Yesus Kristus Anak Allah

Istilah-istilah Anak Allah, Anak Manusia dan Tuhan dipahami bangsa Yahudi sebagai gelar-gelar yang dipakai untuk Mesias.  Matius 26:63 mengungkapkan kepercayaan Imam Besar bangsa Yahudi tentang Mesias, ”,…kata Imam Besar itu kepada-Nya: “Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak.”  Terungkap bahwa dalam pemahaman Imam Besar (dan Bangsa Yahudi) bahwa Mesias adalah Anak Allah.  Juga pengakuan Petrus (Matius 16:16)

”,…Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” 

dan tujuan penulisan Injil Yohanes, 

tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya. (Yoh 20:31)
Kita akan membahas ayat-ayat Alkitab yang memuat kata Anak Allah agar kita mendapat pengertian yang benar tentang terminologi tersebut. 
Matius 4:3 dan Lukas 4:3
Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.” Mat.  4:3
Lalu berkatalah Iblis kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, suruhlah batu ini menjadi roti.” Luk 4:3.
Sengaja saya memuat dua ayat paralel dalam Matius dan Lukas.  Perhatikan bahwa kedua ayat tersebut mengungkapkan bahwa Anak Allah sanggup memerintahkan/ menyuruh batu menjadi roti.  Dalam teks asli, kata ’perintahkanlah’ dan juga kata ’suruhlah’ (keduanya: eipe) adalah kata kerja, imperative, aorist, aktif.   Kata Kerja Imperative adalah sebuah kata perintah sehingga kata perintahkanlah dan suruhlah adalah sangat tepat! Terungkap dalam ayat-ayat ini bahwa Jika Engkau Anak Allah adalah Conditional Statement yang berhubungan dengan frasa memerintahkan batu menjadi roti.  Sebagai kesimpulan untuk ayat ini, Anak Allah dalam pemahaman, pola pikir dan sense of language bangsa Yahudi, berkuasa untuk memerintah/mencipta.’ Dan ini sejajar dengan Yoh 1:1-3
Matius 14:33
Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: “Sesungguhnya Engkau Anak Allah.”
Konteks ayat ini dimulai dari 14:21 yang menjelaskan peristiwa Yesus berjalan di atas air.  Ayat 33 adalah reaksi atas peristiwa tersebut.  Perhatikan tanggapan orang-orang dalam perahu, ”,…mereka menyembah Dia,…” dan ”katanya (seharusnya diterjemahkan ’kata mereka’, legontes) Sesungguhnya Engkau Anak Allah”
Tindakan mereka ”menyembah” (Yunani: prosekunesan) sebenarnya berarti ”membungkuk untuk mencium kaki” dan Yesus tidak menolak atau mencegah perlakuan mereka.  Pernyataan mereka terhadap Yesus yang berjalan di atas air, adalah kesimpulan mereka bahwa Yesus adalah Anak Allah.  Dalam pemahaman, pola pikir dan sense of language bangsa Yahudi, Anak Allah adalah Oknum yang berkuasa atas alam.
Yohanes 5:25 adalah pernyataan Yesus kepada para oposan yang menentang-Nya.
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya saatnya akan tiba dan sudah tiba, bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup
Para oposan tidak membantah pernyataan ini.  Dan hal ini mengindikasikan mereka setuju bahwa Anak Allah (Mesias) memiliki kuasa membangkitkan orang-orang mati pada akhir zaman.  Jadi dalam hal ini sangat jelas pemahaman, pola pikir dan sense of language bangsa Yahudi tentang Anak Allah, yaitu bahwa Anak Allah berkuasa membangkitkan orang-orang mati pada akhir zaman.
Matius 26:63-66.  Dalam sebuah pengadilan Agama Yahudi, Yesus diinterogasi,
63 ,…kata Imam Besar itu kepada-Nya: “Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak.” 64 Jawab Yesus: “Engkau telah mengatakannya.  Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit.”
kita lihat reaksi Imam Besar dan tanggapan imam-imam lainnya
65 Maka Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: “Ia menghujat Allah.  Untuk apa kita perlu saksi lagi? Sekarang telah kamu dengar hujat-Nya.  66 Bagaimana pendapat kamu?” mereka menjawab dan berkata: “Ia harus dihukum mati!”
