Prinsip-prinsip Umat Baptis

I love to share this
  • 1
    Share

Dari sekian banyak aliran gereja, umat Baptis memiliki keunikan tersendiri dan berbeda dengan aliran-aliran lain.  Ada banyak persamaan dengan gereja-gereja lain dalam kepercayaannya, seperti Allah Tritunggal; Yesus Kristus adalah Allah yang menjadi manusia, menderita, disalibkan, mati dan dikuburkan, bangkit pada hari ketiga, naik ke surga dan akan datang kembali; Alkitab adalah Firman Allah; dan lain-lain   tetapi ada juga perbedaan-perbedaan dengan gereja-gereja lain. Bahkan perbedaan-perbedaan juga terdapat di antara kelompok-kelompok Baptis.  Tetapi ada hal-hal yang dipegang sebagai Prinsip Umat Baptis.

Umat Baptis memiliki tiga prinsip yang diterapkan dalam kehidupan mereka.  Prinsip-prinsip itu adalah, Kemerdekaan, Kesamaan dan Keberagaman.  Dan ketiga prinsip ini, diakui atau tidak, diterapkan oleh setiap denominasi Baptis

Prinsip Kemerdekaan

 

Umat Baptis sangat menekankan kemerdekaan dalam kehidupannya.  Baik kemerdekaan pribadi, kemerdekaan kelompok maupun kemerdekaan agama.

Kemerdekaan Pribadi.  Karena keselamatan bersifat pribadi, maka keputusan iman harus dibuat secara pribadi dan sukarela, tidak mewakili dan tidak diwakili oleh orang lain.  Setiap orang dapat membuat keputusan iman tanpa paksaan dari orang lain. Demikian juga dalam setiap keputusan yang berhubungan dengan iman, Umat Baptis berprinsip bahwa setiap orang merdeka untuk membuat keputusan iman sendiri.

Dalam hal keanggotaan gereja, setiap orang harus membuat keputusan sendiri dan sukarela untuk menjadi anggota gereja.  Bagi Umat Baptis, jika seseorang memutuskan untuk bergabung dengan sebuah gereja, maka ia mengikatkan diri dengan gereja secara sukarela dan berarti bahwa ia siap melaksanakan tugas-tugas dan tanggung jawab sebagai anggota gereja secara sukarela.

Kemerdekaan kelompok/gereja muncul karena sejarah Umat Baptis menunjukkan bahwa Umat Baptis tidak lahir dari satu sumber atau satu tokoh tertentu.   Kelompok-kelompok Baptis muncul dari latar belakang yang berbeda-beda.  Sebagian Umat Baptis bahkan menekankan begitu kuatnya kemerdekaan kelompok, sehingga menjadi kelompok (gereja) independen. Sementara sebagian lainnya mengatur sesuai dengan keputusan bersama kelompok-kelompok yang membuat kesepakatan tersebut.  Pada dasarnya Umat Baptis berusaha menekankan kemerdekaan kelompok mereka.

Kemerdekaan Agama adalah hal yang sangat diperjuangkan Umat Baptis.  Hal ini muncul karena Umat Baptis lahir di tengah-tengah tekanan dan penganiayaan.  Banyak tokoh-tokoh Umat Baptis yang mengalami penganiayaan karena paksaan untuk mengikuti satu kepercayaan tertentu.  Karena pengalaman inilah maka Umat Baptis memperjuangkan kemerdekaan agama.

Dalam sejarah gereja, telah terjadi penyimpangan terhadap tujuan Yesus bagi jemaat-Nya.  Di tempat Umat Baptis lahir, negara menguasai gereja, negara memilih pemimpin-peminpin gereja, sementara di tempat lain terjadi sebaliknya, gereja menguasai negara, gereja memilih dan mengatur para pemimpin negara.  Kedua hal inilah yang menyebabkan penyimpangan terhadap tujuan Yesus bagi Gereja-Nya.  Oleh karena itu Umat Baptis menekankan pemisahan gereja dan negara.  Gereja tidak menguasai Negara dan Negara tidak menguasai gereja.  Negara memiliki tanggung jawab sendiri dan gereja memiliki tanggung jawab sendiri.  Bagi umat Baptis, Kemerdekaan agama berarti agama tidak menguasai negara dan negara tidak menguasai agama.

Pertanyaan-pertanyaan
Mengapa Umat Baptis menekankan kemerdekaan pribadi, kemerdekaan kelompok dan kemerdekaan agama?
Apakah arti kemerdekaan pribadi, kemerdekaan kelompok, dan kemerdekaan agama?
Apakah prinsip Umat Baptis mengenai Gereja dan Negara atau Agama dan Negara?

Prinsip Kesamaan

Sebelum Umat Baptis hadir di Inggris, gereja-gereja di Inggris pada masa itu dipimpin oleh seorang imam yang dipilih oleh Raja (semacam gubernur negara bagian) atau Uskup, sehingga para rohaniawan kaya, yang hidup kerohaniannya tidak baik, dapat membeli jabatan imam dengan membayar kepada Raja atau Uskup.  Semakin besar gereja, yang tentu saja semakin besar persembahanan yang akan diperoleh oleh seorang imam, semakin besar “harga jual” gereja itu.

Hal ini, membuat sekelompok orang yang menghendaki pemimpin yang menjadi teladan hidup, menyelidiki Alkitab mengenai hal itu.  I Petrus 2:9 mengatakan

Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib,…

Ayat ini telah membuka mata sekelompok Umat Kristen dan ayat ini menjadi dasar bagi doktrin Imamat orang percaya, setiap orang percaya adalah imam di hadapan Allah.  Setiap orang percaya dapat memimpin jemaat dengan cara dipilih oleh jemaat. Bukan dipilih oleh uskup atau orang di luar jemaat.

