru-baru ini orang-orang Yahudi mencoba melempari Engkau, masih maukah Engkau kembali ke sana?”….
….14 Karena itu Yesus berkata dengan terus terang: “Lazarus sudah mati;  15 tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya. Marilah kita pergi sekarang kepadanya.”  16 Lalu Tomas, yang disebut Didimus, berkata kepada teman-temannya, yaitu murid-murid yang lain: “Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia.” (Yoh 11:6-16)


Dalam situasi puncak penolakan ini dan dalam perjalanan-Nya bersama murid-murid-Nya, Ia menghentikan percakapan murid-murid di tengah malam itu, “Akulah Pokok Anggur yang Benar,…”.  Tidak dijelaskan apakah mereka sedang melewati kebun anggur, atau karena baru saja minum anggur dalam perjamuan, yang pasti, pernyataan Yesus tersebut sangat dimengerti oleh murid-murid-Nya sehingga Yesus tidak memberikan penjelasan mengenai makna kiasan tersebut kepada murid-murid-Nya.  Para murid juga tidak menanyakan makna kiasan tersebut.

 Jewish Backgrounds of the New Testament

Situasi Yesus membuat murid-murid-Nya sangat memahami makna kiasan tersebut.  Murid-murid tahu bahwa Yesus menghadapi penolakan-penolakan.  Jadi Yesus bermaksud menguatkan murid-murid-Nya untuk menghadapi kematian-Nya dan untuk menghadapi penolakan para pemimpin mereka sendiri dan besar kemungkinan juga penolakan dari masyarakat Yahudi. Itulah situasi Yesus ketika Ia menyampaikan ajaran terkenal tersebut di tengah-tengah perjalanan-Nya menuju Getsemani.  Situasi ini harus menjadi dasar penafsiran atas kiasan Yohanes 15.

 Situasi Penulisan

Situasi lain yang juga harus menjadi perhatian kita adalah situasi ketika Injil ini ditulis, situasi para penerima Injil ini, atau jemaat yang menjadi para pembaca pertama.  Situasi tahun 90an (20an tahun sejak penghancuran Yerusalem oleh Jenderal Titus), ketika kekristenan berkembang dengan pesat dan menghadapi intimidasi dan pengucilan dari orang-orang Yahudi.  Orang-orang Yahudi, yang menganggap kekristenan sebagai satu sekte Yahudi, mulai merasa tersaingi, karena perkembangan yang luar biasa cepat.  Sudah sejak awal “sekte” ini ditekan oleh orang-orang Yahudi, tetapi jumlah orang Kristen mulai jauh meninggalkan jumlah orang-orang Yahudi.

 Ketika jumlahnya semakin besar, orang-orang Yunani sudah bergabung.  Kekristenan sedang memasuki dunia Yunani dan kemudian iman mereka diterjemahkan ke dalam konteks Yunani.  Jemaat-jemaat Yahudi Kristen mulai memikirkan kembali iman mereka.  Selain karena perbedaan konteks Yunani-Yahudi dan tekanan anugerah yang kuat sementara tekanan hukum Taurat yang semakin menghilang dari dalam gereja.  Mereka juga mengalami intimidasi, pengucilan dan penganiayaan oleh orang-orang Yahudi, masyarakat mereka sendiri.  Yesus sendiri sudah memberitahukan tentang penganiayaan tersebut

Tetapi kamu ini, hati-hatilah! Kamu akan diserahkan kepada majelis agama (εἰς συνέδρια, Sanhedrin) dan kamu akan dipukul di rumah ibadat (εἰς συναγωγὰς, sinagoge) dan kamu akan dihadapkan ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja karena Aku, sebagai kesaksian bagi mereka. (Markus 13:9)

Penganiayaan orang Yahudi terhadap gereja juga tercantum dalam Injil Yohanes sebagai sebuah peringatan kepada gereja.

Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu (Yoh 15:20).
Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah.  Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku. Tetapi semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya apabila datang saatnya kamu ingat, bahwa Aku telah mengatakannya kepadamu.”  (Yoh 16:2-4)

Tentu saja Yohanes menulis peringatan Yesus ini karena penganiayaan yang sedang dialami gereja pada masa itu, penganiayaan dari pihak orang Yahudi.  Setelah tekanan dan penganiayaan yang mereka alami Mereka bertanya-tanya, masihkah mereka berada pada jalur yang benar?  Masihkah mereka termasuk dalam Israel, umat Allah? Pertanyaan-pertanyaan ini juga yang menyebabkan Yohanes menulis Injil ini, secara khusus ajaran Yesus yang dianggap penting ini. Injil ini sengaja ditulis untuk kepentingan jemaat, para pembaca pertama, khususnya orang-orang Yahudi Kristen.

 The New Testament Explorer: Discovering the Essence, Background, and Meaning of Every Book in the New Testament

Kedua situasi ini menentukan pemahaman yang benar tentang ajaran Yesus ini. Ajaran yang sangat dipahami, baik oleh murid-murid Yesus maupun oleh jemaat Yahudi Kristen.  Mari kita membahas beberapa pokok pikiran penting dalam Yohanes 15:1-8.

Pokok Anggur yang Benar (15:1)

Sebuah pohon anggur terdiri atas pokok anggur dan ranting-ranting yang menjalar.  Di sebuah kebun anggur, biasanya pohon anggur dibuatkan tiang-tiang penyangga untuk ranting-rantingnya menjalar sehingga buah anggur akan tergantung.  Ketika kita membaca kiasan ini, kita menerawang memikirkan pohon anggur, dan mencoba memahami atau menafsirkan ayat-ayat ini berdasarkan pemahaman kita tentang sebuah pohon anggur. Tetapi apakah seperti itu yang dipikirkan dan dipahami para murid?

