Sejarah KGBI

I love to share this

Periode Awal : Pendirian KGPI/KGBI (1951 – 1957).

Sejarah Kerapatan Gereja Baptis Indonesia diawali dengan beberapa pemuda Minahasa dari Kerapatan Gereja Protestant Minahasa belajar di Sekolah Alkitab Makasar (Sekarang STT Jaffray) pada tahun 1940-an. Kemudian pada tahun 1951, Kerapatan Gereja Protestant Minahasa (KGPM) melaksanakan Kongres di Sonder. Pada hari pertama kongres (16 Oktober 1951) terjadilah perpisahan karena beberapa perbedaan pendapat, terutama mengenai 1. Pengajaran kelahiran baru (Pertobatan dan iman); 2. Pembaptisan selam bagi orang yang telah percaya; 3. Kehidupan Rohani, Bukti hidup sebagai orang percaya; 4. Ketaatan penuh pada Alkitab; dan 5. Pemberitaan Injil dan penanaman gereja di suku-suku lain. Sebagian gereja setempat menghendaki KGPM meninggalkan ciri kesukuan “Minahasa”. Kelompok pemuda, lulusan Sekolah Alkitab Makasar, yang memang banyak berbeda dalam ajaran (terutama karena bersifat evangelical/Injili) dan cita-cita menjangkau suku-suku lain di Indonesia ini, menghendaki KGPM meninggalkan ciri kesukuan ‘Minahasa’. Di antara mereka tersebutlah nama Pdt. Alex Freddy Tairas, Pdt. John Tangkau dan beberapa pendeta lainnya.

Hari pertama kongres akhirnya menjadi hari terakhir. 14 Gereja Setempat dan 35 Pendeta memisahkan diri dan mengubah kata Minahasa (Kerapatan Gereja Protestant Minahasa/KGPM) menjadi Indonesia (Kerapatan Gereja Protestan Indonesia/KGPI). Hari itu, 16 Oktober 1951 diresmikan sebagai hari lahir KGPI (Sekarang KGBI). KGPI di Minahasa akhirnya berkembang ke daerah-daerah suku-suku lain di Indonesia.

Tahun 1954, melalui kerja sama dengan Go Yee Fellowship (Pdt. Robert Williams) dimulailah pelayanan di Kalimantan Barat bersama dua keluarga utusan Injil yaitu keluarga Pdt. Jantje Terok dan keluarga Ibu Julien Tangkau-Umbas. Tahun berikutnya, tepatnya Agustus 1955, KGPI memulai juga pelayanan baru di Halmahera, Maluku. Pelayanan ini dirintis oleh Guru Injil H.A. Kasenda dan Guru Injil Daniel Lahu. KGPI terus menambah Utusan Injil pada tahun 1957. Pdt. E. E. Korengkeng, Ketua Pucuk Pimpinan pada waktu itu berangkat dari Minahasa, Sulawesi Utara menjadi Utusan Injil dan memulai pelayanan baru di daerah Meliau, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Kedatangan Nona Mien Wales di Halmahera turut menambah jumlah Utusan Injil KGPI di Maluku.

Periode Awal itu ditandai dengan kelanjutan dan pemulaian beberapa sekolah Alkitab di Kabupaten Minahasa dan satu Sekolah Alkitab di Halmahera (1957). Tuntutan pengembangan pelayanan pada waktu itu adalah perbanyak jumlah gembala dan penginjil.

Tahun 1957 – 1961 Situasi Pelayanan mengalami kelambatan dan keterbatasan untuk berkembang disebabkan perang saudara secara khusus di Sulawesi Utara (Permesta). Karena ketidakpastian yang timbul akibat perang saudara itu, pelayanan Pdt. E. E. Korengkeng di Kalimantan Barat tidak dapat diteruskan. Pdt. E. E. Korengkeng kemudian bergabung dengan GPKB (Gereja Protestan Kalimantan Barat).

Periode Penataan Pelayanan (1962 – 1970)

Selanjutnya kesadaran terhadap kepentingan tenaga Pekerja Gereja yang lebih berkualitas Pucuk Pimpinan KGBI (KGPI) mulai mendorong para pemuda-pemudi untuk belajar di Seminari Theologia Baptis di Semarang. Di akhir era itu sekali lagi Pucuk Pimpinan KGPI mencatat sejarah baru dengan memulai Seminari Theologia KGPI di Tondano suatu hasil penataan dari para pimpinan periode ini.

Periode Kebangkitan Kembali Gerakan Penanaman Gereja (1971-1990)

Hasil yang tidak pernah diimpikan adalah pendidikan theologia KGPI/KGBI telah menghasilkan banyak perubahan dalam pelayanan KGPI/KGBI. Pada periode ini Seminari KGPI ditingkatkan menjadi Seminari Theologia Indonesia (Sekarang Sekolah Tinggi Theologia Indonesia). Beberapa hamba Tuhan melakukan Studi lanjutan di dalam dan di luar negeri. Pada periode ini juga Sekolah Alkitab Halmahera di Tobelo dilanjutkan dan Seminari Theologia Kalimantan di Pontianak Kalimantan Barat dimulai.

Selain pengembangan pendidikan teologi, KGPI/KGBI melaksanakan kerja sama dengan Badan Misi di luar negeri, seperti CBM (CBOM, CBIM) dan IMB of SBC serta pengalokasian Wilayah Pelayanan Indonesia bagian Timur dan Indonesia bagian Barat.

Tahun 1974 adalah awal pengiriman kembali Utusan Injil setelah KGPI selama 18 tahun tidak pernah melaksanakan pengutusan Injil. Langkah ini telah menghasilkan sejumlah Utusan Injil KGPI/KGBI. Pada 1974 – 1988 KGPI/KGBI telah memulai pelayanan baru di Gorontalo, Kalimantan Barat, Sumatera Utara dan Sulawesi Tengah. Utusan Injil dikirim ke Kalimantan Barat, Gorontalo, Sumatera Utara, Maluku Utara, dan Sulawesi Tengah.

Selama menyandang nama Kerapatan Gereja Protestant Indonesia (KGPI) ada situasi seperti ‘Tanda tanya besar mengenai Identitas’. Denominasi ini menggunakan nama ‘Protestan’ tetapi melaksanakan baptisan secara selam. Kemudian pada tanggal 30 November 1979 dalam Kongres IX KGPI yang dilaksanakan tanggal 28 Nopember – 2 Desember 1979, diubahlah nama Kerapatan Gereja Protestan Indonesia (KGPI) menjadi Kerapatan Gereja Baptis Indonesia (KGBI). Pada peride ini juga KGBI telah melakukan tiga kali penyesuaian Anggaran Dasar (1979, 1987 dan 1988).

Hingga saat ini, KGBI telah mengutus penanam gereja di beberapa provinsi. KGBI telah memiliki empat Pengurus Wilayah Pelayanan yang meliputi lima provinsi (Sulawesi Utara, Maluku Utara, Kalimantan Barat dan Sumatera Utara-Riau) serta sembilan Koordinator Pelayanan yang mengkoordinasikan pelayanan di provinsi-provinsi lainnya, yaitu 1. Lampung, Jawa Barat, Banten dan Jakarta; 2. Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan NTB; 3. NTT; 4. Gorontalo; 5. Sulawesi Tengah; 6. Sulawesi Tenggara; 7. Kalimantan Timur; 8. Kalimantan Tengah; dan 9. Sulawesi Selatan.


I love to share this