Gereja Baptis tidak membuat pemisahan kaum rohaniawan dan kaum awam,  Setiap orang percaya adalah imam, jadi setiap orang percaya adalah rohaniawan.  Tetapi setiap orang melayani berdasarkan waktu yang dapat dipersembahkannya kepada Tuhan.  Ada orang yang mempersembahkan seluruh hidupnya bagi pekerjaan Tuhan, ada yang hanya memberikan sebagian saja dari waktunya untuk pelayanan.  Ada yang secara khusus mempersembahkan dirinya untuk diperlengkapi bagi pelayanan, tetapi semuanya memiliki hak dan tanggung jawab yang sama di hadapan Allah, semua wajib hidup dalam standar kesucian yang sama, semua bertanggung jawab untuk bersaksi.

Prinsip kesamaan ini menghilangkan perbedaan dalam Gereja Baptis.  Gereja Baptis tidak memberlakukan “pakaian khusus” untuk orang tertentu.  Pendeta/ Gembala dalam Gereja Baptis tidak berfungsi sebagai “Bapak Rohani”  tetapi sebagai pemimpin yang memperlengkapi jemaat karena mereka telah diperlengkapi secara khusus.  Efesus 4:11-12 menyatakan hal itu.

Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus,

Ini berarti bahwa orang-orang tertentu telah mempersembahkan seluruh hidupnya untuk diperlengkapi secara khusus dengan tujuan memperlengkapi setiap orang percaya bagi pembangunan tubuh Kristus.  Tugas membangun tubuh Kristus bukan hanya tugas pendeta atau golongan rohaniawan tertentu, tetapi seluruh anggota jemaat berkewajiban untuk bersama-sama membangun tubuh Kristus.

Pertanyaan-pertanyaan

Apakah yang dimaksud dengan Prinsip Kesamaan?
Apakah perbedaan Pendeta dengan anggota gereja dalam Gereja Baptis? Mengapa demikian?
Apakah persamaan Pendeta dengan anggota gereja dalam Gereja Baptis? Mengapa demikian?

Prinsip Keberagaman

Umat Baptis, sebagaimana kita ketahui, tidak muncul dari satu sumber atau satu orang, karena itu tidak ada Gereja Baptis yang sama.  Kesamaan Gereja-gereja Baptis terletak pada prinsip-prinsip yang mendasar. Seperti pertobatan harus mendahului baptisan, imamat orang percaya (semua orang percaya adalah imam di hadapan Allah),  Setiap orang harus mengambil keputusan pribadi mengenai imannya (prinsip kemerdekaan), dan lain-lain.  Tetapi ada perbedaan di antara gereja-gereja Baptis, bahkan dalam satu denominasi Baptis pun tidak setiap gereja Baptis persis sama, walaupun terdapat kesepakatan bersama, dalam pengakuan iman misalnya.  Karena prinsip kemerdekaan, maka Umat Baptis menghargai perbedaan pendapat.  Dengan demikian ada sebuah prinsip lagi di antara Umat Baptis yaitu Prinsip Keberagaman.   Ada sebuah frasa yang sangat terkenal di antara Umat Baptis yaitu, “Jika tiga orang Baptis berkumpul dan membicarakan satu doktrin, maka akan muncul empat pendapat.”  Frasa ini muncul karena adanya perbedaan-perbedaan di antara Umat Baptis.

Pada awal abad ke-18, di Eropa, diusahakanlah sebuah Gabungan (Union) di antara Gereja-gereja Baptis Umum.  Gabungan ini berjalan baik beberapa tahun.  Tetapi kemudian terjadilah gejolak ketika beberapa pemimpin Gabungan menyusun Daftar Pengakuan Iman, menyebarkan dan mewajibkan setiap gereja anggota Gabungan tersebut untuk menerima pengakuan iman itu.  Banyak gereja dalam Gabungan tersebut menolak daftar kepercayaan yang baku.  Pengakuan Iman yang baku dianggap membelenggu kebebasan berpendapat dalam Gabungan tersebut.  Banyak Gereja Baptis akhirnya keluar dari Gabungan dan menyusun daftar kepercayaan mereka dengan penekanan bahwa daftar kepercayaan hanyalah sebuah pedoman ringkas pengajaran bagi anggota-anggota gereja, yang tidak lebih tinggi dari Alkitab, tidak sejajar dengan Alkitab dan tidak dapat menggantikan Alkitab.

Pada umumnya daftar kepercayaan kelompok-kelompok Baptis adalah singkat, sederhana dan tidak mendetail.  Bagi rumpun Baptis, daftar kepercayaan juga tidak berkuasa mutlak atas anggota gereja (Prinsip kemerdekaan).  Hal ini membuka peluang bagi penyelidikan Alkitab dan perubahan-perubahan untuk lebih maju dalam iman, tetapi Alkitablah satu-satunya pedoman yang menjadi dasar iman Umat Baptis.  Bagi Umat Baptis Alkitab cukup.

Pertanyaan-pertanyaan

Mengapa tidak ada Gereja Baptis yang sama?
Apakah tolok ukur terakhir bagi umat Baptis?
Apakah pandangan Umat Baptis terhadap Alkitab dan Pengakuan Iman?

Karena prinsip keberagaman pula, dan untuk menghargai perbedaan pendapat di antara Umat Baptis, maka tulisan ini dibuat tidak dengan maksud untuk menjelaskan secara terperinci mengenai seluruh umat Baptis atau untuk mewakili semua Umat Baptis ataupun satu kelompok Baptis tertentu.  Tulisan ini dibuat dan dihimpun dari berbagai sumber dengan tujuan agar pembaca mengenali Umat Baptis lebih dekat.

Pdt. Daniel H. Herman, M.Th.


I love to share this
  • 1
    Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *