BAB 1. Pendahuluan

Hits: 283

Kepentingan Mempelajari Perumpamaan-Perumpamaan Yesus

Mengapa mempelajari perumpamaan-perumpamaan Yesus begitu penting? Sepertiga dari seluruh pengajaran Yesus di dalam Injil-injil Sinoptik tertulis dalam bentuk perumpamaan.[1] Jumlah perumpamaan yang disebutkan sebagai perumpamaan oleh penulis Injil mencapai sepertiga dari keseluruhan ajaran Yesus.  Belum termasuk perumpamaan-perumpamaan yang berupa cerita-cerita pendek di sana sini yang terdiri dari satu atau dua kalimat. Dapat dibayangkan jika perumpamaan-perumpamaan dikeluarkan dari Injil-injil, maka pengajaran Yesus akan banyak yang hilang.

Perumpamaan Yesus berjumlah lebih dari 40 perumpamaan.[2] Ada banyak perumpamaan dalam Injil-injil, tetapi tidak semua dalam bentuk cerita-cerita panjang.  Beberapa perumpamaan bahkan hanya merupakan cerita pendek dalam satu ayat atau satu dua frasa.  Biasanya orang memerhatikan pernyataan penulis Injil bahwa yang Yesus sampaikan adalah perumpamaan.  Tetapi perumpamaan sendiri lebih banyak dari yang dijelaskan oleh penulis Injil sebagai perumpamaan.

Tema-tema utama (Kerajaan Allah dan Akhir Zaman) dalam Injil-injil sinoptik dijelaskan dalam perumpamaan.[3] Perumpamaan-perumpamaan Yesus yang terbanyak menceritakan tentang Kerajaan Sorga/Allah dan Akhir Zaman.  Perumpamaan lainnya menjelaskan tentang karya Mesias.  Perumpamaan-perumpamaan pada intinya adalah kristologis, berpusat pada Kristus.[4] Setiap perumpamaan digunakan Yesus untuk menuntut tanggapan dari para pendengar terhadap karya-Nya sebagai Mesias.

Perumpamaan adalah bagian Alkitab yang paling sering diperlakukan dengan tidak tepat, ditata kembali, disalahgunakan, dan dipotong-potong. Bahkan lebih banyak dimanfaatkan ketimbang didengar dan dipahami.[5] Banyaknya penafsiran terhadap sebuah perumpamaan menunjukkan bahwa banyak pembaca Alkitab masa kinikeliru menggunakan metode penafsirannya terhadap perumpamaan.

 Memahami Latar Belakang Perumpamaan-Perumpamaan dalam Konteks Injil-Injil.

Situasi Yesus

Injil-injil mencatat bahwa perumpamaan-perumpamaan disampaikan Yesus dalam situasi tertentu.  Perumpamaan-perumpamaan biasanya disampaikan Yesus sebagai jawaban atau tanggapan terhadap sikap dari para penentangnya.  Terkadang Yesus mengkritik penentangnya dengan perumpamaan. Di tempat lain, Yesus mengajarkan etika dengan perumpamaan kepada orang banyak.  Kepada murid-murid-Nya sendiri, Yesus menggunakan perumpamaan untuk mengajar mereka.  Jadi situasi Yesus turut berperan besar dalam pembentukan perumpamaan-perumpamaan Yesus.  Tidak ada perumpamaan yang tidak berhubungan dengan situasi Yesus ketika Ia menyampaikan perumpamaan-perumpamaan-Nya.

Tujuan Yesus menggunakan perumpamaan merupakan hal yang paling sulit dimengerti.[6]  Hanya ada dua tempat yang menjelaskan mengapa Yesus menggunakan perumpamaan, yaitu Markus 4:10-12 dan Matius 13:11-15.  Keduanya justru membuat para pembaca Alkitab masa kini bingung mengenai tujuan-Nya.