Para murid adalah orang-orang Yahudi dengan budaya dan pola pikir Yahudi.  Paradigma murid-murid juga dipengaruhi oleh Perjanjian Lama.  Mereka tahu kiasan pohon anggur berasal dari Perjanjian Lama.  dan mereka mengerti tentang kiasan pohon anggur tersebut.  Pohon anggur dalam Perjanjian Lama, terkenal sebagai kiasan bagi Israel.  Mereka tahu bahwa pohon anggur adalah lambang bangsa Israel.  Perhatikan ayat-ayat berikut,

9 Telah Kauambil pohon anggur dari Mesir, telah Kauhalau bangsa-bangsa, lalu Kautanam pohon itu. 10 Engkau telah menyediakan tempat bagi dia, maka berakarlah ia dalam-dalam dan memenuhi negeri; 11 gunung-gunung terlindung oleh bayang-bayangnya, dan pohon-pohon aras Allah oleh cabang-cabangnya; 12 dijulurkannya ranting-rantingnya sampai ke laut, dan pucuk-pucuknya sampai ke sungai Efrat….….15-16 Ya Allah semesta alam, kembalilah kiranya, pandanglah dari langit, dan lihatlah! Indahkanlah pohon anggur ini, batang yang ditanam oleh tangan kanan-Mu!  Mazmur 80:9-12, 15-16Sebab kebun anggur TUHAN semesta alam ialah kaum Israel, dan orang Yehuda ialah tanam-tanaman kegemaran-Nya;(Yes 5:1-7a)

Orang-orang Yahudi memahami benar bahwa pohon anggur adalah lambang Bangsa Israel.  Sama seperti kita memahami Burung Garuda sebagai lambang bangsa Indonesia.  Jika kita berkata, “Garuda-garuda muda tengah berjuang mengharumkan nama bangsa dalam pertandingan sepakbola di SEA GAMES itu” kita sangat memahami bahwa yang dimaksud dengan garuda-garuda muda adalah pemuda-pemuda Indonesia yang sedang bertanding.  Tidak diperlukan penafsiran yang berbelit-belit untuk memahaminya bukan?  Philo menulis, “The vineyard of the Lord Almighty is the house of Israel.”[1] Pohon anggur sangat populer pada masa itu sebagai lambang Israel.  Begitu juga murid-murid Yesus sudah sangat biasa memahami pohon anggur sebagai lambang bagi Israel.  Setiap hari mereka melihatnya pada pintu gerbang Bait Allah mereka.  Josephus menjelaskan bahwa gerbang Bait Allah dihiasi dengan ukiran pohon anggur emas dengan ranting-rantingnya yang tergantung.

The temple had doors also at the entrance, and lintels over them, of the same height with the temple itself. They were adorned with embroidered veils, with their flowers of purple, and pillars interwoven;  and over these, but under the crown work, was spread out a golden vine, with its branches hanging down from a great height, the size and fine workmanship of which was a surprising sight to the spectators, to see what vast materials there were, and with what great skill the workmanship was done. (Antiquities 15:394-395).[2]  

Pemimpin pemberontakan pertama Bangsa Yahudi (67-68 AD) menerbitkan mata uang coin dengan gambar daun pohon anggur. Sedangkan Simeon Bar Kokhba, pemimpin pemberontakan kedua bangsa Yahudi (132-135 AD), kepala negara Yahudi yang dianggap “mesias” oleh para pemimpin bangsa Yahudi, menerbitkan mata uang Yahudi yang disebut “Judaea Capta”[3] dengan gambar buah anggur[4] dan tulisan “Tahun kedua kemerdekaan Israel”[5] tidak ada penjelasan mengenai hubungan buah anggur dengan pemberontakan atau kemerdekaan bangsa Yahudi tersebut.  tetapi jelas adanya hubungan bangsa Israel dan buah anggur. 

 

Pohon anggur dan buah anggur menjadi lambang bangsa yang sudah mendarah daging dalam kehidupan sehari-hari bangsa Yahudi.  Jadi ketika Yesus berkata, “Akulah Pokok Anggur…”  murid-murid-Nya memahami hal itu.  Dalam pemahaman mereka Yesuslah Pokok dari “Pohon Anggur” Israel, Yesuslah Mesias yang dinanti-nantikan bangsa Israel.  Tetapi pernyataan Yesus tidak berhenti sampai pada ”Akulah pokok Anggur,…”  Yesus berkata “Akulah Pokok Anggur YANG BENAR”.

 

Kata “Yang Benar” (Yun: ἡ ἀληθινὴ berasal dari kata ἀληθινός yang berarti benar, sesungguhnya, sejati.  Thayer menjelaskan mengenai kata ἀληθινός sebagai berikut,

that which has not only the name and semblance, but the real nature corresponding to the name,…, in every respect corresponding to the idea signified by the name, real and true, genuine; a. opposed to what is fictitious, counterfeit, imaginary, simulated, pretended….….1 Thess. 1:9; Heb. 9:14 Lachmann; John 17:3; 1 John 5:20.  (ἀληθινοί φίλοι, Demosthenes, Phil. 3, , p. 113, 27.) b. it contrasts realities with their semblances:  σκηνή, Heb. 8:2; the sanctuary, Heb. 9:24.  (ὁ ἵππος contrasted with ὁ ἐν τῇ εἰκόνι, Aelian v. h. 2, 3.) c. opposed to what is imperfect, defective, frail, uncertain:  John 4:23,37; 7:28; used without adjunct of Jesus as the true Messiah, Rev. 3:7; φῶς, John 1:9; 1 John 2:8; κρίσις, John 8:16 (L T Tr WH; Isa. 59:4); κρίσεις, Rev. 16:7; 19:2; ἄρτος, as nourishing the soul unto life everlasting, John 6:32; ἄμπελος, John 15:1; μαρτυρία John 19:35; μάρτυς, Rev. 3:14; δεσπότης, Rev. 6:10; ὁδοί, Rev. 15:3; coupled with πιστός, Rev. 3:14; 19:11; substantively, τό ἀληθινόν the genuine, real good, opposed to external riches, Luke 16:11 ((οἷς μέν γάρ ἀληθινός πλοῦτος οὐρανῷ, Philo de praem, et poen. sec. 17, p. 425, Mang. edition; cf. Wetstein (1752) on Luke, the passage cited); αθληται, Polybius 1, 6, 6).[6]

ἀληθινός dalam Yohanes 15:1 berarti “nyata/sejati dan benar, asli; bertentangan dengan: fiktif, palsu, bayangan, tiruan, dan berpura-pura” ….

 

Yesus bermaksud mengatakan kepada murid-murid-Nya, bahwa Dialah Pokok dari Pohon Anggur Sejati (ἡ ἄμπελος ἡ ἀληθινὴ, hē amphelos he alēthinē), secara literal ἡ ἄμπελος ἡ ἀληθινὴ berarti “pohon anggur sejati” bandingkan dengan τῆς σκηνῆς τῆς ἀληθινῆς, kemah sejati (Ibr 8:2), maka inilah klaim Yesus, “AKULAH POKOK DARI ISRAEL SEJATI.”

 New Testament Survey: An Individualized Course

 

Situasi Yesus, yang sedang mengalami penolakan dari para pemimpin Yahudi dan perjalanan-Nya menuju salib, mengharuskan-Nya mempersiapkan murid-murid untuk memahami penyaliban-Nya dan menghadapi penolakan pemimpin-pemimpin mereka sendiri.  Ajaran tentang Yesus sebagai Pokok Israel Sejati ini menguatkan murid-murid-Nya untuk semakin memercayai Yesus.  Dan secara khusus menguatkan keyakinan mereka bahwa Yesuslah Mesias yang sedang dinanti-nantikan bangsa Israel.  Jadi sekalipun mereka mengalami tekanan dan ada indikasi juga pengucilan dari masyarakat Yahudi, mereka tetap memercayai bahwa Yesus adalah Sang Mesias yang diutus Allah!

 Bagaimana dengan situasi jemaat penerima Injil ini atau para pembaca pertama?  Situasi mereka juga menentukan makna kepentingan ajaran Yesus bagi mereka!  Yesus mengatakan bahwa Dialah “Pokok dari Israel Sejati”.  Pertikaian Yudaisme dan Gereja pada tahun-tahun penulisan Injil ini membuat orang-orang Yahudi Kristen memikirkan kembali status mereka.  Apakah mereka masih dalam jalur yang benar?  Apakah mereka masih termasuk Israel, Umat Allah? Yudaisme berusaha menghambat gereja yang mereka anggap sebagai satu sekte dari agamaYahudi (Kis 24:5, 14).  Tetapi gereja yang mendapat tekanan terus menyebar dan berkembang dari segi jumlah.  Penganiayaan justru memperkuat kesaksian bagi orang-orang Yahudi.

 

Pertikaian ini mengingatkan Yohanes untuk menulis ajaran Yesus yang terkenal ini “Akulah Pokok Anggur yang Benar”  dan klaim ini berarti “Yesuslah Pokok Israel Sejati!  Dan gereja yang dianiaya juga menyebarkan klaimnya kepada orang-orang Yahudi yang menganiaya mereka, “Kami adalah Israel Sejati!”

(Revisi pertama 27 November 2013, revisi kedua 15 Januari 2014, revisi ketiga 17 Maret 2014,
revisi keempat 8 Desember 2014, revisi kelima 27 Desember 2014, revisi keenam 13 Januari 2015)


Klik di sini untuk langsung menuju ke Bagian kedua


Pdt. Daniel H. Herman, M.Th. Saat ini mengajar di STT Kalimantan pada mata kuliah:

– Kehidupan Tuhan Yesus
– Bahasa Yunani Perjanjian Baru I dan II
– Eksposisi Perjanjian Baru I dan II
– Eksposisi Markus
– Perumpamaan-perumpamaan Yesus



[1]Philo, De Somniis 2:172, dalam BibleWorks 9, peny. um. Michael Bushell, [program komputer]. (Norfolk, VA: BibleWorks, 2011)
[2]Penebalan dan warna huruf ditambah untuk penekanan. Flavius Josephus, “Antiquities 15:394-395”, The Works of Flavius Josephus, Whiston English Translation, dalam BibleWorks 9, peny. um. Michael Bushell, [program komputer]. (Norfolk, VA: BibleWorks, 2011)
[3] Charles Ludwig, Para Penguasa pada Zaman Perjanjian Baru, pen Lili Rustandi, peny. Ridwan Sutedja, cet 6.  (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2007), 138-44
[4] Gambar diunduh dari (http://www.wildwinds.com/coins/greece/judaea/t.html) Hendin_681cf
[5]Ludwig, Para Penguasa pada Zaman Perjanjian Baru, 142
[6] Joseph H. Thayer, Thayer’s Greek-English Lexicon of the New Testament (Abridged and Revised Thayer Lexicon) being C. G. Grimm (1861-1868; 1879) and C. L. W. Wilke (1851) Clavis Novi Testamenti Translated, Revised, and Enlarged, by Joseph Henry Thayer, (Ontario, Canada: Online Bible Foundation and Woodside Fellowship, 1988-1997), Electronic edition generated and owned by International Bible Translators (IBT), Greek formatting modifications (such as adding diacritical accents) and improvements made by Michael S. Bushell, 2001. dalam BibleWorks 9, peny. um. Michael Bushell, [program komputer]. (Norfolk, VA: BibleWorks, 2011) penebalan dan huruf italic ditambahkan oleh penulis untuk penekanan.

Yesus Kristus Anak Allah

Istilah-istilah Anak Allah, Anak Manusia dan Tuhan dipahami bangsa Yahudi sebagai gelar-gelar yang dipakai untuk Mesias.  Matius 26:63 mengungkapkan kepercayaan Imam Besar bangsa Yahudi tentang Mesias, ”,…kata Imam Besar itu kepada-Nya: “Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak.”  Terungkap bahwa dalam pemahaman Imam Besar (dan Bangsa Yahudi) bahwa Mesias adalah Anak Allah.  Juga pengakuan Petrus (Matius 16:16)

”,…Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” 

dan tujuan penulisan Injil Yohanes, 

tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya. (Yoh 20:31)
Kita akan membahas ayat-ayat Alkitab yang memuat kata Anak Allah agar kita mendapat pengertian yang benar tentang terminologi tersebut. 
Matius 4:3 dan Lukas 4:3
Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.” Mat.  4:3
Lalu berkatalah Iblis kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, suruhlah batu ini menjadi roti.” Luk 4:3.
Sengaja saya memuat dua ayat paralel dalam Matius dan Lukas.  Perhatikan bahwa kedua ayat tersebut mengungkapkan bahwa Anak Allah sanggup memerintahkan/ menyuruh batu menjadi roti.  Dalam teks asli, kata ’perintahkanlah’ dan juga kata ’suruhlah’ (keduanya: eipe) adalah kata kerja, imperative, aorist, aktif.   Kata Kerja Imperative adalah sebuah kata perintah sehingga kata perintahkanlah dan suruhlah adalah sangat tepat! Terungkap dalam ayat-ayat ini bahwa Jika Engkau Anak Allah adalah Conditional Statement yang berhubungan dengan frasa memerintahkan batu menjadi roti.  Sebagai kesimpulan untuk ayat ini, Anak Allah dalam pemahaman, pola pikir dan sense of language bangsa Yahudi, berkuasa untuk memerintah/mencipta.’ Dan ini sejajar dengan Yoh 1:1-3
Matius 14:33
Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: “Sesungguhnya Engkau Anak Allah.”
Konteks ayat ini dimulai dari 14:21 yang menjelaskan peristiwa Yesus berjalan di atas air.  Ayat 33 adalah reaksi atas peristiwa tersebut.  Perhatikan tanggapan orang-orang dalam perahu, ”,…mereka menyembah Dia,…” dan ”katanya (seharusnya diterjemahkan ’kata mereka’, legontes) Sesungguhnya Engkau Anak Allah”
Tindakan mereka ”menyembah” (Yunani: prosekunesan) sebenarnya berarti ”membungkuk untuk mencium kaki” dan Yesus tidak menolak atau mencegah perlakuan mereka.  Pernyataan mereka terhadap Yesus yang berjalan di atas air, adalah kesimpulan mereka bahwa Yesus adalah Anak Allah.  Dalam pemahaman, pola pikir dan sense of language bangsa Yahudi, Anak Allah adalah Oknum yang berkuasa atas alam.
Yohanes 5:25 adalah pernyataan Yesus kepada para oposan yang menentang-Nya.
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya saatnya akan tiba dan sudah tiba, bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup
Para oposan tidak membantah pernyataan ini.  Dan hal ini mengindikasikan mereka setuju bahwa Anak Allah (Mesias) memiliki kuasa membangkitkan orang-orang mati pada akhir zaman.  Jadi dalam hal ini sangat jelas pemahaman, pola pikir dan sense of language bangsa Yahudi tentang Anak Allah, yaitu bahwa Anak Allah berkuasa membangkitkan orang-orang mati pada akhir zaman.
Matius 26:63-66.  Dalam sebuah pengadilan Agama Yahudi, Yesus diinterogasi,
63 ,…kata Imam Besar itu kepada-Nya: “Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak.” 64 Jawab Yesus: “Engkau telah mengatakannya.  Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit.”
kita lihat reaksi Imam Besar dan tanggapan imam-imam lainnya
65 Maka Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: “Ia menghujat Allah.  Untuk apa kita perlu saksi lagi? Sekarang telah kamu dengar hujat-Nya.  66 Bagaimana pendapat kamu?” mereka menjawab dan berkata: “Ia harus dihukum mati!”
Ayat-ayat yang sangat sederhana ini menjelaskan dengan sejelas-jelasnya bahwa menurut Hukum Taurat, pengakuan sebagai Anak Allah adalah penghujatan terhadap Allah dan menyebabkan Yesus pantas menerima hukuman mati.  Baca juga Yohanes 19:7, tuduhan orang-orang Yahudi, ketika Yesus di hadapan Pilatus,
Jawab orang-orang Yahudi itu kepadanya: “Kami mempunyai hukum dan menurut hukum itu Ia harus mati, sebab Ia menganggap diri-Nya sebagai Anak Allah.”
Perhatikan juga Yohanes 5:18
Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa
Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah.
Tidak perlu ragu, bahwa sebutan Anak Allah berhubungan dengan Oknum Ilahi.  Pengakuan Yesus sebagai Anak Allah menyebabkan Ia dianggap menghujat Allah dan pantas untuk dihukum mati.
Pertanyaan berikut yang penting adalah, jika bangsa Yahudi percaya bahwa Anak Allah adalah Oknum Ilahi (Yoh 19:7) yang setara dengan Bapa (Yoh 5:18), berkuasa untuk mencipta (Mat 4:3), berkuasa atas alam (Mat 14:21-33), dan berkuasa membangkitkan orang-orang mati (Yoh 5:25);  Mengapa Yesus dihukum mati atas pernyataan-Nya bahwa Ia adalah Anak Allah (Yoh 19:7)?
Masalah utama terletak pada ketidakpercayaan mereka bahwa Yesus adalah Mesias.  mereka percaya bahwa Mesias adalah Anak Allah (Mat 26:63)  tetapi mereka tidak percaya bahwa Yesuslah Mesias yang dijanjikan itu.  Hingga saat ini mereka (Bangsa Yahudi) masih menantikan kedatangan Mesias.  Bendera nasional mereka (Israel) saat ini, berlambangkan Star of David (Bintang Daud) menunjukkan harapan mereka pada kedatangan Mesias, keturunan Daud.
Perhatikan Lukas 22:67-71, dialog antara Yesus dangan imam-imam dalam pengadilan bangsa Yahudi
67 ”,… katanya: “Jikalau Engkau adalah Mesias, katakanlah kepada kami.” Jawab Yesus: “Sekalipun Aku mengatakannya kepada kamu, namun kamu tidak akan percaya;  68 dan sekalipun Aku bertanya sesuatu kepada kamu, namun kamu tidak akan menjawab.  69 Mulai sekarang Anak Manusia sudah duduk di sebelah kanan Allah Yang Mahakuasa.”  70 Kata mereka semua: “Kalau begitu, Engkau ini Anak Allah?” Jawab Yesus: “Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah.”  71 Lalu kata mereka: “Untuk apa kita perlu kesaksian lagi? Kita ini telah mendengarnya dari mulut-Nya sendiri.”
Dalam ayat-ayat di atas jelas bahwa mereka percaya bahwa Mesias (ayat 67) adalah Anak Allah (ayat 70), tetapi hukuman mati dijatuhkan karena mereka ”tidak percaya” bahwa Yesus adalah Anak Allah (ayat 71).  Jika seorang yang bukan Mesias mengaku sebagai Mesias, maka hukuman mati pantas dijatuhkan kepada orang itu karena ia menganggap diri sebagai Mesias, Anak Allah, Oknum yang Ilahi, setara dengan Allah.  Tetapi karena ketidakpercayaan merekalah maka Yesus dijatuhi hukuman mati.  Perhatikan kontras antara kepercayaan mereka tentang Mesias dan ketidakpercayaan mereka bahwa Yesuslah Mesias dalam Matius 26:63-66,
”,…kata Imam Besar itu kepada-Nya: “Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak.” Jawab Yesus: “Engkau telah mengatakannya,… Maka Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: “Ia menghujat Allah,… ”Ia harus dihukum mati!”
Kontras antara kepercayaan mereka tentang Mesias ”,… apakah Engkau Mesias, Anak Allah,….” dan ketidakpercayaan mereka bahwa Yesus adalah Mesias “Ia menghujat Allah,…” dan ”Ia harus dihukum mati!” adalah sangat jelas.  Hal ini sangat berbeda dengan murid-murid Yesus yang percaya bahwa Yesus adalah Mesias, seperti pengakuan Marta (Yoh 11:27), ”,…’Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia.’” juga Petrus (Matius 16:16), ”,…Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!”