Ayat-ayat yang sangat sederhana ini menjelaskan dengan sejelas-jelasnya bahwa menurut Hukum Taurat, pengakuan sebagai Anak Allah adalah penghujatan terhadap Allah dan menyebabkan Yesus pantas menerima hukuman mati.  Baca juga Yohanes 19:7, tuduhan orang-orang Yahudi, ketika Yesus di hadapan Pilatus,
Jawab orang-orang Yahudi itu kepadanya: “Kami mempunyai hukum dan menurut hukum itu Ia harus mati, sebab Ia menganggap diri-Nya sebagai Anak Allah.”
Perhatikan juga Yohanes 5:18
Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa
Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah.
Tidak perlu ragu, bahwa sebutan Anak Allah berhubungan dengan Oknum Ilahi.  Pengakuan Yesus sebagai Anak Allah menyebabkan Ia dianggap menghujat Allah dan pantas untuk dihukum mati.
Pertanyaan berikut yang penting adalah, jika bangsa Yahudi percaya bahwa Anak Allah adalah Oknum Ilahi (Yoh 19:7) yang setara dengan Bapa (Yoh 5:18), berkuasa untuk mencipta (Mat 4:3), berkuasa atas alam (Mat 14:21-33), dan berkuasa membangkitkan orang-orang mati (Yoh 5:25);  Mengapa Yesus dihukum mati atas pernyataan-Nya bahwa Ia adalah Anak Allah (Yoh 19:7)?
Masalah utama terletak pada ketidakpercayaan mereka bahwa Yesus adalah Mesias.  mereka percaya bahwa Mesias adalah Anak Allah (Mat 26:63)  tetapi mereka tidak percaya bahwa Yesuslah Mesias yang dijanjikan itu.  Hingga saat ini mereka (Bangsa Yahudi) masih menantikan kedatangan Mesias.  Bendera nasional mereka (Israel) saat ini, berlambangkan Star of David (Bintang Daud) menunjukkan harapan mereka pada kedatangan Mesias, keturunan Daud.
Perhatikan Lukas 22:67-71, dialog antara Yesus dangan imam-imam dalam pengadilan bangsa Yahudi
67 ”,… katanya: “Jikalau Engkau adalah Mesias, katakanlah kepada kami.” Jawab Yesus: “Sekalipun Aku mengatakannya kepada kamu, namun kamu tidak akan percaya;  68 dan sekalipun Aku bertanya sesuatu kepada kamu, namun kamu tidak akan menjawab.  69 Mulai sekarang Anak Manusia sudah duduk di sebelah kanan Allah Yang Mahakuasa.”  70 Kata mereka semua: “Kalau begitu, Engkau ini Anak Allah?” Jawab Yesus: “Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah.”  71 Lalu kata mereka: “Untuk apa kita perlu kesaksian lagi? Kita ini telah mendengarnya dari mulut-Nya sendiri.”
Dalam ayat-ayat di atas jelas bahwa mereka percaya bahwa Mesias (ayat 67) adalah Anak Allah (ayat 70), tetapi hukuman mati dijatuhkan karena mereka ”tidak percaya” bahwa Yesus adalah Anak Allah (ayat 71).  Jika seorang yang bukan Mesias mengaku sebagai Mesias, maka hukuman mati pantas dijatuhkan kepada orang itu karena ia menganggap diri sebagai Mesias, Anak Allah, Oknum yang Ilahi, setara dengan Allah.  Tetapi karena ketidakpercayaan merekalah maka Yesus dijatuhi hukuman mati.  Perhatikan kontras antara kepercayaan mereka tentang Mesias dan ketidakpercayaan mereka bahwa Yesuslah Mesias dalam Matius 26:63-66,
”,…kata Imam Besar itu kepada-Nya: “Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak.” Jawab Yesus: “Engkau telah mengatakannya,… Maka Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: “Ia menghujat Allah,… ”Ia harus dihukum mati!”
Kontras antara kepercayaan mereka tentang Mesias ”,… apakah Engkau Mesias, Anak Allah,….” dan ketidakpercayaan mereka bahwa Yesus adalah Mesias “Ia menghujat Allah,…” dan ”Ia harus dihukum mati!” adalah sangat jelas.  Hal ini sangat berbeda dengan murid-murid Yesus yang percaya bahwa Yesus adalah Mesias, seperti pengakuan Marta (Yoh 11:27), ”,…’Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia.’” juga Petrus (Matius 16:16), ”,…Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!”

YESUS, SANG FIRMAN (HO LOGOS)

Pemahaman umat Kristen tentang Kristus sebagai Sang Firman, bersumber dari tulisan-tulisan Yohanes (Perjanjian Baru), Yohanes 1:1-3, 14; 1 Yoh 1:1; dan Wahyu 19:13.


Perhatikan Yohanes 1:1,
Ἐν ἀρχῇ ἦν ὁ λόγος, καὶ ὁ λόγος ἦν πρὸς τὸν θεόν, καὶ θεὸς ἦν ὁ λόγος.
en arkhe ēn ho logos, kai ho logos ēn pros ton theon, kai theos ēn ho logos
Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. 

Kita akan membahas secara mendalam frasa-frasa dalam Yohanes 1:1 ini untuk menyelidiki apa sebenarnya kebenaran yang Yohanes ungkapkan tentang logos, perhatikan frasa pertama,
Ἐν ἀρχῇ ἦν ὁ λόγος
en arkhe ēn ho logos
Pada mulanya adalah Firman;

Frasa “Pada mulanya adalah Firman” menjelaskan tentang pra-eksistensi logos.  Frasa ’Pada mulanya’ menunjukkan pada waktu di masa lalu.  Sedangkan Firman (ho logos) adalah Nominative/Subyek dalam frasa tersebut.  Di antara kedua kata tersebut, ’pada mulanya’ dan ’Firman’ terdapat sebuah kata verb to be h=n (ēn, ada/adalah) dalam tensa imperfect bukan dalam tensa aorist.  Kombinasi ’en arkhe + ēn’ menjelaskan bahwa logos (Nominative/subyek) memang pada mulanya sedang eksis terus menerus (imperfect).  Firman telah dan sedang selalu ada” (imperfect) bukan telah ada (aorist).  Jika kata ’ada/adalah’ menggunakan tensa aorist maka logos pernah tidak ada dan mulai ada pada satu titik waktu tertentu. 

Frasa ”pada mulanya” (en arkhe) disebutkan juga dalam 1:2

οὗτος ἦν ἐν ἀρχῇ πρὸς τὸν θεόν.
houtos ēn en arkhe pros ton theon.
Ia ada pada mulanya bersama Allah. 

Sekali lagi kata ēn (imperfect) dikombinasikan dengan ’pada mulanya’ (en arkhe) bahkan ’bersama’ (pros) Allah.  Dan karena kata ’ada/adalah’ (ēn) menggunakan tensa imperfect maka tidak ada alasan untuk membantah bahwa logos eksis bersama Allah, kekal tanpa awal.

Bagaimana dengan frasa kedua?

καὶ ὁ λόγος ἦν πρὸς τὸν θεόν
kai ho logos en pros ton theon
Firman itu bersama-sama dengan Allah

Firman itu (ho logos) bersama-sama dengan (pros) Allah.  Frasa ini sangat mirip dengan Frasa dalam 1 Yohanes 1:2,

τὴν ζωὴν τὴν αἰώνιον ἥτις ἦν πρὸς τὸν πατέρα
ten zoen ten aionion hetis ēn pross ton patera
”,…hidup kekal, yang ada (ēn) bersama-sama dengan (pros) Bapa,…”

Sama seperti hidup kekal yang selalu/terus menerus ada (ēn: imperfect) bersama Bapa demikian juga dengan logos.  Ungkapan pros (bersama) juga berarti bahwa logos dibedakan dari Allah.  Inilah misteri Trinitas! Logos yang kekal ternyata dibedakan dari Allah.  Juga jangan lupa, bahwa kata ’ada/adalah’ (ēn) dalam frasa ini memakai tensa imperfect bukan aorist.  Dan kata ini (ēn), yang dikombinasikan dengan pros lebih mempertegas bahwa logos ’selalu sedang ada’ (ēn) ’bersama dan berbeda dengan Allah, kekal tanpa awal.

Perhatikan penggunaan kata ’ada’ (ēn; imperfect) yang sama ”,…hidup kekal, yang ada (ēn) bersama-sama (pros) dengan Bapa,…” (1 Yohanes 1:2) yang menjelaskan bahwa hidup kekal selalu ada bersama Bapa.  Apakah Bapa pernah tidak memiliki hidup kekal? Tidak ada alasan untuk membantah bahwa Yesus pernah tidak ada.

Frasa ketiga adalah frasa yang sangat kontroversial dalam pembahasan ini.  Mengenai frasa ini, telah kita bahas dalam Bagian I, bahwa dalam bahasa Yunani, Kata Sandang tidak pernah, digunakan untuk membuat sesuatu yang tidak pasti (indefinite) menjadi pasti (definite).  Kata Sandang (The Article) dalam bahasa Yunani digunakan untuk menyatakan status nominal, dan mengekspresikan kata yang diikutinya.  Saya juga telah menjelaskan bahwa, baik kata theos, maupun logos, keduanya adalah kata benda Nominative/Subyek.  Dan dalam kaidah bahasa Yunani, jika dua kata benda Nominative/Subyek ada dalam sebuah kalimat dan salah satu kata benda tidak memiliki kata sandang, maka kata benda tanpa kata sandang tersebut adalah Predicate Nominative (Nominative yang berfungsi sebagai predikat).  Perhatikan contoh lain dalam Perjanjian Baru

Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: “Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa”

Ayat ini adalah penggalan dari kisah perempuan berdosa yang membasahi kaki Yesus dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian meminyaki kaki Yesus (Lukas 7:36-50).  Perhatikan frasa ‘bahwa perempuan itu (he gune) adalah seorang berdosa (hamartolos).’ Kedua kata tersebut ‘perempuan (he gune)’ dan ‘seorang berdosa (hamartolos)’ adalah kata benda nominative/subyek.  Kata ‘perempuan’ menggunakan kata sandang he (kata sandang feminine, untuk nominative/subyek), sedangkan kata hamartolos (orang berdosa) kata benda, nominative/subyek, tanpa kata sandang.  Akan aneh jika frasa ini diterjemahkan ‘perempuan itu adalah suatu dosa (kata sifat).  Jadi seperti kita telah lihat bahwa dalam kaidah Bahasa Yunani sebuah kata benda tidak pernah diartikan sebagai kata sifat, karena kata sifat memiliki karakteristik tersendiri.

The Greco-Roman World of the New Testament Era: Exploring the Background of Early Christianity

 

Frasa ini juga memuat kata ’ada/adalah’ (ēn) yang sama dengan dua frasa sebelumnya, dan sama dengan ayat 2.  Perhatikan frasa ini dan kita akan membahas lebih dalam.

καὶ θεὸς ἦν ὁ λόγος
kai theos en ho logos
dan firman itu adalah Allah (LAI)

Dalam bagian ini, ada sebuah tambahan yang akan melengkapi penjelasan terhadap frasa ini.  Jika dalam bagian-bagian sebelumnya kita telah meneliti bahwa Firman (logos) adalah Allah, bukan ’suatu allah’, atau ’bersifat ilahi’, maka dalam bagian ini kita akan buktikan bahwa logos adalah ALLAH SEJATI.

Pertama, harus diketahui bahwa dalam bahasa Yunani ada kata sifat untuk Allah (Indonesia: “ilahi”), kata sifat “ilahi” dalam bahasa Yunani adalah θεῖος (maskulin), θεῖνα (feminin) dan θεῖνον (netral),  Kata sifat dapat menggunakan dan dapat tidak menggunakan artikel (kata sandang).  Jadi kata sifat dalam bahasa Yunani memiliki karakteristiknya sendiri.  Kata θεὸς (Kata benda Nominative) tidak pernah digunakan sebagai kata sifat dan tidak akan pernah berubah menjadi kata sifat.

Kedua, bahasa Yunani adalah bahasa yang sangat kompleks, dan hal itu memberikan manfaat yang besar bagi penulisan
sebuah kitab suci, sebab kalimat-kalimat Yunani tidak mungkin punya dua atau lebih arti.  Kompleksitas bahasa Yunani memungkinkan kita memahami sebuah kalimat tanpa dualisme makna.

Jewish Backgrounds of the New Testament

 

Dalam Yoh 1:1c, Frasa ’Firman itu adalah (ēn) Allah’ sekali lagi mengungkapkan kekekalan logos, karena frasa itu menggunakan tensa Imperfect untuk kata ’adalah’ (ēn).  Perhatikan bahwa kata ’ada/adalah’ (ēn) digunakan pada seluruh ayat 1, baik dalam frasa pertama, ”Pada mulanya adalah (ēn) Firman”, frasa kedua ”Firman itu (ada/adalah; en) bersama-sama dengan Allah” maupun frasa ketiga ”Firman itu adalah (ēn) Allah”.  Hal ini menjelaskan, bahwa hakekat logos berlangsung dalam suasana Imperfect.  Berlangsung terus menerus pada masa lalu dan ini berarti kekal tanpa awal, Logos bersama dan berbeda dengan Allah tetapi juga adalah Allah.  Sangat tidak tepat dan sangat keliru jika dikatakan bahwa logos bukan Allah sejati! Bahasa Indonesia sangat jauh berbeda dengan bahasa Yunani, dan hal ini menyebabkan keterbatasan pengertian terhadap teks Yohanes 1:1.  Jadi tidak ada lagi alasan untuk membantah bahwa Yesus adalah Allah Sejati.

YESUS KRISTUS ADALAH ALLAH

Pembahasan Keilahian Yesus Kristus adalah hal yang sangat sulit dipahami oleh akal bila kita setuju bahwa hanya ada satu Allah saja (dari segi jumlah).  Sedangkan Alkitab mengemukakan bahwa Yesus adalah manusia dari satu sisi dan Yesus adalah Allah yang berbeda dengan Bapa pada sisi lain seperti yang akan kita lihat pada pembahasan ini.


Kenyataan bahwa Yesus adalah seorang manusia sangat dapat dipahami. Alkitab (Perjanjian Baru) mengindikasikan hal itu.  Perjanjian Baru menyebutkan ciri-ciri Yesus sebagai seorang manusia.  Hal ini hanya akan kita lihat secara sepintas saja.
Pada waktu Yesus berpuasa selama empat puluh hari Ia menjadi lapar.  ”Di situ Ia tinggal empat puluh hari lamanya dan dicobai Iblis.  Selama di situ Ia tidak makan apa-apa dan sesudah waktu itu Ia lapar. (Lukas 4:2).  Rasa lapar adalah manusiawi dan ini jelas menunjukkan bahwa Yesus adalah manusia sejati;
Yesus juga menjadi letih, ”Di situ terdapat sumur Yakub.  Yesus sangat letih oleh perjalanan” (Yohanes 4:6).  Menjadi letih adalah sifat fisik manusia, jadi berdasarkan sifat fisik ini, Yesus, seperti diungkapkan ayat tersebut adalah manusia sejati; 
Yesus juga tertidur, ”Dan ketika mereka sedang berlayar, Yesus tertidur,…(Lukas 8:23).  Pernyataan bahwa Yesus tertidur membuktikan bahwa Ia membutuhkan istirahat.  Hanya fisik yang rapuh dan lemah dari sifat manusiawilah yang membutuhkan istirahat.  Jika Yesus bukan manusia maka ia tidak akan lapar, letih dan tertidur (perlu istirahat). 

Tetapi pokok permasalahan kita bukanlah kemanusiaan Yesus.  Pembahasan kita adalah mengenai keilahian Yesus.  Ada beberapa terminologi yang akan kita bahas dalam tulisan ini, yang akan kita teliti secara mendalam.  Terminologi-terminologi itu adalah, Logos, Anak Allah, Anak Manusia, Tuhan, Ego Eimi semuanya dari Perjanjian Baru, dan dari Perjanjian Lama secara khusus, Theophanic Angel (Malakh Panayu : Malaikat Wajah) serta beberapa terminologi serupa lainnya.

ALLAH ADALAH ESA

             Di kalangan Gereja mula-mula dan Umat Yahudi terdapat pemahaman yang unik tentang Allah dan Mesias.  Pemahaman ini tidak menimbulkan masalah bagi mereka.  Tetapi setelah sejumlah orang mulai mengajarkan pemahaman mereka yang keliru, dimulailah perdebatan-perdebatan tentang Trinitas dalam gereja.  Hingga konsili-konsili digelar untuk memperoleh pemahaman yang benar dari Alkitab dan pemimpin-pemimpin gereja pada masa itu.
Ajaran-ajaran tentang Allah, Yesus dan Roh Kudus yang berbeda-beda ini memaksa gereja mengambil sikap.  Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru menjadi patokan,  para pemimpin gereja (uskup-uskup dari 5 wilayah keuskupan) pada masa itu dipanggil untuk bertemu dan membahas masalah ini.  Kemudian berdasarkan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru diputuskanlah iman Kristen tentang Allah, Yesus dan Roh Kudus.

Pembahasan tentang Trinitas dalam tulisan ini tidak memuat penjelasan dari sejarah, jadi murni dari Alkitab.  Sehingga tidak ada alasan untuk berkata bahwa ajaran tentang Trinitas tidak Alkitabiah.  

Keesaan Allah adalah hal mutlak yang tidak dapat diganggu gugat, sesuai iman Kristen dan Yahudi.  Alkitab sendiri memuat pernyataan Allah itu esa.  Istilah Trinitas atau Tritunggal tidak terdapat dalam Alkitab (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru).  Istilah ini digunakan karena keperluan gereja untuk menjelaskan tentang Allah yang esa di satu pihak, dan penjelasan Alkitab bahwa Yesus dan Roh Kudus juga sebagai Allah di lain pihak, bukan sebagai Oknum yang sama tetapi tiga Oknum yang berbeda.  Bagaimana menjelaskan adanya tiga oknum Ilahi yang berbeda, sejati dan kekal, tetapi esa (satu dalam arti jumlah)?  Untuk maksud itulah Gereja menggunakan istilah Trinitas (Tritunggal).
Ada sangat banyak ayat-ayat Alkitab yang mengatakan atau menyiratkan bahwa Allah itu esa/satu, bahkan terlalu banyak untuk disebutkan satu demi satu.  Baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru menyatakan Allah itu esa/satu.  Kita akan melihat ayat-ayat itu sepintas, karena kita sepakat bahwa Allah itu esa/satu.
Kita mulai dengan ayat-ayat Perjanjian Lama secara khusus Ulangan 4:35, 39, dan 6:4, dalam penjelasan Musa kepada Umat Israel, Musa menyebutkan bahwa Allah itu esa/satu (Ibrani: ekhad),
Engkau diberi melihatnya untuk mengetahui, bahwa Tuhanlah Allah, tidak ada yang lain kecuali Dia.  Ulangan 4:35
Sebab itu ketahuilah pada hari ini dan camkanlah, bahwa Tuhanlah Allah yang di langit di atas dan di bumi di bawah, tidak ada yang lain.  Ulangan 4:39
Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!
Ulangan 6:4.
Dan sebuah pernyataan Allah sendiri tentang diri-Nya (32:39).
Lihatlah sekarang, bahwa Aku, Akulah Dia. Tidak ada Allah kecuali Aku. Akulah yang mematikan dan yang menghidupkan, Aku telah meremukkan, tetapi Akulah yang menyembuhkan, dan seorangpun tidak ada yang dapat melepaskan dari tangan-Ku.  Ulangan 32:39
Iman monoteisme Perjanjian Lama jelas bahwa Allah adalah esa/satu.  Bagaimana dengan Perjanjian Baru?  Yesus dalam Perjanjian Baru juga mengakui Allah itu Esa, Ia mengutip Perjanjian Lama (Ulangan 6:4),
Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.  Markus 12:29.
Kata esa dalam ayat ini diterjemahkan dari kata heis (Cardinal Number, masculine) yang menyatakan jumlah: satu.  Selain itu Paulus dalam surat kepada jemaat di Korintus mengatakan,”,…tidak ada Allah lain dari pada Allah yang esa (heis).” 1 Korintus 8:4.  Juga sebuah pistis formule dalam surat Paulus kepada jemaat di Korintus,
Namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.  1 Korintus 8:6
Dapat kita lihat baris-baris puisi tentang keesaan Allah dalam ayat ini,
            satu Allah saja                                                 satu Tuhan saja
            yaitu Bapa                                                       yaitu Yesus Kristus
            yang daripada-Nya                                         yang oleh-Nya
segala sesuatu berasal                                      segala sesuatu telah dijadikan
dan yang untuk Dia                                        dan yang karena Dia
kita hidup                                                        kita hidup
Kata ’satu’ dalam kedua ungkapan ’satu Allah’ dan ’satu Tuhan’ diterjemahkan dari kata heis.   Dan dengan kata yang sama juga Paulus menulis surat kepada Timotius ”Karena Allah itu esa (heis) ,…” 1 Timotius 2:5.  Begitu juga kepada jemaat di Roma, Paulus menulis
”,…adakah Allah hanya Allah orang Yahudi saja? Bukankah Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain? Ya, benar.  Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain! Artinya, kalau ada satu (heis) Allah, yang akan membenarkan baik orang-orang bersunat karena iman, maupun orang-orang tak bersunat juga karena iman,…” Roma 3:29-30.