Ketika Ia sendirian, pengikut-pengikut-Nya dan kedua belas murid itu menanyakan Dia tentang perumpamaan itu.  Jawab-Nya: “Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan, supaya: Sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun.”[7]

Tujuan penggunaan perumpamaan dalam Markus dijelaskan dengan kata “supaya” (Yunani: i[na) sedangkan dalam Matius digunakan “bahwa”  (Yunani: o[ti)

Jawab Yesus: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.  Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti.  Maka pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap.  Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka.[8]

Umat Israel, seperti dikutip Yesus dari Yesaya 6:9-10 dalam Matius 13, tidak memahami pekerjaan Yesus sebagai Mesias. Walaupun mereka melihat pekerjaan Mesias dalam diri Yesus, mereka gagal menanggapi secara positif.[9]

Tujuan utama Yesus menggunakan perumpamaan jelas, adalah agar kebenaran  tidak langsung dimengerti oleh oposisi yang selalu mencari celah untuk menyerang Yesus, tetapi orang-orang yang sungguh-sungguh mencari kebenaran akan sungguh-sungguh memikirkan makna perumpamaan dan memberi tanggapan positif.

Situasi Penulisan

Harus dipahami juga bahwa Injil-injil ditulis untuk kepentingan jemaat yang menerima-Nya.  Selain karena penganiayaan dan hukuman mati yang dialami para Rasul yang menjadi saksi mata, situasi jemaat waktu itulah yang mendorong penulisan Injil-injil. Roh Kudus mengilhami para penulis untuk menjawab keperluan para pembaca pertama Injil-injil.

Pasti ada banyak perumpamaan yang Yesus sampaikan dalam hidup-Nya.  Tetapi penulis Injil tidak memasukkan semua perumpamaan tersebut.  Hal ini terbukti dengan adanya perumpamaan tertentu dalam satu Injil tetapi tidak terdapat dalam Injil yang lainnya.  Perumpamaan-perumpamaan Yesus yang tertulis dalam Injil-injil telah diseleksi oleh para penulis Injil dengan pimpinan Roh Kudus untuk menjawab keperluan jemaat.  Jadi, tidak ada perumpamaan yang tidak memiliki hubungan dengan penerima pertama, karena untuk kepentingan penerima pertamalah perumpamaan-perumpamaan Yesus dipilih oleh penulis Injil dan ditulis dalam Injil.

Ada dua situasi jemaat yang harus diperhatikan ketika Injil-injil ditulis bahkan ketika seluruh Perjanjian Baru ditulis, yaitu penganiayaan dan semangat pengabaran Injil.  Perumpamaan-perumpamaan Yesus dipilih oleh para penulis Injil untuk menjawab keperluan ini.  Perumpamaan tertentu dipilih untuk menguatkan penerima yang mengalami penganiayaan dan perumpamaan lainnya juga dipilih untuk membakar semangat pengabaran Injil.  Kedua situasi ini harus menjadi perhatian ketika para pembaca Alkitab masa kini ingin memahami makna perumpamaan Yesus.

Juga karena Injil-injil, secara khusus Injil-injil Sinoptik ditulis sebelum atau menjelang tahun 70 Masehi maka situasi bangsa Israel sebelum tahun tersebut perlu diperhatikan.  Bait Allah belum dihancurkan, ibadah Yahudi terpusat di Bait Allah dan Yerusalem.  Sementara Bait Allah masih berdiri tegak, jemaat-jemaat Kristen tidak lagi menganggap Bait Allah dan Yerusalem sebagai pusat penyembahan  (1 Korintus 3:16)

Jenis-jenis perumpamaan

Injil-injil menuliskan perumpamaan yang digunakan Yesus dalam berbagai jenis.  Perumpamaan dalam bahasa Indonesia berasal dari kata “umpama” yang dalam bahasa Ibraninya masal atau amsal bandingkan dengan kata misal dalam bahasa Indonesia yang berasal dari kata Arab msl.  Kata Ibrani masal atau amsal berarti teka-teki dan memiliki perbandingan.[10] Kata ini dalam bahasa Yunani adalah parabole dalam bahasa Indonesia perumpamaan juga disebut parabola.