YESUS, SANG FIRMAN (HO LOGOS)

Pemahaman umat Kristen tentang Kristus sebagai Sang Firman, bersumber dari tulisan-tulisan Yohanes (Perjanjian Baru), Yohanes 1:1-3, 14; 1 Yoh 1:1; dan Wahyu 19:13.


Perhatikan Yohanes 1:1,
Ἐν ἀρχῇ ἦν ὁ λόγος, καὶ ὁ λόγος ἦν πρὸς τὸν θεόν, καὶ θεὸς ἦν ὁ λόγος.
en arkhe ēn ho logos, kai ho logos ēn pros ton theon, kai theos ēn ho logos
Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. 

Kita akan membahas secara mendalam frasa-frasa dalam Yohanes 1:1 ini untuk menyelidiki apa sebenarnya kebenaran yang Yohanes ungkapkan tentang logos, perhatikan frasa pertama,
Ἐν ἀρχῇ ἦν ὁ λόγος
en arkhe ēn ho logos
Pada mulanya adalah Firman;

Frasa “Pada mulanya adalah Firman” menjelaskan tentang pra-eksistensi logos.  Frasa ’Pada mulanya’ menunjukkan pada waktu di masa lalu.  Sedangkan Firman (ho logos) adalah Nominative/Subyek dalam frasa tersebut.  Di antara kedua kata tersebut, ’pada mulanya’ dan ’Firman’ terdapat sebuah kata verb to be h=n (ēn, ada/adalah) dalam tensa imperfect bukan dalam tensa aorist.  Kombinasi ’en arkhe + ēn’ menjelaskan bahwa logos (Nominative/subyek) memang pada mulanya sedang eksis terus menerus (imperfect).  Firman telah dan sedang selalu ada” (imperfect) bukan telah ada (aorist).  Jika kata ’ada/adalah’ menggunakan tensa aorist maka logos pernah tidak ada dan mulai ada pada satu titik waktu tertentu. 

Frasa ”pada mulanya” (en arkhe) disebutkan juga dalam 1:2

οὗτος ἦν ἐν ἀρχῇ πρὸς τὸν θεόν.
houtos ēn en arkhe pros ton theon.
Ia ada pada mulanya bersama Allah. 

Sekali lagi kata ēn (imperfect) dikombinasikan dengan ’pada mulanya’ (en arkhe) bahkan ’bersama’ (pros) Allah.  Dan karena kata ’ada/adalah’ (ēn) menggunakan tensa imperfect maka tidak ada alasan untuk membantah bahwa logos eksis bersama Allah, kekal tanpa awal.

Bagaimana dengan frasa kedua?

καὶ ὁ λόγος ἦν πρὸς τὸν θεόν
kai ho logos en pros ton theon
Firman itu bersama-sama dengan Allah

Firman itu (ho logos) bersama-sama dengan (pros) Allah.  Frasa ini sangat mirip dengan Frasa dalam 1 Yohanes 1:2,

τὴν ζωὴν τὴν αἰώνιον ἥτις ἦν πρὸς τὸν πατέρα
ten zoen ten aionion hetis ēn pross ton patera
”,…hidup kekal, yang ada (ēn) bersama-sama dengan (pros) Bapa,…”

Sama seperti hidup kekal yang selalu/terus menerus ada (ēn: imperfect) bersama Bapa demikian juga dengan logos.  Ungkapan pros (bersama) juga berarti bahwa logos dibedakan dari Allah.  Inilah misteri Trinitas! Logos yang kekal ternyata dibedakan dari Allah.  Juga jangan lupa, bahwa kata ’ada/adalah’ (ēn) dalam frasa ini memakai tensa imperfect bukan aorist.  Dan kata ini (ēn), yang dikombinasikan dengan pros lebih mempertegas bahwa logos ’selalu sedang ada’ (ēn) ’bersama dan berbeda dengan Allah, kekal tanpa awal.

Perhatikan penggunaan kata ’ada’ (ēn; imperfect) yang sama ”,…hidup kekal, yang ada (ēn) bersama-sama (pros) dengan Bapa,…” (1 Yohanes 1:2) yang menjelaskan bahwa hidup kekal selalu ada bersama Bapa.  Apakah Bapa pernah tidak memiliki hidup kekal? Tidak ada alasan untuk membantah bahwa Yesus pernah tidak ada.

Frasa ketiga adalah frasa yang sangat kontroversial dalam pembahasan ini.  Mengenai frasa ini, telah kita bahas dalam Bagian I, bahwa dalam bahasa Yunani, Kata Sandang tidak pernah, digunakan untuk membuat sesuatu yang tidak pasti (indefinite) menjadi pasti (definite).  Kata Sandang (The Article) dalam bahasa Yunani digunakan untuk menyatakan status nominal, dan mengekspresikan kata yang diikutinya.  Saya juga telah menjelaskan bahwa, baik kata theos, maupun logos, keduanya adalah kata benda Nominative/Subyek.  Dan dalam kaidah bahasa Yunani, jika dua kata benda Nominative/Subyek ada dalam sebuah kalimat dan salah satu kata benda tidak memiliki kata sandang, maka kata benda tanpa kata sandang tersebut adalah Predicate Nominative (Nominative yang berfungsi sebagai predikat).  Perhatikan contoh lain dalam Perjanjian Baru

Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: “Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa”

Ayat ini adalah penggalan dari kisah perempuan berdosa yang membasahi kaki Yesus dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian meminyaki kaki Yesus (Lukas 7:36-50).  Perhatikan frasa ‘bahwa perempuan itu (he gune) adalah seorang berdosa (hamartolos).’ Kedua kata tersebut ‘perempuan (he gune)’ dan ‘seorang berdosa (hamartolos)’ adalah kata benda nominative/subyek.  Kata ‘perempuan’ menggunakan kata sandang he (kata sandang feminine, untuk nominative/subyek), sedangkan kata hamartolos (orang berdosa) kata benda, nominative/subyek, tanpa kata sandang.  Akan aneh jika frasa ini diterjemahkan ‘perempuan itu adalah suatu dosa (kata sifat).  Jadi seperti kita telah lihat bahwa dalam kaidah Bahasa Yunani sebuah kata benda tidak pernah diartikan sebagai kata sifat, karena kata sifat memiliki karakteristik tersendiri.

The Greco-Roman World of the New Testament Era: Exploring the Background of Early Christianity

 

Frasa ini juga memuat kata ’ada/adalah’ (ēn) yang sama dengan dua frasa sebelumnya, dan sama dengan ayat 2.  Perhatikan frasa ini dan kita akan membahas lebih dalam.

καὶ θεὸς ἦν ὁ λόγος
kai theos en ho logos
dan firman itu adalah Allah (LAI)

Dalam bagian ini, ada sebuah tambahan yang akan melengkapi penjelasan terhadap frasa ini.  Jika dalam bagian-bagian sebelumnya kita telah meneliti bahwa Firman (logos) adalah Allah, bukan ’suatu allah’, atau ’bersifat ilahi’, maka dalam bagian ini kita akan buktikan bahwa logos adalah ALLAH SEJATI.

Pertama, harus diketahui bahwa dalam bahasa Yunani ada kata sifat untuk Allah (Indonesia: “ilahi”), kata sifat “ilahi” dalam bahasa Yunani adalah θεῖος (maskulin), θεῖνα (feminin) dan θεῖνον (netral),  Kata sifat dapat menggunakan dan dapat tidak menggunakan artikel (kata sandang).  Jadi kata sifat dalam bahasa Yunani memiliki karakteristiknya sendiri.  Kata θεὸς (Kata benda Nominative) tidak pernah digunakan sebagai kata sifat dan tidak akan pernah berubah menjadi kata sifat.

Kedua, bahasa Yunani adalah bahasa yang sangat kompleks, dan hal itu memberikan manfaat yang besar bagi penulisan
sebuah kitab suci, sebab kalimat-kalimat Yunani tidak mungkin punya dua atau lebih arti.  Kompleksitas bahasa Yunani memungkinkan kita memahami sebuah kalimat tanpa dualisme makna.

Jewish Backgrounds of the New Testament

 

Dalam Yoh 1:1c, Frasa ’Firman itu adalah (ēn) Allah’ sekali lagi mengungkapkan kekekalan logos, karena frasa itu menggunakan tensa Imperfect untuk kata ’adalah’ (ēn).  Perhatikan bahwa kata ’ada/adalah’ (ēn) digunakan pada seluruh ayat 1, baik dalam frasa pertama, ”Pada mulanya adalah (ēn) Firman”, frasa kedua ”Firman itu (ada/adalah; en) bersama-sama dengan Allah” maupun frasa ketiga ”Firman itu adalah (ēn) Allah”.  Hal ini menjelaskan, bahwa hakekat logos berlangsung dalam suasana Imperfect.  Berlangsung terus menerus pada masa lalu dan ini berarti kekal tanpa awal, Logos bersama dan berbeda dengan Allah tetapi juga adalah Allah.  Sangat tidak tepat dan sangat keliru jika dikatakan bahwa logos bukan Allah sejati! Bahasa Indonesia sangat jauh berbeda dengan bahasa Yunani, dan hal ini menyebabkan keterbatasan pengertian terhadap teks Yohanes 1:1.  Jadi tidak ada lagi alasan untuk membantah bahwa Yesus adalah Allah Sejati.

YESUS KRISTUS ADALAH ALLAH

Pembahasan Keilahian Yesus Kristus adalah hal yang sangat sulit dipahami oleh akal bila kita setuju bahwa hanya ada satu Allah saja (dari segi jumlah).  Sedangkan Alkitab mengemukakan bahwa Yesus adalah manusia dari satu sisi dan Yesus adalah Allah yang berbeda dengan Bapa pada sisi lain seperti yang akan kita lihat pada pembahasan ini.


Kenyataan bahwa Yesus adalah seorang manusia sangat dapat dipahami. Alkitab (Perjanjian Baru) mengindikasikan hal itu.  Perjanjian Baru menyebutkan ciri-ciri Yesus sebagai seorang manusia.  Hal ini hanya akan kita lihat secara sepintas saja.
Pada waktu Yesus berpuasa selama empat puluh hari Ia menjadi lapar.  ”Di situ Ia tinggal empat puluh hari lamanya dan dicobai Iblis.  Selama di situ Ia tidak makan apa-apa dan sesudah waktu itu Ia lapar. (Lukas 4:2).  Rasa lapar adalah manusiawi dan ini jelas menunjukkan bahwa Yesus adalah manusia sejati;
Yesus juga menjadi letih, ”Di situ terdapat sumur Yakub.  Yesus sangat letih oleh perjalanan” (Yohanes 4:6).  Menjadi letih adalah sifat fisik manusia, jadi berdasarkan sifat fisik ini, Yesus, seperti diungkapkan ayat tersebut adalah manusia sejati; 
Yesus juga tertidur, ”Dan ketika mereka sedang berlayar, Yesus tertidur,…(Lukas 8:23).  Pernyataan bahwa Yesus tertidur membuktikan bahwa Ia membutuhkan istirahat.  Hanya fisik yang rapuh dan lemah dari sifat manusiawilah yang membutuhkan istirahat.  Jika Yesus bukan manusia maka ia tidak akan lapar, letih dan tertidur (perlu istirahat). 

Tetapi pokok permasalahan kita bukanlah kemanusiaan Yesus.  Pembahasan kita adalah mengenai keilahian Yesus.  Ada beberapa terminologi yang akan kita bahas dalam tulisan ini, yang akan kita teliti secara mendalam.  Terminologi-terminologi itu adalah, Logos, Anak Allah, Anak Manusia, Tuhan, Ego Eimi semuanya dari Perjanjian Baru, dan dari Perjanjian Lama secara khusus, Theophanic Angel (Malakh Panayu : Malaikat Wajah) serta beberapa terminologi serupa lainnya.

ALLAH ADALAH ESA

             Di kalangan Gereja mula-mula dan Umat Yahudi terdapat pemahaman yang unik tentang Allah dan Mesias.  Pemahaman ini tidak menimbulkan masalah bagi mereka.  Tetapi setelah sejumlah orang mulai mengajarkan pemahaman mereka yang keliru, dimulailah perdebatan-perdebatan tentang Trinitas dalam gereja.  Hingga konsili-konsili digelar untuk memperoleh pemahaman yang benar dari Alkitab dan pemimpin-pemimpin gereja pada masa itu.
Ajaran-ajaran tentang Allah, Yesus dan Roh Kudus yang berbeda-beda ini memaksa gereja mengambil sikap.  Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru menjadi patokan,  para pemimpin gereja (uskup-uskup dari 5 wilayah keuskupan) pada masa itu dipanggil untuk bertemu dan membahas masalah ini.  Kemudian berdasarkan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru diputuskanlah iman Kristen tentang Allah, Yesus dan Roh Kudus.

Pembahasan tentang Trinitas dalam tulisan ini tidak memuat penjelasan dari sejarah, jadi murni dari Alkitab.  Sehingga tidak ada alasan untuk berkata bahwa ajaran tentang Trinitas tidak Alkitabiah.  

Keesaan Allah adalah hal mutlak yang tidak dapat diganggu gugat, sesuai iman Kristen dan Yahudi.  Alkitab sendiri memuat pernyataan Allah itu esa.  Istilah Trinitas atau Tritunggal tidak terdapat dalam Alkitab (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru).  Istilah ini digunakan karena keperluan gereja untuk menjelaskan tentang Allah yang esa di satu pihak, dan penjelasan Alkitab bahwa Yesus dan Roh Kudus juga sebagai Allah di lain pihak, bukan sebagai Oknum yang sama tetapi tiga Oknum yang berbeda.  Bagaimana menjelaskan adanya tiga oknum Ilahi yang berbeda, sejati dan kekal, tetapi esa (satu dalam arti jumlah)?  Untuk maksud itulah Gereja menggunakan istilah Trinitas (Tritunggal).
Ada sangat banyak ayat-ayat Alkitab yang mengatakan atau menyiratkan bahwa Allah itu esa/satu, bahkan terlalu banyak untuk disebutkan satu demi satu.  Baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru menyatakan Allah itu esa/satu.  Kita akan melihat ayat-ayat itu sepintas, karena kita sepakat bahwa Allah itu esa/satu.
Kita mulai dengan ayat-ayat Perjanjian Lama secara khusus Ulangan 4:35, 39, dan 6:4, dalam penjelasan Musa kepada Umat Israel, Musa menyebutkan bahwa Allah itu esa/satu (Ibrani: ekhad),
Engkau diberi melihatnya untuk mengetahui, bahwa Tuhanlah Allah, tidak ada yang lain kecuali Dia.  Ulangan 4:35
Sebab itu ketahuilah pada hari ini dan camkanlah, bahwa Tuhanlah Allah yang di langit di atas dan di bumi di bawah, tidak ada yang lain.  Ulangan 4:39
Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!
Ulangan 6:4.
Dan sebuah pernyataan Allah sendiri tentang diri-Nya (32:39).
Lihatlah sekarang, bahwa Aku, Akulah Dia. Tidak ada Allah kecuali Aku. Akulah yang mematikan dan yang menghidupkan, Aku telah meremukkan, tetapi Akulah yang menyembuhkan, dan seorangpun tidak ada yang dapat melepaskan dari tangan-Ku.  Ulangan 32:39
Iman monoteisme Perjanjian Lama jelas bahwa Allah adalah esa/satu.  Bagaimana dengan Perjanjian Baru?  Yesus dalam Perjanjian Baru juga mengakui Allah itu Esa, Ia mengutip Perjanjian Lama (Ulangan 6:4),
Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.  Markus 12:29.
Kata esa dalam ayat ini diterjemahkan dari kata heis (Cardinal Number, masculine) yang menyatakan jumlah: satu.  Selain itu Paulus dalam surat kepada jemaat di Korintus mengatakan,”,…tidak ada Allah lain dari pada Allah yang esa (heis).” 1 Korintus 8:4.  Juga sebuah pistis formule dalam surat Paulus kepada jemaat di Korintus,
Namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.  1 Korintus 8:6
Dapat kita lihat baris-baris puisi tentang keesaan Allah dalam ayat ini,
            satu Allah saja                                                 satu Tuhan saja
            yaitu Bapa                                                       yaitu Yesus Kristus
            yang daripada-Nya                                         yang oleh-Nya
segala sesuatu berasal                                      segala sesuatu telah dijadikan
dan yang untuk Dia                                        dan yang karena Dia
kita hidup                                                        kita hidup
Kata ’satu’ dalam kedua ungkapan ’satu Allah’ dan ’satu Tuhan’ diterjemahkan dari kata heis.   Dan dengan kata yang sama juga Paulus menulis surat kepada Timotius ”Karena Allah itu esa (heis) ,…” 1 Timotius 2:5.  Begitu juga kepada jemaat di Roma, Paulus menulis
”,…adakah Allah hanya Allah orang Yahudi saja? Bukankah Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain? Ya, benar.  Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain! Artinya, kalau ada satu (heis) Allah, yang akan membenarkan baik orang-orang bersunat karena iman, maupun orang-orang tak bersunat juga karena iman,…” Roma 3:29-30.

Jadi jelas, mau atau tidak, iman Kristen harus mengakui hanya ada satu Allah saja dalam arti jumlah.  Dan saya pikir, baik kaum Unitarian maupun Umat Kristen sepakat dalam hal ini, yaitu hanya ada satu Allah saja dalam arti jumlah. 

Kesalahan Kaum Unitarian

Pernyataan Frans Donald bahwa ”,…setiap orang dapat merumuskan iman berdasarkan hati nurani dan akal sehatnya” menunjukkan bahwa iman Frans Donald bergantung pada sesuatu yang lemah.  Iman Kristen tidak bergantung pada hati nurani dan akal sehat, tetapi pada Firman Allah.  Jika akal sehat menjadi ukuran, maka kedudukan akal sehat lebih tinggi daripada Firman Allah.  Semoga Frans Donald siap mengganti dasar imannya dari hati nurani dan akal sehat yang terlalu rapuh dan telah dipengaruhi dosa dengan Firman Allah yang kokoh.
Pemahaman Frans Donald tentang Trinitas keliru, Frans Donald seolah mencari jalan tengah.  Saya kuatir iman Frans Donald adalah iman sinkritis alias iman campur aduk.  Buku-buku Frans Donald belum membicarakan Trinitas.  Dalam buku-bukunya, tersirat bahwa Frans Donald memahami Trinitas sebagai Modalisme atau bahkan Triteisme.
Metodologi penelitian Frans Donald sangat tidak ilmiah.  Dengan segala cara, Frans Donald berusaha membuktikan teorinya.   Pada dasarnya, setelah membaca buku-buku Frans Donald, saya menyimpulkan, pertama, Frans Donald melakukan penelitian yang bersifat deduktif.  Artinya, Frans Donald  sudah mempunyai konsep terlebih dahulu baru mencari ayat-ayat pendukung.  Bahkan terkesan memaksakan ayat-ayat yang sama sekali tidak berhubungan dengan konteks pembahasan untuk memihak pada konsepnya.  Kedua, Frans Donald  melakukan penafsiran eisegesis yaitu memasukkan arti ke dalam teks Alkitab, bukan eksegesis, menarik arti dari dalam teks.  Cara ini (eisegesis, akan terlihat pada ayat-ayat yang dibahas) sangat tidak Alkitabiah, sekalipun ayat yang dibahas adalah ayat Alkitab.  Ketiga, Frans Donald  juga melakukan pengutipan secara tidak utuh, yaitu mengutip sebagian pendapat yang dianggap dapat mendukung teori Frans Donald , sementara maksud atau tujuan yang sesungguhnya, yang bahkan bertentangan dengan konsepnya tidak dikutip.  Keempat, jika ternyata ada ayat-ayat yang mendukung konsep bahwa Yesus adalah Allah (sejati) maka Frans Donald  mengurangi makna Allah menjadi ’allah’, atau ’bersifat allah’ dan mencari dukungan dengan mengangkat ayat-ayat tentang ’allah’ dengan tujuan memaksakan konsep bahwa kata ’Allah’ dalam sebuah ayat tidak harus diartikan sebagai ’Allah Sejati’.  Terakhir, Frans Donald  juga memuat ayat-ayat terjemahan-terjemahan Alkitab untuk memaksakan konsep bahwa Yesus bukanlah Allah yang setara dengan Allah sejati sekalipun ayat tersebut berkata bahwa Yesus adalah Allah dan memaksakan penafsiran bahwa ayat itu tidak berkata bahwa Yesus adalah Allah sejati.
Saya tidak akan membahas seluruh isi buku-buku Frans Donald .  Hanya bagian-bagian yang berhubungan dengan Alkitab yang Frans Donald  pakai sebagai alibi untuk menyerang Trinitas, meluruskan makna ayat-ayat yang digunakan dan menjawab dengan bukti-bukti Alkitab bahwa Trinitas itu Alkitabiah dan layak dipercaya.  Jika sebuah bagian dari buku Frans Donald  tidak saya bahas, itu berarti bahwa bagian tersebut tidak ada hubungan dengan konsep Trinitas atau saya tidak merasa bagian itu penting untuk dibahas atau bagian tersebut tidak ada masalah dengan pemahaman Kristen tentang Trinitas.
Saya juga tidak akan memberi komentar atas ayat-ayat Al Qur’an, Hadits dan pendapat-pendapat dari tokoh-tokoh dalam buku-buku Frans Donald .  Karena saya bukan seorang mufasir, saya tidak akan menafsirkan Al’Quran.  Juga karena Al Qur’an bukan Kitab Suci saya, saya ingin konsisten dengan ”etika iman” bahwa Kitab Suci sebuah agama tidak boleh ditafsirkan atau dijelaskan dari kacamata di luar iman Kitab Suci tersebut.  Karena itulah, untuk menghormati Umat Islam, saya tidak akan membahas  ayat-ayat Al Qur’an, dan Hadits.
Kemudian untuk memberi pemahaman yang benar dan Alkitabiah mengenai Trinitas, saya akan menjelaskan Trinitas (bukan Triteisme atau Modalisme) dari Alkitab tentunya.  Mengenai terjemahan, saya memakai Alkitab Terbitan LAI sebagai bahan pembahasan.  Sementara Alkitab dengan bahasa-bahasa Asli, yakni Alkitab Bahasa Ibrani, Perjanjian Lama dan Alkitab Bahasa Yunani, Perjanjian Baru akan saya pakai untuk mendapatkan pengertian yang lebih mendalam terhadap kata atau frasa dalam sebuah ayat.  Untuk Alkitab berbahasa Inggris saya menggunakan New American Standard Bible (NASB) dan New International Version (NIV).  Kedua Alkitab tersebut diterjemahkan langsung dari Greek New Testament (GNT) dan berusaha untuk sedekat mungkin dengan bahasa Asli.  Selamat menyelidiki. Tuhan menyertai Anda!

http://form.jotform.me/form/21027945164452