Jadi jelas, mau atau tidak, iman Kristen harus mengakui hanya ada satu Allah saja dalam arti jumlah.  Dan saya pikir, baik kaum Unitarian maupun Umat Kristen sepakat dalam hal ini, yaitu hanya ada satu Allah saja dalam arti jumlah. 

Kesalahan Kaum Unitarian

Pernyataan Frans Donald bahwa ”,…setiap orang dapat merumuskan iman berdasarkan hati nurani dan akal sehatnya” menunjukkan bahwa iman Frans Donald bergantung pada sesuatu yang lemah.  Iman Kristen tidak bergantung pada hati nurani dan akal sehat, tetapi pada Firman Allah.  Jika akal sehat menjadi ukuran, maka kedudukan akal sehat lebih tinggi daripada Firman Allah.  Semoga Frans Donald siap mengganti dasar imannya dari hati nurani dan akal sehat yang terlalu rapuh dan telah dipengaruhi dosa dengan Firman Allah yang kokoh.
Pemahaman Frans Donald tentang Trinitas keliru, Frans Donald seolah mencari jalan tengah.  Saya kuatir iman Frans Donald adalah iman sinkritis alias iman campur aduk.  Buku-buku Frans Donald belum membicarakan Trinitas.  Dalam buku-bukunya, tersirat bahwa Frans Donald memahami Trinitas sebagai Modalisme atau bahkan Triteisme.
Metodologi penelitian Frans Donald sangat tidak ilmiah.  Dengan segala cara, Frans Donald berusaha membuktikan teorinya.   Pada dasarnya, setelah membaca buku-buku Frans Donald, saya menyimpulkan, pertama, Frans Donald melakukan penelitian yang bersifat deduktif.  Artinya, Frans Donald  sudah mempunyai konsep terlebih dahulu baru mencari ayat-ayat pendukung.  Bahkan terkesan memaksakan ayat-ayat yang sama sekali tidak berhubungan dengan konteks pembahasan untuk memihak pada konsepnya.  Kedua, Frans Donald  melakukan penafsiran eisegesis yaitu memasukkan arti ke dalam teks Alkitab, bukan eksegesis, menarik arti dari dalam teks.  Cara ini (eisegesis, akan terlihat pada ayat-ayat yang dibahas) sangat tidak Alkitabiah, sekalipun ayat yang dibahas adalah ayat Alkitab.  Ketiga, Frans Donald  juga melakukan pengutipan secara tidak utuh, yaitu mengutip sebagian pendapat yang dianggap dapat mendukung teori Frans Donald , sementara maksud atau tujuan yang sesungguhnya, yang bahkan bertentangan dengan konsepnya tidak dikutip.  Keempat, jika ternyata ada ayat-ayat yang mendukung konsep bahwa Yesus adalah Allah (sejati) maka Frans Donald  mengurangi makna Allah menjadi ’allah’, atau ’bersifat allah’ dan mencari dukungan dengan mengangkat ayat-ayat tentang ’allah’ dengan tujuan memaksakan konsep bahwa kata ’Allah’ dalam sebuah ayat tidak harus diartikan sebagai ’Allah Sejati’.  Terakhir, Frans Donald  juga memuat ayat-ayat terjemahan-terjemahan Alkitab untuk memaksakan konsep bahwa Yesus bukanlah Allah yang setara dengan Allah sejati sekalipun ayat tersebut berkata bahwa Yesus adalah Allah dan memaksakan penafsiran bahwa ayat itu tidak berkata bahwa Yesus adalah Allah sejati.
Saya tidak akan membahas seluruh isi buku-buku Frans Donald .  Hanya bagian-bagian yang berhubungan dengan Alkitab yang Frans Donald  pakai sebagai alibi untuk menyerang Trinitas, meluruskan makna ayat-ayat yang digunakan dan menjawab dengan bukti-bukti Alkitab bahwa Trinitas itu Alkitabiah dan layak dipercaya.  Jika sebuah bagian dari buku Frans Donald  tidak saya bahas, itu berarti bahwa bagian tersebut tidak ada hubungan dengan konsep Trinitas atau saya tidak merasa bagian itu penting untuk dibahas atau bagian tersebut tidak ada masalah dengan pemahaman Kristen tentang Trinitas.
Saya juga tidak akan memberi komentar atas ayat-ayat Al Qur’an, Hadits dan pendapat-pendapat dari tokoh-tokoh dalam buku-buku Frans Donald .  Karena saya bukan seorang mufasir, saya tidak akan menafsirkan Al’Quran.  Juga karena Al Qur’an bukan Kitab Suci saya, saya ingin konsisten dengan ”etika iman” bahwa Kitab Suci sebuah agama tidak boleh ditafsirkan atau dijelaskan dari kacamata di luar iman Kitab Suci tersebut.  Karena itulah, untuk menghormati Umat Islam, saya tidak akan membahas  ayat-ayat Al Qur’an, dan Hadits.
Kemudian untuk memberi pemahaman yang benar dan Alkitabiah mengenai Trinitas, saya akan menjelaskan Trinitas (bukan Triteisme atau Modalisme) dari Alkitab tentunya.  Mengenai terjemahan, saya memakai Alkitab Terbitan LAI sebagai bahan pembahasan.  Sementara Alkitab dengan bahasa-bahasa Asli, yakni Alkitab Bahasa Ibrani, Perjanjian Lama dan Alkitab Bahasa Yunani, Perjanjian Baru akan saya pakai untuk mendapatkan pengertian yang lebih mendalam terhadap kata atau frasa dalam sebuah ayat.  Untuk Alkitab berbahasa Inggris saya menggunakan New American Standard Bible (NASB) dan New International Version (NIV).  Kedua Alkitab tersebut diterjemahkan langsung dari Greek New Testament (GNT) dan berusaha untuk sedekat mungkin dengan bahasa Asli.  Selamat menyelidiki. Tuhan menyertai Anda!

http://form.jotform.me/form/21027945164452