Perumpamaan-perumpamaan dalam Injil-injil memiliki berbagai bentuk.  Ada amsal (contoh dalam Luk 4:23), metafora (contoh Mat 15:13), simile (contoh Mat 10:16),perbandingan (contoh Mat 13:31-32, 33), analogi (contoh Luk 11:5-8, 15:3-7), ucapan figuratif (contoh Luk 5:36), similitude (contoh Mrk 4:30-32), narasi fiksi (contoh Mat 25:1-13),cerita ilustratif (contoh Luk 10:29-37) dan alegori (contoh Mrk 4:1-9, 13-20).[11]  Diperlukan pemahaman yang jelas untuk mengenali jenis perumpamaan Yesus.  Dengan banyak membaca dan membandingkan para pembaca Alkitab masa kini dapat mengetahui perbedaan-perbedaannya.

Tema-Tema Perumpamaan-Perumpamaan Yesus

Seperti telah dijelaskan bahwa ada banyak perumpamaan yang disampaikan Yesus, tetapi tidak semua ditulis dalam Injil. Perumpamaan tentang dua tanggapan para pendengar Firman ditujukan kepada para pendengar langsung maupun kepada para penerima pertama Injil-injil. Perumpamaan tentang Garam (Mat 5:13, Mrk 9:50, Luk 14:34-35) dan Dua Pembangun (Mat 7:24-27, Luk 6:47-49) menantang para pendengar dan juga pembaca Injil untuk memberi tanggapan terhadap ajaran Yesus dengan benar.

Perumpamaan tentang Doa, digunakan untuk mendorong para pendengar dan pembaca pertama untuk berdoa secara sungguh-sungguh dan tidak jemu-jemu. Bukan sebagai usaha untuk membujuk Allah tetapi sebagai wujud iman atas jawaban yang pasti.  Perumpanaan-perumpamaan yang  menjelaskan hal ini adalah Teman di Tengah Malam (Luk 11:5-8) dan Hakim yang Tidak Benar (Luk 18:1-8).

Dua perumpamaan tentang pengampunan yaitu Dua orang yang berhutang (Luk 7:36-50) dan Orang Farisi dan Pemungut Cukai (Luk 18:9-14) merupakan ajaran tentang kehidupan praktis bagi para pendengar maupun para penerima pertama.  Perumpamaan ini menuntut perubahan sikap para pendengar dan pembaca pertama untuk memiliki motivasi yang benar dalam mengampuni.

Perumpamaan tentang Allah dan keselamatan selalu berhubungan satu sama lain. Domba yang hilang (Luk 15:1-7), Dirham yang hilang (Luk 15:8-10), Anak yang hilang (Luk 15:11-32), Orang kaya dan Lazarus yang miskin (Luk 16:19-31) dan Menghitung Harga Mengikut Yesus (Luk 14:28-33) berbicara tentang Allah dan keselamatan yang disediakannya.

Perumpamaan tentang Mesias terlihat sangat sedikit. Perumpamaan yang secara khusus menjelaskannya hanya beberapa seperti, Anak-anak di pasar: (Mat 11 tekanan pada ay16-19; Luk 7:31-35), dan Tuan Kebun Anggur (Mat 21 tekanan pada ayat 33-41; Mrk 12:1-12; Lukas 20:9-19).  Perumpamaan yang menjelaskan akibat yang berdampak kekal atas setiap keputusan terhadap kedatangan Yesus, seperti Perjamuan Kawin (Mat 22:1-14, konteks: lihat pasal 21), Undangan Pesta (Luk 14:15-24), Gadis yang Bijaksana dan Gadis yang Bodoh (Mat 25:1-13), Hamba yang setia dan hamba yang jahat (Mat 24:45-51; Luk 12:41-46), Sepuluh hamba dan sepuluh uang mina (Luk 19:11-27), Talenta (Mat 25:14-30), dan Penghakiman terakhir (Mat 25:31-46) serta Pohon Ara di Kebun Anggur (Luk 13:6-9).  Perumpamaan-perumpamaan lain walaupun tidak bertopik Mesias, tetap berfokus pada Kristus sebagai porosnya.

Perumpamaan tentang Kerajaan Allah/Surga dan perumpamaan tentang akhir zaman adalah perumpamaan terbanyak dan tersebar dalam Injil-injil sinoptik.  Keduanya berhubungan dan terkadang menjadi satu perumpamaan dengan dua tema.  Perumpamaan-perumpamaan yang bertema pemerintahan Allah, tetapi dapat juga termasuk dalam tema akhir zaman adalah Anggur Baru dan Kantong Tua, serta Baju Tua dan Kain Penambal Baru (Mrk 2:21-22) dan Benih (Mrk 4:26-29), Penabur (Mat 13:1-9; Mrk 4:1-9; Luk 8:4-8), Lalang dan gandum (Mat 13:24-30, 36-43), Biji Sesawi (Mat 13:31-32; Mrk 4:30-34; Luk 13:20-21), Ragi (Mat 13:33; Luk 13:20-21), Harta Terpendam (Mat13:44), Mutiara yang Berharga (Mat 13:45-46), Pukat (Mat 13:47-50), Pekerja Kebun Anggur (Mat 20:1-16), Dua Orang Anak (Mat 21, tekanan pada ay 28-32).

Perumpamaan tentang akhir zaman, antara lain Pohon Ara (Mat 24:33-46; Mrk 13:28-31; Luk 21:29-33), Hamba yang berjaga-jaga (Mrk 13:32-37; Luk 12:35-38), Tuan Rumah dan Pencuri (Luk 24:42-44).

Perumpamaan lain dengan tema tertentu tidak banyak jumlahnya seperti, Orang Samaria yang Murah Hati (Luk 10:25-37), Ketamakan (Luk 12:13-21), Tempat Terhormat (Luk 14:7-14), Bendahara yang tidak jujur (Luk 16:1-9), dan Pelayanan seorang hamba (Luk 17:7-10).

Berbagai Model Penafsiran terhadap Perumpamaan-Perumpamaan Yesus

Sejarah menunjukkan telah terdapat empat pendekatan Hermeunetik dalam penafsiran perumpamaan, pengalegorian, moralisasi, pendekatan zits im leben dan pendekatan estetis atau sastera.[12]  Keempatnya merupakan metode-metode yang telah digunakan. Tidak ada satu metode pun yang dapat dikatakan paling benar dalam menafsirkan perumpamaan-perumpamaan tersebut.

Metode pengalegorian telah lama dipakai oleh Bapa-bapa Gereja.  Memang dalam Injil-injil terdapat juga perumpamaan yang harus dialegorikan secara positif.  Para pembaca Alkitab masa kini harus benar-benar selektif menentukan metode penafsirannya.  Osborne menjelaskan bahwa pendekatan zits im leben dan pendekatan estetis atau sastera adalah metode yang terbaik.[13]  Pendekatan moralisasi sebaiknya tidak dipakai karena pendekatan ini sangat jauh dari konteks dan menekankan makna bagi pembaca Alkitab masa kini saja tanpa memerhatikan maksud penulis dan keperluan pembaca pertama di masa lalu.

Prinsip-Prinsip dan Langkah-Langkah Penafsiran Perumpamaan-Perumpamaan Yesus.

Prinsip-prinsip

Beberapa prinsip berikut harus menjadi pedoman dalam menafsirkan perumpamaan Yesus,

  1. Metode pengalegorian telah lama digunakan oleh Bapa-bapa gereja dalam menafsirkan perumpamaan-perumpamaan Yesus. Pembaca Alkitab masa kini hanya dapat menggunakan alegori jika perumpamaan tersebut memang harus ditafsirkan secara demikian. Hanya beberapa perumpamaan saja yang harus ditafsirkan secara alegori. Jadi tidak semua perumpamaan dapat ditafsirkan secara alegori.
  2. Moralisasi juga pernah dipakai dalam sejarah penafsiran. Moralisasi terhadap sebuah perumpamaan, serohani apapun pesannya sebaiknya tidak digunakan. Karena hanya melihat keperluan masa kini, tanpa melihat konteks dan keperluan masa lalu, baik konteks dan keperluan pendengar langsung maupun konteks dan keperluan pembaca pertama.
  3. Jangan menggunakan perumpamaan untuk membentuk dogma, jika tidak didukung oleh bagian-bagian Alkitab lain yang bukan perumpamaan.[14] Yesus sering meminjam pandangan yang berlaku umum dalam masyarakat untuk menjelaskan kebenaran tertentu dalam perumpamaan.  Jika perumpamaan akan dipakai sebagai pendukung dogma sebaiknya hanya sebagai pendukung sekunder dan bukan sebagai pendukung utama apalagi menjadikannya sebagai acuan utama dogma.  Perhatikan dengan seksama konteks dan makna bagi pendengar langsung dan bagi pembaca pertama.
  4. Khotbahkan perumpamaan secara utuh. Jangan memotong penjelasan tentang sebuah perumpamaan di tengah jalan.[15] Atau mengambil sebagian ayatnya untuk mendukung ide khotbah. Banyak pengkhotbah memanfaatkan sebagian atau keseluruhan perumpamaan hanya untuk mendukung ide pribadinya tanpa memerhatikan ide perumpamaan berdasarkan konteks yang sesungguhnya.

Langkah-langkah Penafsiran

Makna perumpamaan akan dapat dipahami dengan benar jika langkah-langkah yang digunakan untuk memahaminya juga benar.  Berikut adalah sebuah saran langkah-langkah menafsirkan perumpamaan

  1. Membuat struktur perumpamaan;
  2. Memahami situasi dan tujuan Yesus (konteks langsung, konteks sekitar, konteks kitab);
  3. Memahami keperluan pendengar langsung dan makna perumpamaan bagi pendengar langsung;
  4. Memahami situasi pembaca pertama dan tujuan penulis;
  5. Memahami keperluan pembaca pertama dan makna perumpamaan bagi pembaca pertama;
  6. Membuat sintesis dan menemukan kebenaran universal;
  7. Menentukan situasi dan keperluan pembaca masa kini serta makna perumpamaan bagi pembaca masa kini yang terjawab oleh Kebenaran Universal
  1. Struktur perumpamaan

Buatlah struktur perumpamaan.  Perumpamaan-perumpamaan terkadang membentuk struktur tertentu yang disebut chiasm atau model struktur lainnya.  Membuat struktur perumpamaan sangat membantu menentukan tekanan dan makna dari sebuah perumpamaan.

Struktur perumpamaan akan membantu kita memahami perumpamaan tersebut dan juga membantu kita dalam mempersiapkan khotbah atau renungan dan pelajaran tentang perumpamaan Yesus.

  1. Situasi dan Tujuan Yesus

Berusahalah untuk memahami situasi Yesus ketika Ia menyampaikan perumpamaan-Nya. Perhatikan siapa pendengar-Nya atau kepada siapa perumpamaan tersebut ditujukan.  Biasanya para pendengar dapat dibagi atas tiga kelompok, yaitu orang banyak, murid-murid dan oposisi. Memahami situasi Yesus merupakan langkah penting dalam penafsiran perumpamaan.

Berusahalah untuk mencari tujuan Yesus ketika ia menyampaikan perumpamaan tersebut, apa hubungan dan kepentingan perumpamaan tersebut bagi para pendengar-Nya.  Adakah pertanyaan, tantangan atau persoalan yang menyebabkan Yesus menanggapi atau menjawab pertanyaan tersebut dengan perumpamaan.  Perhatikan juga tantangan atau tanggapan yang Yesus harapkan dari para pendengarnya.

  1. Keperluan Pendengar Langsung dan Makna Perumpamaan bagi Pendengar Langsung.

Selidikilah paradigma para Pendengar langsung tentang unsur-unsur utama dalam perumpamaan.  Carilah makna perumpamaan bagi para pendengar perumpamaan tersebut, yaitu para pendengar yang mendengar langsung perumpamaan dari mulut Yesus, baik orang banyak, murid-murid-Nya atau pun oposisi-Nya.  Hubungkanlah situasi Yesus dan tujuan Yesus dengan makna yang seharusnya ada dalam perumpamaan tersebut.

  1. Situasi Pembaca Pertama dan Tujuan Penulis

Biasanya Injil-injil ditulis dalam situasi jemaat mengalami penganiayaan oleh orang-orang Yahudi dan semangat pengabaran Injil yang luar biasa.  Keperluan lain pembaca pertama juga harus dicari dalam hubungan dengan perumpamaan yang diteliti.

Lihatlah hubungan perumpamaan tersebut dengan pembaca pertama dan carilah pentingnya perumpamaan tersebut bagi pembaca pertama.  Penulis Injil oleh pimpinan Roh Kudus telah memilih memasukkan dalam Injil yang ditulisnya perumpamaan-perumpamaan Yesus untuk menjawab keperluan pembaca pertama.  Jadi tujuan penulis bagi pembaca pertama juga menentukan makna perumpamaan tersebut.

  1. Keperluan Pembaca Pertama dan Makna Perumpamaan bagi Pembaca Pertama.

Para pembaca pertama adalah sasaran penulis Injil, oleh karena itu manfaat makna perumpamaan Yesus bagi pembaca pertama penting untuk dipahami.  Makna perumpamaan bagi para pembaca pertama biasanya tidak jauh berbeda dengan makna perumpamaan bagi para pendengar langsung perumpamaan tersebut.

Hubungkan situasi penerima saat itu dengan makna perumpamaan tersebut.  Perhatikan hubungan antara perumpamaan Yesus dengan penerima pertama dan kepentingan dari makna perumpamaan Yesus bagi penerima pertama.  Menemukan manfaat makna perumpamaan Yesus bagi penerima pertama adalah tugas yang harus dilakukan sebelum beranjak pada penerapan.

  1. Kebenaran Universal (Sintesis).

Setiap ajaran Yesus mengandung kebenaran universal yang berlaku di segala tempat dan pada segala zaman.  Demikian juga dalam perumpamaan-perumpamaan-Nya terdapat kebenaran yang dapat diterapkan pada masa lalu, masa kini dan masa depan.  Tetapi tidak setiap hal dalam perumpamaan dapat dianggap kebenaran yang universal.  Pembaca Alkitab masa kini harus selektif dalam menentukan kebenaran-kebenaran dalam makna perumpamaan untuk diterapkan pada masa kini.

  1. Perbedaan Situasi (Situasi dan Keperluan Pembaca Masa Kini) serta makna perumpamaan bagi pembaca masa kini.

 

Untuk dapat membuat penerapan dari makna perumpamaan-perumpamaan Yesus, pembaca masa kini harus melihat, pertama-tama, perbedaan konteks dan situasi Yesus dan situasi penerima pertama Injil-injil dengan situasi pembaca masa kini saat ini.  Perbedaan-perbedaan yang ada jelas akan menentukan kepentingan ajaran Yesus dalam perumpamaan-perumpamaan bagi pembaca masa kini.

Ada banyak perbedaan situasi di antara Yesus, penerima pertama dan pembaca Alkitab masa kini. Perbedaan-perbedaan seperti bahasa, budaya, politik, ekonomi, latar belakang kepercayaan, waktu, bangsa, hukum dan lain-lain.  Semua perbedaan itu seakan-akan menjadi jurang-jurang pemisah yang akan membuat pembaca masa kini dapat keliru dalam menerapkan kebenaran ajaran-ajaran Yesus.  Karena itu pembaca masa kini perlu “mengukur” perbedaan-perbedaan tersebut.

Keperluan pembaca pertama harus dipikirkan secara mendalam dalam hubungan dengan makna perumpamaan bagi situasi Yesus dan situasi pembaca pertama.  Makna perumpamaan bagi situasi Yesus dan situasi pembaca pertamalah yang harus menjadi patokan untuk melihat keperluan masa kini yang terjawab baik secara langsung maupun tidak langsung oleh perumpamaan Yesus, bukan sebaliknya.

MENGKHOTBAHKAN PERUMPAMAAN

Mengkhotbahkan perumpamaan memerlukan  cara yang khusus.  Perumpamaan berbeda dengan epistel[16] karena itu memerlukan penanganan yang berbeda untuk menyusun dan menyampaikan perumpamaan.

Prinsip-Prinsip Mengkhotbahkan Perumpamaan

  1. Jangan mengkontekstualisasi perumpamaan sampai setiap detailnya.
  2. Beberapa perumpamaan dapat dikembangkan menjadi penjelasan berdasarkan strukturnya, tetapi tidak semua dapat dibuat seperti itu.
  3. Mendramatisir perumpamaan adalah satu cara yang menarik. Ceritakan kembali perumpamaan dengan detail yang dalam berdasarkan latar belakang sosial dan budaya masyarakat Yahudi.
  4. Tekankan perumpamaan pada pesan intinya saja. Sangat keliru jika menafsirkan perumpamaan sampai kepada detail-detailnya, kecuali perumpamaan yang bersifat alegori yang jumlahnya hanya beberapa saja.
  5. Berkhotbah bukanlah menyampaikan hasil penafsiran jadi jangan berkhotbah dengan menyampaikan semua fakta selengkap-lengkapnya. Seleksilah yang terpenting, gunakan pertanyaan ini “apakah fakta ini sangat penting untuk dimasukkan dalam khotbah?”

Menyusun Khotbah Perumpamaan

Menyusun khotbah perumpamaan pada dasarnya tidak berbeda dengan penyusunan khotbah-khotbah pada umumnya, tetapi khotbah perumpamaan memiliki keunikan tersendiri untuk penyampaiannya.  Setelah membuat penafsiran, proses menyusun khotbah perumpamaan dapat mengikuti langkah-langkah berikut[17]

  1. Luangkan waktu dan berdoalah. Bacalah penafsiran yang telah dibuat dengan merenungkannya secara mendalam dalam suasana doa.  Menemukan kebenaran dalam perumpamaan adalah tugas yang berat, tetapi menyampaikan kebenaran dalam perumpamaan kepada jemaat memiliki tanggung jawab lebih berat.

Pesan perumpamaan yang kita temukan mungkin benar tetapi pesan yang benar ini dipahami jemaat dengan pembiasan.  Perbedaan latar belakang pendengar dapat membuat maknanya berbeda.  Mungkin pendengar pernah membaca tafsiran atau mendengarkan khotbah dari teks yang sama tetapi disampaikan dengan makna yang berbeda atau mungkin juga makna yang disampaikan oleh pengkhotbah sebelumnya sama tetapi disampaikan dengan cara yang kurang tepat sehingga pendengar salah menangkap maksud pengkhotbah sebelumnya. Jadi pertolongan Roh Kudus diperlukan untuk menemukan cara yang tepat dalam menyampaian khotbah perumpamaan.

  1. Tetapkan tujuan khotbah berdasarkan makna perumpamaan yang telah ditemukan. Kemungkinan ada beberapa tema kebenaran dalam perumpamaan. Pilihlah satu saja untuk disampaikan. Jangan menyampaikan semua tema kebenaran yang ada dalam perumpamaan. Karena otak manusia memiliki keterbatasan waktu untuk mendengar dan mengolah informasi.
  2. Tetapkan sasaran khotbah. Berdasarkan penemuan makna perumpamaan, apa respon yang Allah inginkan dari setiap pendengar khotbah. Sasaran yang dimaksud adalah, tindakan atau sikap apa yang diharapkan akan dipahami dan atau dilakukan oleh pendengar setelah mendengar khotbah.
  3. Buatlah struktur khotbah berdasarkan pokok-pokok utama dalam perumpamaan tersebut.
  4. Jelaskan kebenaran dalam setiap pokok disertai dengan latar belakangnya.
  5. Jelaskan makna setiap pokok dari perumpamaan tersebut, baik bagi pendengar langsung, bagi pembaca pertama dan bagi pembaca masa kini.
  6. Kuatkan penjelasan dengan menekankan kata-kata, frasa-frasa atau kalimat-kalimat penting dalam perumpamaan tersebut. Khusus untuk ayat Alkitab gunakan ayat yang benar-benar memiliki hubungan dengan perumpamaan tersebut, misalnya perumpamaan tentang Kerajaan Allah/Sorga dapat menggunakan ayat-ayat tentang hal yang sama dalam Injil-injil dan Epistel.
  7. Buatlah penerapan untuk setiap pokok utama. Penerapan dapat juga diletakkan pada akhir khotbah. Bagian ini lebih fleksibel. Penerapan dapat berupa penerapan langsung dengan menggunakan ungkapan-ungkapan “Maukah Anda,…”  “maukah Bapak/Ibu/Saudara,…” atau berupa penerapan tidak langsung dengan menggunakan ungkapan-ungkapan “setiap orang percaya seharusnya….”
  8. Buatlah kalimat-kalimat peralihan untuk setiap pokok utama. Kalimat peralihan dapat berupa pertanyaan atau ringkasan pokok-pokok sebelumnya diikuti dengan pokok kebenaran selanjutnya.
  9. Buatlah kesimpulan khotbah. Kesimpulan khotbah dapat berupa ringkasan makna perumpamaan, pesan inti atau jawaban atas pertanyaan-pertanyaan.
  10. Buatlah pendahuluan khotbah. Pendahuluan dapat berupa pertanyaan-pertanyaan, tantangan untuk melakukan sesuatu yang kemudian ditanyakan lagi pada kesimpulan khotbah atau ceritakan perumpamaan dengan kata-kata sendiri yang lebih didramatisir.  Khusus untuk mendramatisir perumpamaan, buatlah seolah-olah pengkhotbah dan pendengar hadir dalam situasi Yesus ketika menyampaikan perumpamaan.

[1] Grant S. Osborn, Spiral Hermeneutik:Pengantar Komprehensif bagi Penafsiran Alkitab, pen. Elifas Gani. Cet. pertama. (Surabaya: Penerbit Momentum, 2012), 348

[2] Simon J. Kistemaker mendaftarkan 40 perumpamaan Lihat daftar isi dalam Simon J. Kistemaker, Perumpamaan-perumpamaan Yesus. pen.Esther Sri Astuti dkk. Cet pertama. (Malang: SAAT, 2001), v-vii.

[3] George Eldon Ladd menjelaskan dalam bagian pertama bukunya di bawah judul Injil Sinopsis bahwa Kerajaan Allah adalah pusat pemberitaan Yesus. Lihat Ladd, Teologi Perjanjian Baru, jilid 1. pen. Urbanus Selan dan Henry Lantang. Cet ke-2.  (Bandung: Kalam Hidup, 2002), 72

[4] Osborne, Spiral Hermeneutik, 360

[5] Ibid., 347 mengutip Klyne Snodgrass, dalam Modern Approach to the Parables, peny. S. McKnight dan G. R. Osborne, (Grand Rapids: Baker, t.t.), 177-90

[6] Ibid., 351-2

[7] Markus 4:10-12

[8] Matius 13:11-15

[9] Osborne, Spiral Hermeneutik, 352

[10] Osborne, Spiral Hermeneutik, 348

[11] ibid, 349

[12] Osborne, Spiral Hermeneutik, 362

[13] Ibid.

[14] Osborne, Spiral Hermeneutik, 368

[15] Ibid., 369

[16] Surat-surat kiriman.

[17] Dimodifikasi dari Gordon D. Fee, Eksegesis Perjanjian Baru: Sebuah Buku Pegangan bagi Mahasiswa dan Pelayan Gerejawi, pen. Andreas Hauw, edisi ke-3, cet. ke-2. (Malang: Literatur SAAT, 2011), 185-8.